Rupiah Melemah ke Rp17.917 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik Timur Tengah dan Data Ekonomi AS
Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Rupiah ditutup di level Rp17.917 per dolar AS, turun 35 poin atau sekitar 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.882 per dolar AS.
Pelemahan rupiah juga terlihat dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Pada Senin, JISDOR tercatat sebesar Rp17.917 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya Rp17.898 per dolar AS.
Konflik Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pergerakan rupiah turut dipengaruhi perkembangan konflik antara kelompok Ansarullah di Yaman dan Arab Saudi.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan mendapat dukungan Arab Saudi disebut berencana melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Perkembangan ini menjadi perhatian investor karena berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap pasar energi global.
Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Karena itu, meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut dapat memicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak.
Sebelumnya, kelompok Ansarullah dilaporkan melancarkan serangan menggunakan rudal balistik dan drone yang menyasar fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais.
Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.
Potensi Gangguan Minyak Jadi Risiko Pasar
Menurut Ibrahim, kelompok tersebut mengklaim serangan mereka menyebabkan kebakaran besar. Serangan itu disebut sebagai balasan atas puluhan serangan udara dan rudal yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman.
Arab Saudi sendiri belum memberikan konfirmasi terkait serangan tersebut.
Ketidakpastian ini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Jika konflik semakin meluas dan mengganggu produksi maupun distribusi minyak, harga energi dunia berpotensi mengalami tekanan naik.
Kenaikan harga minyak dapat memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian global, termasuk meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.
Bagi pasar valuta asing, kondisi geopolitik seperti ini juga dapat mendorong investor mengambil posisi lebih hati-hati dan meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Investor Menanti Data Ekonomi Amerika Serikat
Selain perkembangan geopolitik, perhatian pasar pada pekan ini juga tertuju pada sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat.
Investor akan mencermati berbagai data yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS serta arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Beberapa data yang menjadi perhatian antara lain ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, serta risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir.
Pasar juga akan mencermati data sentimen konsumen yang dirilis University of Michigan.
Data-data tersebut penting karena dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
Arah Suku Bunga The Fed Jadi Kunci
Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar AS. Jika pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga lebih lama, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan.
Sebaliknya, jika data ekonomi menunjukkan perlambatan dan meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan moneter, tekanan terhadap dolar AS dapat berkurang.
Pergerakan dolar AS tersebut pada akhirnya turut memengaruhi nilai tukar rupiah.
Dengan demikian, pelemahan rupiah pada awal pekan tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga perkembangan geopolitik dan ekonomi global.
Rupiah Masih Dibayangi Sentimen Global
Kurs rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian global dalam perdagangan berikutnya.
Investor akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya dampaknya terhadap harga dan pasokan minyak dunia.
Di saat yang sama, data ekonomi Amerika Serikat akan menjadi perhatian utama karena dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Dengan kombinasi risiko geopolitik dan agenda ekonomi AS yang cukup padat, pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya masih berpotensi bergerak fluktuatif.
Pada perdagangan Senin (5/10/2026), rupiah ditutup di level Rp17.917 per dolar AS, sementara JISDOR Bank Indonesia juga berada di level Rp17.917 per dolar AS.
0 Comments