UMKM Jadi Sektor yang Paling Merasakan Dampak Kenaikan Harga Pertamax
Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi pelaku usaha, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kenaikan biaya energi tersebut dikhawatirkan meningkatkan ongkos distribusi, mobilitas usaha, hingga menekan margin keuntungan yang selama ini sudah terbatas.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memang tidak terlalu berdampak bagi sebagian perusahaan besar. Pasalnya, penggunaan BBM bensin nonsubsidi pada korporasi skala besar relatif terbatas dan umumnya hanya digunakan untuk kendaraan operasional tertentu.
Namun, kondisi berbeda dihadapi pelaku UMKM yang banyak mengandalkan kendaraan roda dua maupun roda empat berbahan bakar bensin untuk mendukung aktivitas bisnis sehari-hari.
“Bagi usaha besar, dampaknya mungkin masih dapat dikelola melalui efisiensi operasional dan penyesuaian manajemen biaya. Namun, bagi UMKM dan pelaku usaha dengan margin yang tipis, kenaikan biaya BBM seperti ini tetap dapat menjadi tekanan tambahan yang cukup signifikan,” kata Shinta saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (11/6/2026).
Menurut dia, dunia usaha saat ini masih menghadapi berbagai tantangan yang belum sepenuhnya mereda. Selain pelemahan daya beli masyarakat, pelaku usaha juga harus menghadapi tekanan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya energi, biaya logistik, biaya pembiayaan, hingga ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Kondisi tersebut membuat kenaikan harga Pertamax berpotensi memperbesar tekanan biaya yang telah dirasakan pelaku usaha dalam beberapa bulan terakhir.
“Karena itu, meskipun BBM yang naik kali ini adalah BBM nonsubsidi, kenaikan ini tetap berpotensi menjadi amplifier terhadap tekanan biaya yang sudah dirasakan pelaku usaha,” ujarnya.
Shinta menjelaskan dampak kenaikan harga BBM tidak serta-merta menyebabkan harga barang dan jasa langsung melonjak. Namun dalam praktiknya, kenaikan biaya operasional akan mendorong pelaku usaha melakukan penyesuaian secara bertahap, terutama pada biaya distribusi dan pengiriman.
Jika tekanan biaya terus berlangsung dalam waktu lama, pelaku usaha berpotensi meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut ke harga jual produk atau jasa. Kondisi ini dapat memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat yang saat ini masih dalam tahap pemulihan.
“Dalam situasi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat, tambahan biaya seperti ini perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak semakin menekan konsumsi rumah tangga,” jelasnya.
Tekanan Lebih Besar pada UMKM
Shinta menuturkan kenaikan Pertamax kali ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi yang terjadi sebelumnya. Saat harga solar nonsubsidi meningkat, dampaknya lebih cepat dirasakan sektor industri besar karena sebagian besar aktivitas logistik dan distribusi menggunakan kendaraan berbahan bakar diesel.
Sementara itu, kenaikan Pertamax lebih banyak berdampak pada sektor usaha yang mengandalkan kendaraan berbahan bakar bensin untuk menunjang operasional sehari-hari.
“Maka kenaikan kali ini berpotensi berdampak pada biaya mobilitas usaha, kendaraan operasional ringan, aktivitas sales dan distribusi kecil, serta pelaku usaha jasa dan UMKM yang menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin nonsubsidi,” katanya.
Dalam jangka pendek, dampak paling nyata akan dirasakan pada peningkatan biaya operasional harian. Hal ini terutama dialami oleh pelaku usaha dengan tingkat mobilitas tinggi seperti sektor jasa, perdagangan ritel, distribusi skala kecil, kurir, hingga layanan pengantaran barang.
Selain itu, usaha kuliner, toko online, agen pemasaran, teknisi lapangan, hingga penyedia jasa perawatan rumah juga berpotensi menghadapi kenaikan biaya karena aktivitas operasional mereka sangat bergantung pada kendaraan bermotor.
“Misalnya usaha jasa, ritel, distribusi skala kecil, kurir atau last-mile delivery tertentu, serta kegiatan usaha yang membutuhkan mobilitas tenaga kerja, pemasaran, pengantaran barang, maupun pelayanan langsung kepada konsumen,” tutur Shinta.
Efisiensi Jadi Pilihan Utama
Di tengah meningkatnya biaya operasional, banyak pelaku usaha diperkirakan akan melakukan berbagai langkah efisiensi untuk menjaga profitabilitas. Strategi tersebut dapat berupa optimalisasi rute distribusi, pengurangan perjalanan yang tidak produktif, pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran, hingga penghematan penggunaan energi.
Namun demikian, ruang efisiensi bagi UMKM dinilai relatif terbatas dibandingkan perusahaan besar. Sebab, sebagian besar UMKM memiliki skala usaha kecil dengan modal dan sumber daya yang terbatas sehingga lebih rentan terhadap perubahan biaya operasional.
Ekonom menilai kenaikan biaya transportasi juga perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan efek berantai terhadap harga berbagai barang dan jasa. Meski dampaknya tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, kenaikan ongkos distribusi berpotensi meningkatkan biaya logistik di tingkat akhir apabila berlangsung dalam periode yang panjang.
Karena itu, pelaku usaha berharap stabilitas harga energi dan kondisi ekonomi domestik tetap terjaga agar dunia usaha, khususnya UMKM, dapat mempertahankan aktivitas produksi dan ekspansi bisnis. Dukungan terhadap sektor UMKM dinilai penting mengingat kelompok usaha ini masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional dan penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
Ke depan, pelaku usaha akan terus memantau perkembangan harga energi serta kondisi permintaan masyarakat. Jika daya beli mampu bertahan dan aktivitas ekonomi terus meningkat, tekanan akibat kenaikan biaya BBM diperkirakan masih dapat dikelola. Namun apabila konsumsi rumah tangga melemah, UMKM berisiko menghadapi tantangan yang lebih berat karena harus menanggung kenaikan biaya operasional di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih.
0 Comments