Wall Street Bergerak Campur-campur Setelah Data Inflasi AS Dirilis

Wall Street Bergerak Campur-campur Setelah Data Inflasi AS Dirilis

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street bergerak bervariasi pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, seiring pelaku pasar mencerna rilis data inflasi konsumen yang tercatat sedikit lebih rendah dari perkiraan. Data tersebut sempat memberi angin segar bagi harapan penurunan suku bunga, meskipun sentimen pasar secara keseluruhan masih dibayangi kekhawatiran struktural terkait dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap dunia usaha dan tenaga kerja.

Mengutip laporan CNBC, dari tiga indeks utama Wall Street, hanya indeks berbasis teknologi Nasdaq yang ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 naik tipis 0,05% dan mengakhiri perdagangan di level 6.836,17. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 48,95 poin atau 0,10% ke posisi 49.500,93. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite turun 0,22% dan ditutup di level 22.546,67.

Meski terjadi penguatan harian, kinerja pasar saham AS secara mingguan masih tertekan. Dalam sepekan terakhir, indeks S&P 500 tercatat melemah 1,4%, Dow Jones turun 1,2%, sementara Nasdaq mencatat koreksi paling dalam dengan penurunan mencapai 2,1%. Tekanan mingguan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi AS di tengah perubahan teknologi dan ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Inflasi Lebih Rendah, Harapan Suku Bunga Muncul

Dari sisi data ekonomi, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 0,2% secara bulanan pada Januari 2026, atau setara dengan kenaikan tahunan sebesar 2,4%. Angka ini berada di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,3% dan inflasi tahunan 2,5%, berdasarkan survei ekonom Dow Jones.

Sementara itu, CPI inti—yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang volatil—tercatat sesuai ekspektasi, masing-masing naik 0,3% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Data ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga mulai mereda, meski belum sepenuhnya stabil.

Chief Market Strategist Osaic, Phil Blancato, menilai data inflasi tersebut seharusnya menjadi sinyal positif bagi pasar dan bagi calon Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.
“Ini memang baru satu bulan data, tetapi jika tren ini berlanjut, kondisi tersebut dapat membuka jalan bagi penurunan suku bunga dan menjaga inflasi tetap terkendali,” ujarnya.

Pelaku pasar kini semakin sensitif terhadap setiap rilis data inflasi, karena menjadi penentu utama arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan. Harapan akan pelonggaran moneter dinilai dapat menopang valuasi saham, khususnya di sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti dan teknologi.

Kekhawatiran Gangguan AI Membayangi Pasar

Di sisi lain, sentimen positif dari data inflasi tertahan oleh kekhawatiran yang lebih luas terkait dampak AI terhadap struktur ekonomi. Manajer portofolio Globalt Investments, Keith Buchanan, menuturkan bahwa meskipun data CPI tidak berkaitan langsung dengan AI, pasar saat ini sedang berusaha memahami implikasi jangka panjang dari adopsi teknologi tersebut.

Menurutnya, penerapan AI secara masif berpotensi menekan lapangan kerja di sejumlah sektor sekaligus menahan laju inflasi melalui efisiensi biaya.
“Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa berpikir bahwa semua pihak akan menang dan tidak ada yang kalah?” ujarnya.

Kekhawatiran gangguan AI ini mengguncang pasar sepanjang pekan dan meluas dari sektor perangkat lunak ke sektor lain seperti properti, transportasi, hingga jasa keuangan. Investor cenderung melepas saham-saham perusahaan yang dinilai paling rentan terdampak otomatisasi dan disrupsi teknologi.

Tekanan di Saham Keuangan dan Media

Di sektor keuangan, saham Charles Schwab tercatat anjlok 10,8% dalam sepekan, sementara saham Morgan Stanley turun 4,9%. Dari sektor teknologi sumber daya manusia, saham Workday merosot 11%, mencerminkan kekhawatiran terhadap perubahan pola kebutuhan tenaga kerja. Saham perusahaan properti komersial CBRE bahkan melemah hingga 16% dalam sepekan.

Tekanan juga merambah industri media dan hiburan. Saham Netflix turun 6% sepanjang pekan, sedangkan saham Disney justru mencatat kenaikan 3%, menunjukkan selektivitas investor dalam memilih emiten yang dinilai mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan perilaku konsumen.

Analis Barclays, Emmanuel Cau, menyatakan bahwa investor saat ini “tidak menunjukkan belas kasihan” terhadap perusahaan yang dianggap berpotensi menjadi pihak yang kalah akibat AI.
“Daftar sektor yang tertekan terus bertambah setiap hari, memperlebar kesenjangan antara ekonomi baru dan ekonomi lama, serta menciptakan volatilitas tinggi di pasar saham AS,” ujarnya.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif seiring investor menimbang kombinasi antara prospek pertumbuhan ekonomi, arah suku bunga, kinerja laba perusahaan, serta dampak struktural dari perkembangan teknologi AI terhadap perekonomian global.