Inflasi AS Naik ke 3,3%, Bitcoin Melonjak Tembus $72.000 Setelah Data CPI
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (U.S. Bureau of Labor Statistics) melaporkan bahwa inflasi Consumer Price Index (CPI) naik 0,9% pada bulan Maret dibanding bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi naik 3,3%, masih berada di atas target 2% dari bank sentral AS.
Sebagian besar kenaikan ini disebabkan oleh biaya energi yang lebih tinggi. Indeks energi naik hampir 11% pada bulan Maret, sementara harga bensin melonjak 21,2%. Ini membuat harga bahan bakar menjadi penyumbang utama kenaikan inflasi.
Bulan Maret juga menjadi bulan pertama penuh di mana konflik AS-Iran ikut mempengaruhi data inflasi. Kenaikan harga energi mendorong inflasi lebih tinggi dibanding Februari, ketika CPI hanya naik 0,3% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan.
Namun, inflasi inti (core inflation), yaitu inflasi yang tidak termasuk harga makanan dan energi, sedikit lebih rendah dari perkiraan. Inflasi inti naik 2,6% secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 2,7%. Ini menunjukkan bahwa kenaikan harga di sektor lain masih relatif stabil, meskipun harga energi melonjak.
Laporan inflasi ini juga membuat pasar semakin fokus pada keputusan suku bunga berikutnya dari bank sentral AS (Federal Reserve). Karena inflasi masih di atas target, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap. Data pasar dari CME FedWatch Tool menunjukkan peluang 98,4% bahwa suku bunga tidak berubah pada pertemuan berikutnya.
Di pasar crypto, Bitcoin bergerak naik setelah data CPI dirilis. Harga sempat menyentuh level $73.000 dan tetap bertahan di atas $72.000.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar $72.780, naik 1% dalam 24 jam terakhir dan 9% dalam tujuh hari terakhir.
0 Comments