Pendapatan Turun, Laba Pengelola Ancol Susut 24,40 Persen pada 2024

Jakarta - PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) mengumumkan kinerja tahun buku 2024 yang berakhir pada 31 Desember 2024. Pada periode tersebut, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 1,26 triliun atau turun 0,62 persen dibandingkan pendapatan usaha pada 2023 yang tercatat sebesar Ro 1,27 triliun.
Sementara pendapatan turun, beban pokok pendapatan dan beban langsung mengalami kenaikan menjadi Rp 599,12 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 576,88 miliar. Alhasil, laba bruto pada 2024 turun menjadi Rp 666,77 miliar dibandingkan RP 696,95 miliar yang dibukukan pada 2023.
Melansir laporan keuangan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (29/1/2025), perseroan membukukan kerugian penjualan aset tetap senilai Rp 470 juta. Bersamaan dengan itu, perseroan mencatatkan penghasilan lainnya sebesar Rp 23,24 miliar.
Pada periode yang sama, perseroan membukukan kerugian selisih kurs Rp 22 juta, beban penjualan Rp 31,23 miliar, beban umum dan administrasi Rp 261,68 miliar, serta beban lain-lain Rp 42 miliar. Dari rincian tersebut, perseroan mengukuhkan laba usaha sebesar Rp 372,36 miliar, turun dibanding laba usaha pada 2023 yang tercatat sebesar Rp 447,21 miliar.
Pada tahun buku 2024, perseroan membukukan rugi entitas asosiasi sebesar Rp 155 juta. Semenatara, perseroan membukukan bagian laba bersih ventura bersama sebesar Rp 983 juta. Beban keuangan pada periode tersebut tercatat sebesar Rp 95,66 miliar, dan beban pajak final Rp 28,27 miliar.
Laba 2024 Susut 24,40 Persen
Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan, perseroan membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2024 sebesar Rp 177,79 miliar. Laba itu turun 24,40 persen dibandingkan laba yang dicatatkan pada 2023 sebesar Rp 235,17 miliar. Sehingga, laba per saham dasar turut susut menjadi Rp 111 dari sebelumnya Rp 147 per lembar.
Aset Perseroan
Aset perseroan sampai dengan 31 Desember 2024 turun menjadi Rp 3,59 triliun dari Rp 3,74 triliun pada akhir 2023. Terdiri dari aset lancar senilai Rp 394,47 miliar dan aset tidak lancar Rp 3,2 triliun. Liabilitas sampai dengan akhir 2024 turun menjadi RP 1,86 triliun dari Rp 2,08 triliun pada akhir 2023.
Terdiri dari liabilitas jangka pendek senilai Rp 569,55 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp 1,29 triliun. Adapun ekuitas sampai dengan akhir Desember 2024 tercatat sebesar Rp 1,73 triliun. Ekuitas itu naik dibandingkan angka akhir tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 1,67 triliun.
PT Pembangunan Jaya Ancol adalah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak dalam bidang Pembangunan (real estate), rekreasi, perhotelan, dan sarana olahraga. Mayoritas kepemilikan saham Ancol dimiliki oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
Secara rinci, kepemilikan saham PT Pembangunan Jaya Ancol sebanyak 72,00 persen dimiliki oleh Pemprov DKI Jakarta, kemudian sebanyak 18,01 persen milik PT Pembangunan Jaya, dan sebanyak 9,99% milik publik/ masyarakat.
Resmi didirikan sejak 19 Oktober 1966, Ancol menjelma sebagai destinasi favorit masyarakat Jakarta dan sekitarnya sekaligus menjadi sarana atraksi dan pariwisata masyarakat. Sebagai upaya memperkuat keuangan korporasi, PT Pembangunan Jaya Ancol mulai melakukan penawaran saham publik perdana (Initial Public Offering/ IPO) pada 2 Juli 2004.
Sumber : https://www.liputan6.com/
0 Comments