Anak Purbaya Raup Rp64 Miliar Berawal dari Investasi Rp500 Ribu

Anak Purbaya Raup Rp64 Miliar Berawal dari Investasi Rp500 Ribu

Kisah sukses dari dunia aset kripto kembali menyita perhatian publik. Kali ini datang dari Yudo Achilles Sadewa, anak kedua Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang membagikan pengalamannya meraih keuntungan fantastis dari investasi kripto. Menariknya, cuan jumbo tersebut justru berasal dari meme coin—jenis aset digital yang dikenal berisiko sangat tinggi dan sarat spekulasi.

Yudo mengungkapkan bahwa perjalanan investasinya di dunia kripto dimulai sejak usia 14 tahun. Kala itu, ia hanya bermodalkan sekitar Rp500.000 untuk menjajal peruntungan di aset digital. Dengan rasa penasaran, keberanian mengambil risiko, serta ketekunan mempelajari pergerakan pasar, nilai investasinya terus berkembang. Dalam beberapa tahun, portofolio kriptonya melonjak tajam hingga mencapai sekitar US$4 juta atau setara Rp64 miliar (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS).

Keuntungan besar tersebut tidak berasal dari Bitcoin (BTC), aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar yang selama ini dikenal relatif lebih stabil dibandingkan kripto lainnya. Yudo justru meraup cuan dari meme coin, aset kripto yang awalnya sering dianggap sekadar candaan internet, namun mampu mencatatkan lonjakan harga ekstrem karena dorongan tren, viralitas, dan kekuatan komunitas.

“Meme coin itu coin yang lucu-lucuan, tapi bisa pump ratusan ribu sampai jutaan persen. Waktu itu gue dengar coin yang namanya Shiba Inu (SHIB). Tahun 2020 gue invest di situ, sekitar Rp1 juta atau Rp2 juta, kurang lebih sejutaan lah,” ujar Yudo.

Keputusan tersebut terbukti sangat menguntungkan. Sekitar satu tahun setelah investasi awalnya, harga Shiba Inu mengalami lonjakan luar biasa seiring meningkatnya minat investor ritel global. Modal yang awalnya hanya jutaan rupiah berubah menjadi sekitar Rp2 miliar hingga Rp3 miliar. Lonjakan harga SHIB pada periode tersebut juga tidak lepas dari faktor eksternal, termasuk sentimen pasar yang dipicu oleh tokoh publik seperti Elon Musk, yang kerap menyebut atau mengomentari aset kripto di media sosial X (sebelumnya Twitter).

Secara historis, Shiba Inu memang menjadi salah satu fenomena terbesar dalam dunia meme coin. Berdasarkan data pasar kripto global, SHIB sempat mencatatkan kenaikan jutaan persen sejak peluncurannya pada 2020, sebelum akhirnya mengalami volatilitas tajam seiring perubahan sentimen pasar dan regulasi di berbagai negara.

Yudo menyebutkan bahwa sebagian besar informasi mengenai meme coin ia peroleh dari komunitas daring, seperti forum kripto, grup Discord, Telegram, hingga media sosial. Menurutnya, komunitas memegang peran krusial dalam menentukan “hidup dan matinya” sebuah meme coin. Selain Shiba Inu, ia juga sempat menanamkan dana di Dogecoin (DOGE) serta Buff Dogecoin.

“Beberapa koin kayak Buff Doge itu sekarang udah mati, komunitasnya nggak aktif lagi,” kata Yudo.

Ia menambahkan bahwa bahkan komunitas Shiba Inu saat ini tidak seaktif masa keemasannya. Hal ini menunjukkan bahwa meme coin memiliki siklus yang sangat cepat: bisa melejit dalam waktu singkat, tetapi juga bisa kehilangan nilai secara drastis ketika hype mereda. Menurut Yudo, karakteristik ini membuat meme coin mirip dengan saham gorengan, yang pergerakannya lebih banyak didorong oleh sentimen dan spekulasi, bukan fundamental ekonomi yang kuat.

“Meme coin itu berdasarkan hype. Mirip saham gorengan. Strateginya bisa kayak tebar jaring. Misalnya punya US$100, disebar ke banyak meme coin yang kelihatannya potensial. Tunggu saja, dari US$1 bisa jadi US$1.200. Bisa kejadian. Tapi risikonya juga tinggi banget. Kalau meme coinnya gagal menarik minat komunitas, ya bisa jadi nol,” jelasnya.

Atas dasar pengalaman tersebut, Yudo menegaskan bahwa meme coin lebih tepat dipandang sebagai aktivitas spekulatif, bukan instrumen investasi jangka panjang. Ia mengingatkan bahwa potensi keuntungan besar selalu datang beriringan dengan risiko kehilangan seluruh modal.

Sebagai alternatif, Yudo menyarankan masyarakat yang ingin masuk ke dunia kripto untuk memulai dari aset yang relatif lebih mapan, seperti Bitcoin. Menurutnya, Bitcoin memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan altcoin dan meme coin karena didukung jaringan yang kuat, tingkat adopsi global yang luas, serta pasokan yang terbatas.

“Kalau mau investasi kripto yang lebih aman, beli Bitcoin dulu. Apalagi buat orang yang sibuk kerja. Misalnya gaji disisihin 5%–10% buat beli Bitcoin secara rutin. Daripada harus mantengin meme coin atau altcoin yang pergerakannya harus dipantau setiap hari,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, berbagai regulator global, termasuk otoritas di Indonesia, juga terus mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap aset kripto berisiko tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menekankan pentingnya literasi, manajemen risiko, serta penggunaan dana “dingin” yang siap hilang sebelum berinvestasi di aset digital.

Kisah Yudo Achilles Sadewa menjadi gambaran nyata tentang besarnya peluang sekaligus risiko di dunia kripto. Di satu sisi, keberanian, timing, dan pemahaman pasar dapat menghasilkan keuntungan luar biasa. Namun di sisi lain, volatilitas ekstrem dan ketergantungan pada hype membuat investasi kripto—terutama meme coin—menuntut kesiapan mental dan kesadaran penuh akan potensi kerugian total.