Harga Perak Melonjak 7%, Capai Level Tertinggi

Harga Perak Melonjak 7%, Capai Level Tertinggi

Harga Perak Cetak Rekor Baru, Tembus USD 77 per Ounce di Tengah Lonjakan Permintaan Safe Haven

Harga perak mencetak sejarah dengan menembus level USD 77 per ounce untuk pertama kalinya pada perdagangan Jumat, 26 Desember 2025. Lonjakan tajam ini menempatkan perak sejajar dengan emas dan platinum yang juga mencatatkan rekor tertinggi baru, menandai tahun yang luar biasa bagi pasar logam mulia global.

Kenaikan harga perak terjadi di tengah kombinasi sentimen positif, mulai dari ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (the Fed), meningkatnya ketegangan geopolitik global, hingga krisis pasokan logam industri yang mendorong investor berbondong-bondong masuk ke aset safe haven.

Mengutip CNBC, Sabtu (27/12/2025), harga perak spot melonjak 7% ke level USD 77,12 per ounce, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD 77,11. Sepanjang tahun 2025, harga perak telah melambung hingga 167%, menjadikannya salah satu komoditas dengan performa terbaik tahun ini.

Lonjakan tersebut didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain:

  • Defisit pasokan global perak akibat penurunan produksi tambang dan gangguan rantai pasok

  • Penetapan perak sebagai mineral kritis oleh pemerintah Amerika Serikat, seiring meningkatnya kebutuhan untuk industri teknologi dan energi hijau

  • Arus masuk investasi yang kuat dari dana lindung nilai, ETF berbasis logam mulia, serta investor ritel global

Peter Grant, Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals, menyatakan bahwa reli perak masih berpotensi berlanjut.

“Harga perak di USD 77 per ounce membuka jalan menuju USD 80 sebelum akhir tahun, terutama jika kebijakan moneter global semakin akomodatif,” ujar Grant.


Perjalanan Harga Perak Sepanjang 2025

Mengutip Kitco, harga perak spot memulai tahun 2025 di kisaran USD 29,50 per ounce, setelah menutup 2024 dengan dua kali penguatan dari level support penting di USD 20 per ounce. Level ini menjadi fondasi teknikal yang kuat bagi reli harga sepanjang tahun.

Pada awal 2025, perak sempat berupaya bangkit dari tekanan besar pasca pemilihan presiden Amerika Serikat 2024. Harga kemudian ditutup stabil di atas USD 31,50 per ounce pada Januari dan Februari, sebelum memasuki tren naik yang lambat namun konsisten sepanjang Maret. Pada 26 Maret, harga perak menyentuh USD 34,40, level tertinggi saat itu.

Namun, reli tersebut sempat terganggu pada awal April setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif perdagangan besar-besaran yang dikenal sebagai “Hari Pembebasan”. Kebijakan ini memicu aksi jual tajam di pasar komoditas global, termasuk perak, emas, dan logam industri lainnya.

Pada 3 April, harga perak kembali turun mendekati support krusial USD 29,50 per ounce. Meski sempat pulih ke USD 33,57 pada 22 April, harga masih bergerak terbatas dalam kisaran USD 32–33 per ounce hingga Mei, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan global.


Momentum Kuat Sejak Juni hingga Akhir Tahun

Pergerakan harga perak mulai berubah drastis pada Juni 2025. Harga spot menembus USD 34 per ounce dan mencetak level tertinggi baru tahun itu di USD 34,76. Pada awal Juli, perak diperdagangkan mendekati USD 37, mencerminkan meningkatnya permintaan industri dan investasi.

Reli berlanjut hingga 22 Juli, saat harga perak mencapai puncak sementara di sekitar USD 39,30 per ounce, sebelum terkoreksi ke area USD 37 pada awal Agustus. Meski demikian, tekanan jual relatif terbatas, menandakan pasar tetap kuat secara fundamental.

Selama Agustus, harga perak bergerak dalam kisaran sempit sekitar USD 1. Namun, momentum baru muncul pada September, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan melemahnya dolar AS. Harga perak melonjak hingga USD 41 per ounce di awal September, menandai awal reli besar yang berlangsung hingga akhir tahun.

Sejak saat itu, harga perak terus mencetak level tertinggi baru dengan jeda koreksi yang relatif singkat untuk menguji level support. Pada 1 Oktober, USD 47 per ounce telah terbentuk sebagai support kuat. Dua pekan kemudian, tepatnya pada 15 Oktober, harga perak menembus USD 54 per ounce, mencetak rekor tertinggi baru dan membuka jalan menuju reli parabolik di kuartal IV.


Prospek ke Depan

Analis menilai prospek perak masih positif memasuki 2026. Selain perannya sebagai aset lindung nilai, permintaan perak untuk industri kendaraan listrik, panel surya, semikonduktor, dan teknologi AI diperkirakan terus meningkat. Di sisi lain, pasokan global diperkirakan tetap ketat, menciptakan ketidakseimbangan struktural antara permintaan dan produksi.

Jika the Fed benar-benar memangkas suku bunga dan ketidakpastian geopolitik berlanjut, perak berpotensi mempertahankan tren bullish-nya dan bahkan melampaui USD 80 per ounce dalam waktu dekat.