BPS: Stimulus Pemerintah Bantu Daya Beli, Konsumsi Masyarakat Tumbuh 5,11% di Kuartal IV

BPS: Stimulus Pemerintah Bantu Daya Beli, Konsumsi Masyarakat Tumbuh 5,11% di Kuartal IV

Konsumsi Rumah Tangga Menguat, Jadi Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi Akhir 2025

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja konsumsi rumah tangga Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada kuartal IV 2025. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan 4,98 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan terjaganya aktivitas belanja masyarakat di tengah berbagai dinamika ekonomi global.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. BPS mencatat, konsumsi rumah tangga menyumbang 53,63 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025, di mana ekonomi nasional tumbuh 5,39 persen secara tahunan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa kuatnya konsumsi masyarakat pada akhir 2025 tidak terlepas dari stabilitas daya beli serta peran kebijakan pemerintah yang bersifat stimulus. Menurutnya, berbagai insentif ekonomi yang digelontorkan pemerintah berhasil menjaga momentum belanja masyarakat, terutama menjelang akhir tahun.

“Kami merekam semua data, salah satunya menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga. Selain itu, adanya insentif kebijakan stimulus ekonomi juga berperan dalam mendorong konsumsi,” ujar Amalia dalam konferensi pers BPS, Kamis (5/2/2026).

Pada kuartal IV 2025, pemerintah memang secara aktif mengeluarkan sejumlah paket stimulus untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur positif. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total anggaran stimulus yang dialokasikan pada periode tersebut mencapai Rp37,4 triliun. Dana ini difokuskan pada tiga program utama, yakni program magang untuk peningkatan kesempatan kerja, bantuan langsung tunai sementara (BLTS) bagi kelompok masyarakat rentan, serta diskon tiket transportasi selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Khusus kebijakan diskon transportasi Nataru, BPS mencatat adanya dampak positif terhadap kinerja sektor transportasi nasional. Amalia menyebutkan bahwa meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun turut mendorong pertumbuhan subsektor angkutan.

Pada triwulan IV 2025, angkutan rel tumbuh 9,96 persen secara tahunan, sementara angkutan laut meningkat 9,8 persen. Selain itu, angkutan sungai, danau, dan penyeberangan juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,35 persen year-on-year. Data ini menunjukkan bahwa insentif mobilitas tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga menggerakkan sektor jasa pendukung lainnya.

Industri Pengolahan Jadi Sumber Pertumbuhan Terbesar

Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat industri pengolahan masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada triwulan IV 2025. Sektor ini memberikan kontribusi sebesar 1,10 persen basis poin terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,39 persen.

“Apabila kita lihat dari sumber pertumbuhan pada triwulan IV 2025, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar,” kata Amalia.

Selain industri pengolahan, sektor perdagangan turut menjadi penggerak ekonomi dengan kontribusi sumber pertumbuhan sebesar 0,79 persen. Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi menyumbang 0,55 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas digital dan ekonomi berbasis teknologi. Sektor pertanian juga memberikan kontribusi positif dengan sumber pertumbuhan sebesar 0,51 persen, menunjukkan peran penting sektor pangan dalam menopang ekonomi nasional.

Konsumsi Tetap Dominan dari Sisi Pengeluaran

Dari sisi pengeluaran, BPS mencatat bahwa seluruh komponen PDB pada triwulan IV 2025 tumbuh positif secara tahunan. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen terbesar dalam struktur PDB, dengan kontribusi 53,63 persen dan pertumbuhan 5,11 persen.

Komponen berikutnya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, yang memiliki kontribusi sebesar 30,02 persen terhadap PDB dan tumbuh 6,12 persen pada kuartal IV 2025. Pertumbuhan investasi ini mencerminkan mulai pulihnya kepercayaan dunia usaha serta berlanjutnya proyek-proyek strategis nasional.

Jika dilihat dari sumber pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama dengan kontribusi 2,68 persen terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025. Selain itu, PMTB menyumbang 1,96 persen, sementara konsumsi pemerintah memberikan kontribusi 0,43 persen.

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa kombinasi antara konsumsi masyarakat yang kuat, stimulus fiskal pemerintah, serta kinerja sektor industri dan jasa berhasil menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2025. Kondisi ini menjadi modal positif bagi perekonomian nasional dalam menghadapi tantangan dan peluang pada tahun 2026.