Harga Bitcoin Turun, Tapi Lebih Tahan Dibanding Saham Saat Guncangan Harga Minyak Berlanjut
Bitcoin Lebih Tahan Dibanding Saham di Tengah Ketegangan Global
Harga Bitcoin turun dalam sepekan terakhir, tapi penurunannya tidak sebesar pasar saham. Ini menunjukkan bahwa crypto masih cukup kuat di tengah kondisi global yang tidak pasti.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar $68.000. Dalam 24 jam terakhir turun sekitar 2%, dan dalam 7 hari terakhir turun sekitar 6%.
Penurunan ini terjadi karena konflik dengan Iran yang sudah memasuki minggu keempat. Ketegangan ini membuat harga minyak naik dan membuat investor lebih berhati-hati, sehingga banyak aset berisiko seperti saham ikut turun.
Situasi semakin memanas setelah Donald Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur penting minyak, yaitu Selat Hormuz. Iran merespons dengan ancaman akan menutup jalur tersebut dan menyerang infrastruktur energi yang terkait dengan AS.
Di sisi lain, pasar saham AS terus melemah. Indeks S&P 500 sudah turun selama empat minggu berturut-turut dan bahkan turun di bawah level teknikal penting (200-day moving average). Indeks Nasdaq juga turun sekitar 4%–5% bulan ini.
Satu-satunya sektor yang naik adalah energi, karena harga minyak kembali mendekati $100 per barel.
Meski begitu, penurunan Bitcoin secara bulanan hanya sekitar 0,2%, lebih kecil dibanding saham. Hal ini dinilai karena pasar crypto sudah lebih dulu mengalami koreksi, dan investor institusi masih terus masuk.
Menurut John O’Loghlen dari Coinbase, Bitcoin menunjukkan performa lebih baik dibanding aset tradisional jika dilihat dari risiko sejak konflik Iran dimulai. Ia juga menyebut kenaikan harga minyak bisa mendorong inflasi, sehingga minat investor besar ke crypto dan ETF Bitcoin meningkat.
Ia menambahkan bahwa pasar crypto mungkin sudah melewati fase paling pesimis, tapi masih butuh lebih banyak minat beli untuk mendorong kenaikan harga yang kuat.
Pendapat serupa juga datang dari Nischal Shetty, yang mengatakan pasar crypto saat ini berada dalam fase stabil (konsolidasi) dengan tanda-tanda akumulasi, artinya investor sedang perlahan membeli.
Bitcoin saat ini bertahan di area support (harga bawah), sementara masih menghadapi resistance (harga atas), menunjukkan pembeli masih aktif meski kondisi global belum stabil.
Laporan dari VanEck juga menunjukkan bahwa investor jangka panjang mulai mengurangi penjualan, yang membantu mengurangi tekanan turun pada harga.
Ke depan, pergerakan Bitcoin akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi global, seperti aktivitas bisnis (PMI) dan harga minyak, karena keduanya berdampak pada inflasi dan suku bunga.
0 Comments