IHSG Menguat pada 22 Desember 2025, Saham Energi Melonjak
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada awal sesi perdagangan Senin (22/12/2025). Meski mencatatkan penguatan, kenaikan IHSG terpantau masih terbatas, seiring sikap pelaku pasar yang cenderung berhati-hati di tengah pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada di level tinggi terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data RTI, IHSG dibuka menguat 19,69 poin atau sekitar 0,23% ke posisi 8.629,24. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 turut naik 0,50% ke level 857,91, mencerminkan minat beli pada saham-saham berkapitalisasi besar. Mayoritas indeks saham acuan tercatat bergerak positif pada awal perdagangan.
Dalam rentang perdagangan pagi, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 8.646,93 dan bergerak turun hingga level terendah 8.609,38. Secara keseluruhan, pergerakan pasar masih menunjukkan volatilitas terbatas. Tercatat 222 saham menguat, menopang kinerja IHSG, sementara 362 saham melemah dan 125 saham stagnan, menandakan tekanan jual masih cukup dominan di sejumlah sektor.
Dari sisi aktivitas perdagangan, total frekuensi transaksi mencapai 1.071.915 kali dengan volume perdagangan 12,7 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 6,7 triliun, yang menunjukkan likuiditas pasar relatif stabil meski investor belum agresif melakukan akumulasi.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 16.750–Rp 16.755 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini masih menjadi perhatian pelaku pasar, terutama bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap pergerakan kurs dan biaya impor.
Dari sisi sektoral, kinerja saham bergerak bervariasi. Sektor energi mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 1,45%, didorong oleh sentimen positif harga komoditas global. Sektor basic material turut menguat 1,03%, disusul sektor industri yang naik 0,47%. Selain itu, sektor kesehatan menguat tipis 0,07%, sementara sektor keuangan bertambah 0,11%, seiring ekspektasi stabilnya kinerja perbankan hingga akhir tahun.
Di sisi lain, tekanan terjadi pada sejumlah sektor. Sektor consumer nonsiklikal melemah 0,34%, diikuti sektor consumer siklikal yang turun 0,23%. Sektor properti terpangkas 0,50%, sementara sektor teknologi mengalami penurunan cukup dalam sebesar 0,72%. Adapun sektor infrastruktur turun 1,20% dan sektor transportasi melemah 0,09%, mencerminkan masih adanya kekhawatiran terkait biaya operasional dan permintaan.
Mengawali pekan ini, salah satu saham yang menjadi perhatian adalah BBYB. Harga saham BBYB tercatat turun 0,41% ke posisi Rp 480 per saham. Saham ini sebelumnya dibuka menguat dua poin di level Rp 484 per saham, namun kemudian berbalik melemah. Sepanjang perdagangan, saham BBYB bergerak di level tertinggi Rp 488 dan level terendah Rp 468 per saham.
Aktivitas perdagangan saham BBYB tercatat cukup aktif dengan frekuensi transaksi 7.828 kali, volume perdagangan 546.834 saham, serta nilai transaksi harian mencapai Rp 26,2 miliar. Pergerakan saham ini mencerminkan masih adanya aksi jual jangka pendek dari investor, meski minat transaksi tetap terjaga.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah faktor, mulai dari perkembangan nilai tukar rupiah, arah kebijakan moneter global, hingga rilis data ekonomi domestik. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek, terutama menjelang penutupan tahun perdagangan 2025.
0 Comments