Mengapa Studi Bank dan Crypto Sangat Berbeda soal Risiko Yield Stablecoin

Mengapa Studi Bank dan Crypto Sangat Berbeda soal Risiko Yield Stablecoin

cPerdebatan mengenai apakah stablecoin boleh memberikan bunga atau yield kini menjadi hambatan terbesar bagi pengesahan Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) di Senat AS. Hingga saat ini, Komite Perbankan Senat bahkan belum menjadwalkan pembahasan resmi untuk RUU tersebut.

Pada 8 April 2026, Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih (CEA) merilis laporan yang menyatakan bahwa risiko dari stablecoin berbunga relatif kecil. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa jika stablecoin dilarang memberikan yield, peningkatan penyaluran kredit bank hanya sekitar US$2,1 miliar atau 0,02%. Untuk bank komunitas, dampaknya bahkan lebih kecil, sekitar US$500 juta. Bahkan dalam skenario ekstrem di mana pasar stablecoin tumbuh sangat besar, peningkatan kredit hanya mencapai sekitar 4,4%.

Namun, kelompok perbankan seperti American Bankers Association (ABA) tidak setuju dengan kesimpulan ini. Mereka menilai analisis tersebut terlalu fokus pada kondisi saat ini, dan tidak mempertimbangkan dampak jangka panjang jika stablecoin berkembang pesat dan mulai menawarkan yield secara luas. Menurut mereka, risiko terbesar justru ada di masa depan.

Perbedaan pandangan ini memicu perdebatan besar di Washington. Berbagai studi dari Federal Reserve, akademisi, dan industri menunjukkan hasil yang berbeda-beda, terutama terkait potensi perpindahan dana dari bank ke stablecoin.

Sejumlah penelitian dari Federal Reserve dan akademisi memperingatkan bahwa stablecoin yang memberikan yield bisa mengurangi simpanan di bank secara signifikan. Salah satu studi dari New York Fed menemukan bahwa kerja sama antara bank dan penerbit stablecoin dapat meningkatkan aktivitas pembayaran, tetapi juga membuat dana di bank menjadi lebih tidak stabil. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa penyaluran kredit bisa menurun setelah kerja sama tersebut terjadi.

Penelitian lain dari ekonom Federal Reserve memperkirakan bahwa jika masyarakat memindahkan dana dari bank ke stablecoin, maka simpanan bank bisa turun drastis. Dampaknya, penyaluran kredit bisa berkurang mulai dari puluhan miliar hingga lebih dari satu triliun dolar, tergantung skenarionya. Selain itu, jika stablecoin menawarkan reward atau bunga, masyarakat akan semakin terdorong untuk meninggalkan rekening bank tradisional.

Penelitian lainnya juga mendukung temuan ini. Beberapa model menunjukkan bahwa jika stablecoin menawarkan yield yang kompetitif, bank bisa kehilangan sebagian besar simpanannya. Hal ini akan meningkatkan biaya dana bagi bank, yang pada akhirnya membuat bunga pinjaman menjadi lebih mahal, terutama bagi pelaku usaha kecil dan sektor pertanian. Bank komunitas disebut sebagai pihak yang paling terdampak.

Laporan dari kelompok industri seperti Bank Policy Institute dan Independent Community Bankers of America juga memperingatkan risiko besar terhadap simpanan dan penyaluran kredit jika stablecoin mulai memberikan bunga. Mereka menilai hal ini bisa melemahkan sistem perbankan tradisional secara signifikan.

Namun, tidak semua penelitian memiliki kesimpulan yang sama. Beberapa studi yang didukung oleh pelaku industri crypto menyatakan bahwa hingga saat ini, stablecoin belum menyebabkan arus keluar dana besar dari bank. Mereka juga berpendapat bahwa risiko baru akan muncul jika stablecoin menawarkan bunga yang sangat tinggi. Dengan kata lain, dalam kondisi saat ini, dampaknya masih terbatas.

Secara keseluruhan, terdapat dua pandangan utama. Satu pihak meyakini bahwa stablecoin berbunga dapat menarik dana besar dari bank dan mengurangi penyaluran kredit. Sementara pihak lain menilai risikonya masih kecil dan sangat bergantung pada perkembangan pasar ke depan.

Seiring berlanjutnya pembahasan CLARITY Act, para pembuat kebijakan kini berupaya mencari keseimbangan antara mendorong inovasi di sektor pembayaran digital dan menjaga stabilitas sistem perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian.