Dolar Melemah di Awal Pekan, Ini Peran Bank Indonesia

Dolar Melemah di Awal Pekan, Ini Peran Bank Indonesia

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap rupiah pada awal perdagangan di pasar valuta asing Jakarta. Pada Senin (26/1/2026), rupiah dibuka menguat sebesar 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp16.784 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya di Rp16.820 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini mencerminkan perbaikan sentimen pasar terhadap mata uang negara berkembang, seiring dengan tekanan yang kembali dialami dolar AS di pasar global. Pelemahan dolar terjadi setelah rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja di bawah ekspektasi pelaku pasar, sehingga memicu aksi jual (sell-off) terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kondisi ini membuka ruang bagi rupiah untuk melanjutkan tren penguatannya dalam jangka pendek. Menurutnya, pasar global saat ini mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS, terutama terkait prospek suku bunga acuan The Federal Reserve.

“Rupiah berpotensi melanjutkan penguatan terhadap dolar AS yang kembali tertekan menyusul rilis data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan,” ujar Lukman, dikutip dari Antara.

Data ekonomi terbaru menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Amerika Serikat berada di level 51,9, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar yang memperkirakan angka 52. Meskipun masih berada di zona ekspansif, perlambatan PMI tersebut mengindikasikan aktivitas manufaktur AS mulai kehilangan momentum. Selain itu, ekspektasi inflasi konsumen AS tercatat sebesar 4 persen, turun dari perkiraan sebelumnya di level 4,2 persen. Penurunan ekspektasi inflasi ini memperkuat spekulasi bahwa tekanan harga di AS mulai mereda, sehingga mengurangi urgensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Kondisi tersebut mendorong investor global untuk kembali masuk ke aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah, yang dinilai masih menawarkan imbal hasil menarik.

Sentimen Domestik Jadi Penopang

Selain faktor eksternal, pergerakan nilai tukar dolar terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen domestik yang relatif positif. Komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar dinilai menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan kepercayaan pelaku pasar.

“BI biasanya melakukan intervensi secara aktif, baik di pasar spot, pasar obligasi, maupun melalui instrumen non-deliverable forward (NDF),” jelas Lukman.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kembali menegaskan kesiapan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. BI disebut tidak segan melakukan intervensi dalam skala besar, baik di pasar offshore NDF, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun di pasar spot domestik, guna meredam volatilitas nilai tukar yang berlebihan.

Bank Indonesia juga optimistis pergerakan rupiah ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Optimisme ini ditopang oleh sejumlah fundamental ekonomi domestik, seperti imbal hasil aset keuangan Indonesia yang relatif kompetitif, inflasi yang tetap terjaga dalam sasaran, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang masih solid di tengah perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia yang dinilai lebih dari cukup untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri jangka pendek turut menjadi bantalan penting bagi stabilitas nilai tukar. Dengan dukungan fundamental tersebut, pasar memperkirakan pergerakan kurs dolar AS terhadap rupiah dalam waktu dekat akan berada di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS, dengan volatilitas yang relatif terkendali.

Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan bank sentral utama dunia, serta langkah-langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, yang seluruhnya akan memengaruhi arah pergerakan rupiah.