PT Link Net Tbk (LINK) Mencatat Pendapatan Sebesar Rp3,08 Triliun Sepanjang Tahun 2025

PT Link Net Tbk (LINK) Mencatat Pendapatan Sebesar Rp3,08 Triliun Sepanjang Tahun 2025

PT Link Net Tbk (LINK) membukukan kinerja keuangan yang cenderung beragam sepanjang tahun buku 2025. Di satu sisi, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang solid, namun di sisi lain tekanan biaya operasional dan beban keuangan membuat kerugian bersih semakin melebar dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (16/2/2026), Link Net mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,08 triliun sepanjang 2025. Capaian ini meningkat 22,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,52 triliun. Kenaikan pendapatan tersebut sejalan dengan upaya perseroan memperluas layanan fixed broadband, peningkatan pelanggan rumah tangga, serta optimalisasi jaringan berbasis fiber optik di sejumlah wilayah strategis.

Namun, peningkatan pendapatan tersebut diiringi lonjakan signifikan pada sisi biaya. Perseroan mencatat beban jaringan dan beban langsung lainnya meningkat tajam 44,58% menjadi Rp 1,53 triliun, dibandingkan Rp 1,06 triliun pada 2024. Kenaikan beban ini terutama dipengaruhi oleh biaya pemeliharaan jaringan, ekspansi infrastruktur, serta peningkatan kebutuhan bandwidth seiring pertumbuhan trafik data.

Di sisi lain, beban umum dan administrasi justru berhasil ditekan. Beban ini turun 15,16% menjadi Rp 393,23 miliar pada 2025 dari sebelumnya Rp 452,87 miliar. Efisiensi operasional dan pengendalian biaya internal menjadi salah satu faktor utama penurunan tersebut. Selain itu, beban keuangan juga mengalami penurunan dari Rp 632,39 miliar pada 2024 menjadi Rp 514 miliar pada 2025, seiring dengan pengelolaan struktur utang yang lebih optimal.

Meski demikian, tekanan biaya yang tinggi membuat rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru meningkat. Sepanjang 2025, Link Net mencatat kerugian sebesar Rp 1,44 triliun, naik 22,24% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,18 triliun. Sejalan dengan itu, rugi per saham juga meningkat menjadi 527, dari 431 pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, kondisi keuangan perseroan menunjukkan adanya tekanan. Ekuitas tercatat turun 29,08% menjadi Rp 3,54 triliun pada 2025, dari sebelumnya sekitar Rp 5 triliun. Sementara itu, liabilitas meningkat menjadi Rp 9,68 triliun, naik dari Rp 8,91 triliun pada 2024. Total aset perseroan tercatat menyusut 4,87% menjadi Rp 13,23 triliun, dibandingkan Rp 13,91 triliun pada tahun sebelumnya. Posisi kas dan setara kas juga menurun menjadi Rp 360,96 miliar, dari Rp 436,03 miliar pada 2024.

Axiata Lepas Saham LINK Senilai Rp 413,7 Miliar

Di tengah dinamika kinerja keuangan tersebut, struktur kepemilikan saham Link Net juga mengalami perubahan. Pemegang saham pengendali, Axiata Investments Sdn Bhd, tercatat melakukan divestasi sebagian kepemilikannya pada Agustus 2025.

Mengacu pada keterbukaan informasi di BEI, Axiata Investments melepas 136.203.259 saham LINK pada 26 Agustus 2025 dengan harga Rp 3.060 per saham. Jumlah saham yang dilepas setara dengan 4,76% dari total saham beredar. Dari transaksi tersebut, Axiata meraup dana sekitar Rp 413,7 miliar.

Manajemen menyampaikan bahwa transaksi tersebut dilakukan dengan tujuan divestasi saham, dengan status kepemilikan langsung. Pasca transaksi, kepemilikan Axiata di Link Net turun menjadi 2.023.087.504 saham atau setara 70,66%, dari sebelumnya 75,42%.

Jejak Akuisisi oleh XL Axiata

Sebagai catatan, kepemilikan Axiata di Link Net tidak terlepas dari aksi korporasi besar yang terjadi pada 2022. PT XL Axiata Tbk (EXCL) secara resmi menyelesaikan akuisisi saham Link Net pada 22 Juni 2022.

Dalam transaksi tersebut, XL Axiata membeli 550.316.196 saham atau setara 20% kepemilikan non-pengendali di Link Net dengan harga Rp 4.800 per saham. Saham tersebut dibeli dari Asia Link Dewa Pte Ltd dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp 2,6 triliun. Akuisisi ini bertujuan memperkuat sinergi layanan fixed broadband dan mobile broadband, sekaligus memperluas ekosistem digital XL Axiata di Indonesia.

Manajemen XL Axiata kala itu menegaskan bahwa investasi tersebut diharapkan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, manajemen, dan karyawan, serta berkontribusi positif terhadap perkembangan industri telekomunikasi nasional yang semakin kompetitif.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Ke depan, Link Net masih menghadapi tantangan besar, mulai dari ketatnya persaingan di industri fixed broadband, kebutuhan belanja modal yang tinggi, hingga tekanan profitabilitas akibat biaya jaringan. Namun, peluang tetap terbuka seiring meningkatnya kebutuhan internet rumah, pertumbuhan ekonomi digital, serta potensi sinergi yang lebih dalam dengan grup Axiata dan XL Axiata.

Dengan strategi efisiensi berkelanjutan, optimalisasi jaringan, dan fokus pada segmen pelanggan bernilai tinggi, pasar akan mencermati apakah Link Net mampu memperbaiki kinerja keuangannya dan secara bertahap menekan kerugian dalam beberapa tahun mendatang