Harga Bitcoin Oktober 2026: Berpeluang ke US$100.000 atau Turun ke US$76.000?
Harga Bitcoin (BTC) mengawali Oktober 2026 di kisaran US$85.000 setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan meningkatkan harapan pasar terhadap Federal Reserve (The Fed). Namun, peluang Bitcoin kembali menuju US$95.000 hingga US$100.000 tidak hanya bergantung pada keputusan suku bunga.
Bitcoin memulai Oktober di atas US$85.000 setelah laporan ketenagakerjaan AS memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan pada 2 Oktober 2026 bahwa jumlah tenaga kerja nonpertanian hanya bertambah 29.000 pada September. Sementara itu, tingkat pengangguran berada di level 4,2%.
Setelah data tersebut dirilis, harga Bitcoin sempat naik di atas US$87.000 sebelum kembali bergerak di kisaran pertengahan US$80.000.
Berdasarkan data CoinGecko pada 5 Oktober 2026, harga Bitcoin berada di sekitar US$85.360. Kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai sekitar US$1,72 triliun dengan volume perdagangan 24 jam sekitar US$14,4 miliar.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Pasar
Laporan tenaga kerja September menunjukkan perlambatan perekrutan di AS. Kondisi tersebut mengurangi tekanan bagi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga.
Namun, data ketenagakerjaan yang lemah tidak otomatis memastikan The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang tahun.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan pada 27-28 Oktober 2026. Keputusan suku bunga dan konferensi pers akan berlangsung pada 28 Oktober.
Jika The Fed mempertahankan suku bunga dan memberikan sinyal yang lebih lunak, aset berisiko seperti Bitcoin berpotensi mendapatkan sentimen positif.
Sebaliknya, apabila bank sentral AS kembali memberikan sinyal hawkish karena inflasi masih tinggi, tekanan terhadap Bitcoin dapat meningkat.
Dengan demikian, keputusan suku bunga menjadi salah satu faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penentu arah Bitcoin pada Oktober.
Inflasi AS Menjadi Katalis Berikutnya
Setelah data tenaga kerja, perhatian investor akan beralih ke data inflasi AS.
BLS dijadwalkan merilis data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) September pada 14 Oktober. Sehari setelahnya, data Producer Price Index (PPI) juga akan dirilis.
Data tersebut penting karena dapat memengaruhi keputusan investor dalam memperkirakan kebijakan moneter The Fed.
Jika inflasi menunjukkan perlambatan, peluang The Fed mempertahankan suku bunga dapat semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi Bitcoin dan aset berisiko lainnya untuk menguat.
Namun, jika inflasi kembali tinggi, pasar dapat memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Data PCE Keluar Setelah Keputusan The Fed
Hal menarik terjadi pada akhir Oktober. Data Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi pilihan The Fed, dijadwalkan keluar pada 29 Oktober.
Artinya, data PCE September baru dirilis sehari setelah keputusan The Fed pada 28 Oktober.
Kondisi ini membuat pasar menghadapi dua katalis berbeda.
Pertama, investor akan melihat keputusan dan pernyataan The Fed. Kedua, pasar akan mendapatkan data PCE terbaru sehari kemudian.
Pada laporan sebelumnya, BEA mencatat indeks PCE utama naik 0,3% secara bulanan pada Agustus, sedangkan core PCE meningkat 0,2%.
Jika data PCE September kembali menunjukkan tekanan inflasi, investor dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed berikutnya.
Sebaliknya, angka inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat harapan bahwa tekanan kenaikan suku bunga semakin berkurang.
Arus Dana ETF Bitcoin Perlu Diperhatikan
Selain kebijakan The Fed, arus dana ETF Bitcoin spot di AS menjadi indikator penting untuk melihat kekuatan permintaan.
Data Farside menunjukkan ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar bersih sekitar US$148,7 juta pada 30 September. Sehari kemudian, terjadi arus masuk sekitar US$102,7 juta.
Jika kedua hari tersebut digabungkan, terdapat arus keluar bersih sekitar US$46 juta.
Namun, angka tersebut hanya menggambarkan periode yang sangat pendek. Data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan apakah investor akan terus membeli Bitcoin sepanjang Oktober.
Arus dana ETF perlu dilihat secara berkelanjutan. Jika harga Bitcoin naik dan ETF terus mencatat arus dana masuk, hal tersebut dapat menjadi tanda bahwa kenaikan didukung permintaan spot.
Sebaliknya, kenaikan harga yang hanya dipicu oleh aksi beli jangka pendek atau short covering akan lebih rentan mengalami koreksi.
Bitcoin Berpeluang Naik ke US$95.000-US$100.000
Skenario bullish Bitcoin pada Oktober 2026 terbuka apabila harga mampu mempertahankan level US$85.000 dan kemudian menembus US$87.000 hingga US$90.000.
Dari harga acuan US$85.360, Bitcoin perlu naik sekitar 11,3% untuk mencapai US$95.000.
Sementara untuk mencapai US$100.000, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 17,2%.
Level US$100.000 menjadi target psikologis penting karena merupakan angka bulat yang menjadi perhatian banyak investor.
Namun, kenaikan menuju level tersebut membutuhkan dukungan permintaan yang lebih kuat.
Beberapa faktor yang dapat memperkuat skenario bullish antara lain arus masuk ETF yang konsisten, inflasi AS yang lebih rendah, imbal hasil obligasi yang tidak meningkat tajam, serta meningkatnya permintaan Bitcoin di pasar spot.
Jika Bitcoin hanya naik karena aksi short covering, kenaikan tersebut belum tentu bertahan lama.
Harga Bitcoin Bisa Turun ke US$76.000
Di sisi lain, Bitcoin menghadapi risiko koreksi apabila gagal mempertahankan level US$82.000.
Level US$82.000 menjadi area penting karena penurunan di bawahnya dapat membuka peluang Bitcoin kembali menguji area perdagangan September.
Jika tekanan jual berlanjut dan level US$80.000 ikut ditembus, Bitcoin berpotensi bergerak menuju US$76.000.
Dari harga US$85.360, penurunan menuju US$80.000 berarti koreksi sekitar 6,3%.
Sementara penurunan menuju US$76.000 berarti Bitcoin kehilangan sekitar 11% dari level tersebut.
Tekanan terhadap Bitcoin dapat semakin besar apabila terjadi kombinasi arus keluar ETF, kenaikan imbal hasil obligasi AS, penguatan dolar AS, serta meningkatnya aksi jual di pasar derivatif.
Namun, level US$76.000 bukan batas maksimal penurunan. Jika terjadi kejutan besar di pasar global, Bitcoin tetap dapat bergerak lebih rendah.
Skenario Tengah Bitcoin di Oktober 2026
Selain skenario bullish dan bearish, Bitcoin juga berpotensi bergerak dalam rentang yang lebih luas tanpa menentukan arah secara jelas.
Kisaran US$80.000 hingga US$95.000 dapat menjadi area tengah yang perlu diperhatikan investor.
Bitcoin dapat sempat menembus US$90.000, kemudian terkoreksi setelah rilis data inflasi. Sebaliknya, harga juga dapat turun mendekati US$82.000 sebelum kembali dibeli investor.
Skenario tersebut dapat terjadi apabila data ekonomi AS memberikan sinyal yang beragam.
Pertumbuhan tenaga kerja yang melemah dapat meningkatkan harapan penurunan tekanan suku bunga. Namun, inflasi yang tetap tinggi dapat membuat The Fed tetap berhati-hati.
Kapitalisasi Pasar Bukan Berarti Uang Masuk Sebesar Itu
Pada harga sekitar US$85.360, kapitalisasi pasar Bitcoin berada di kisaran US$1,72 triliun.
Jika jumlah Bitcoin yang beredar dianggap relatif tetap, kapitalisasi pasar dapat mencapai sekitar US$2,01 triliun jika harga menyentuh US$100.000.
Sebaliknya, kapitalisasi pasar dapat turun menjadi sekitar US$1,53 triliun jika harga jatuh ke US$76.000.
Namun, kenaikan kapitalisasi pasar bukan berarti ada uang baru sebesar selisih tersebut yang masuk ke pasar.
Kapitalisasi pasar dihitung berdasarkan harga Bitcoin terakhir dikalikan dengan jumlah Bitcoin yang beredar. Karena itu, kenaikan harga dapat meningkatkan nilai kapitalisasi seluruh Bitcoin meskipun hanya sebagian kecil Bitcoin yang berpindah tangan.
Hal yang sama berlaku untuk ETF. Kenaikan nilai aset ETF tidak selalu berarti investor memasukkan dana baru dalam jumlah yang sama.
Apa yang Harus Diperhatikan Investor?
Ada beberapa indikator utama yang dapat menentukan arah Bitcoin sepanjang Oktober 2026.
Pertama adalah level harga US$82.000. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pemulihan tetap terbuka.
Kedua adalah US$90.000. Penembusan dan kemampuan bertahan di atas level ini dapat memperkuat momentum menuju US$95.000 hingga US$100.000.
Ketiga adalah arus dana ETF Bitcoin spot. Arus masuk yang konsisten akan menjadi sinyal bahwa kenaikan harga mendapatkan dukungan permintaan baru.
Keempat adalah data inflasi AS, terutama CPI pada 14 Oktober dan PCE pada 29 Oktober.
Kelima adalah keputusan The Fed pada 28 Oktober. Investor tidak hanya perlu melihat apakah suku bunga berubah, tetapi juga memperhatikan pernyataan bank sentral mengenai prospek inflasi dan kebijakan berikutnya.
Prospek Bitcoin Oktober 2026
Dengan harga Bitcoin berada di sekitar US$85.000 pada awal Oktober, pasar saat ini berada di titik penting.
Skenario bullish membuka peluang Bitcoin menuju US$95.000 hingga US$100.000 apabila permintaan spot dan arus dana ETF terus meningkat, sementara data inflasi memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan yang lebih longgar.
Sebaliknya, kegagalan mempertahankan US$82.000 dapat membuka jalan menuju US$80.000 hingga US$76.000.
Karena itu, arah Bitcoin pada Oktober 2026 kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh satu keputusan The Fed. Data inflasi, arus dana ETF, imbal hasil obligasi, kondisi dolar AS, pasar derivatif, dan kekuatan permintaan spot akan menjadi faktor penting.
Untuk saat ini, US$82.000 menjadi area support penting, sedangkan US$90.000 menjadi level yang perlu ditembus Bitcoin untuk membuka peluang menuju US$95.000-US$100.000.
0 Comments