Wall Street Menguat, S&P 500 Tembus Rekor Baru di Atas 7.100
Saham-saham di Amerika Serikat (AS) melonjak tajam pada perdagangan Jumat (waktu setempat), didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Iran memastikan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz tetap terbuka selama periode gencatan senjata.
Indeks acuan S&P 500 melesat 1,2% dan ditutup di level 7.126,06—untuk pertama kalinya menembus ambang psikologis 7.100. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 1,52% ke 24.468,48, memperpanjang reli menjadi 13 hari berturut-turut—rentetan kenaikan terpanjang sejak 1992. Kedua indeks bahkan mencetak rekor baru baik secara intraday maupun penutupan.
Penguatan juga terjadi pada Dow Jones Industrial Average yang melonjak 868,71 poin atau 1,79% ke 49.447,43. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 ikut mencatat rekor tertinggi baru dengan kenaikan lebih dari 2%, menandakan reli pasar yang semakin luas dan tidak hanya terpusat pada saham teknologi.
Sentimen Geopolitik Mereda
Katalis utama penguatan pasar datang dari pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya dibuka untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Dalam unggahannya di platform X, ia menyebutkan bahwa pelayaran diperbolehkan melalui rute yang telah dikoordinasikan oleh otoritas maritim Iran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga setiap gangguan di wilayah ini langsung berdampak besar terhadap pasar energi dan keuangan dunia.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari, yang mulai berlaku pada Kamis sore waktu setempat. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa konflik regional tidak akan meluas menjadi krisis yang lebih besar.
Harga Minyak Anjlok Tajam
Seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan, harga minyak dunia langsung terkoreksi tajam. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun hampir 12% ke level USD 83,85 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent Crude merosot sekitar 9% dan ditutup di USD 90,38 per barel.
Penurunan harga energi ini memberikan dorongan tambahan bagi pasar saham, khususnya sektor yang sensitif terhadap biaya bahan bakar seperti maskapai penerbangan dan logistik.
Pernyataan Trump dan Ketidakpastian Kebijakan
Dalam pernyataan lanjutan di platform Truth Social, Trump menyampaikan apresiasinya terhadap langkah Iran membuka Selat Hormuz. Ia bahkan mengklaim bahwa Iran telah menyetujui untuk tidak lagi menutup jalur tersebut di masa depan.
Namun, di sisi lain, Trump menegaskan bahwa blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai permanen dengan Teheran. Ia juga menyebut proses negosiasi berjalan cepat karena sebagian besar poin telah disepakati.
Meski demikian, laporan dari media Iran menunjukkan bahwa akses Selat Hormuz kemungkinan tetap terbatas. Kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap bermusuhan disebut tidak akan diizinkan melintas, dan penutupan kembali bisa terjadi jika tekanan militer AS berlanjut. Selain itu, masih belum jelas apakah Iran akan memberlakukan biaya atau “tol” bagi kapal yang melintas.
Saham Sektor Transportasi dan Teknologi Menguat
Meredanya risiko geopolitik langsung mendorong saham-saham di sektor transportasi dan pariwisata. Saham Boeing naik sekitar 2%, sementara Royal Caribbean melonjak hingga 7%.
Di sektor teknologi dan layanan digital, saham Amazon dan Airbnb juga ikut menguat, mencerminkan meningkatnya optimisme terhadap pemulihan aktivitas ekonomi global jika stabilitas geopolitik terjaga.
Outlook Pasar: Optimisme dengan Catatan
Menurut Kepala Strategi Pasar di Ameriprise Financial, Anthony Saglimbene, investor kini mulai “melihat melampaui konflik” dan fokus pada kemungkinan resolusi diplomatik antara AS dan Iran.
Ia menilai pasar telah mengesampingkan skenario terburuk, seperti penutupan total Selat Hormuz atau eskalasi perang besar. Selama jalur perdagangan energi tetap terbuka, sentimen positif diperkirakan akan bertahan.
Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli pasar masih rentan terhadap perkembangan baru, terutama jika gencatan senjata tidak diperpanjang atau jika negosiasi AS-Iran menemui jalan buntu. Selain itu, faktor lain seperti kebijakan suku bunga Federal Reserve dan data inflasi AS juga tetap menjadi perhatian utama investor dalam beberapa pekan ke depan.
Update Tambahan: Fokus Investor Bergeser
Dalam perkembangan terbaru, pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartalan dan arah kebijakan moneter global. Dengan inflasi AS yang menunjukkan tanda-tanda melandai, ekspektasi terhadap potensi penurunan suku bunga oleh The Fed kembali menguat—yang semakin mendukung reli di pasar saham.
Meski begitu, ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya hilang. Stabilitas Selat Hormuz tetap menjadi faktor krusial yang dapat menentukan arah harga minyak dan sentimen pasar global dalam jangka pendek.
0 Comments