Akankah Rupiah Bangkit Hari Ini? Berikut Perkiraan Pergerakannya

Akankah Rupiah Bangkit Hari Ini? Berikut Perkiraan Pergerakannya

Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini, Sentimen Damai AS-Iran Tekan Dolar AS dan Harga Minyak

Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, seiring membaiknya sentimen pasar global setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu sumber ketidakpastian ekonomi dunia.

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada kisaran Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS. Prospek penguatan tersebut muncul setelah tekanan terhadap dolar AS mulai berkurang akibat meningkatnya optimisme investor terhadap stabilitas geopolitik global.

“Untuk perdagangan Rabu (17/6/2026), mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.690 sampai Rp17.728 per dolar AS,” ujar Ibrahim, Rabu (17/6/2026).

Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (16/6/2026), rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.725 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.708 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat menguat tipis sekitar 5 poin, namun tekanan dolar AS kembali meningkat menjelang penutupan pasar sehingga mata uang Garuda berakhir di zona merah.

Menurut Ibrahim, faktor utama yang mendukung prospek penguatan rupiah berasal dari perkembangan geopolitik global, terutama pengumuman Washington dan Teheran yang menyepakati kerangka awal perdamaian guna mengakhiri konflik kedua negara. Kesepakatan tersebut juga mencakup pembahasan pembukaan kembali jalur distribusi energi internasional melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.

Selama ini, ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik AS-Iran, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Kondisi itu membuat investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset safe haven. Namun, munculnya sinyal perdamaian membuat arus dana mulai kembali mengalir ke aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Kesepakatan awal tersebut dinilai mampu meredakan risiko gangguan energi global yang selama ini menjadi perhatian utama investor internasional. Rencana penandatanganan resmi yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan ini semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa ketegangan geopolitik akan segera mereda

Harga Minyak Turun, Tekanan Inflasi Global Berkurang

Sentimen positif pasar juga semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent turun tajam dan sempat menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Pada perdagangan internasional, Brent diperdagangkan turun di bawah level US$67 per barel, jauh lebih rendah dibanding posisi beberapa pekan sebelumnya.

Penurunan harga energi tersebut dipandang positif bagi perekonomian global karena dapat membantu menekan inflasi yang masih menjadi perhatian banyak bank sentral dunia. Dengan biaya energi yang lebih rendah, tekanan harga barang dan jasa diperkirakan ikut menurun sehingga membuka ruang bagi pemulihan ekonomi yang lebih stabil

“Minyak mentah Brent jatuh ke level terendah tiga bulan pada hari Senin, sementara pasar saham global bergerak menguat karena ekspektasi biaya energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi,” kata Ibrahim.

Sejumlah indeks saham utama dunia merespons positif perkembangan tersebut. Bursa saham Asia, Eropa, hingga Wall Street tercatat menguat setelah investor menilai risiko perlambatan ekonomi global berpotensi menurun apabila harga energi tetap terkendali.

Dolar AS Mulai Kehilangan Momentum

Selain faktor geopolitik, pelemahan dolar AS juga dipengaruhi perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).

Pelaku pasar kini menilai The Fed berpotensi mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga pada semester kedua 2026 apabila inflasi AS terus menunjukkan tren penurunan. Kondisi tersebut membuat indeks dolar AS (DXY) mengalami koreksi dan memberi ruang penguatan bagi sejumlah mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Beberapa analis global mencatat indeks dolar bergerak melemah mendekati level psikologis 97, setelah sebelumnya bertahan di level tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter ketat.

Bagi Indonesia, pelemahan dolar menjadi kabar positif karena dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam beberapa bulan terakhir berada di bawah tekanan eksternal, terutama akibat arus modal keluar dan tingginya permintaan dolar dari sektor impor.

Bank Indonesia Terus Jaga Stabilitas Rupiah

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap terkendali. Intervensi di pasar valas, penguatan strategi triple intervention, serta pengelolaan likuiditas menjadi instrumen utama BI menghadapi volatilitas global.

Bank Indonesia sebelumnya menegaskan bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat dengan inflasi yang relatif terjaga, cadangan devisa yang stabil, serta pertumbuhan ekonomi yang masih berada di jalur positif.

Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati perkembangan lanjutan dari negosiasi AS-Iran. Pasar menilai sentimen positif saat ini masih bersifat sementara karena implementasi perjanjian damai permanen masih harus melalui tahapan diplomasi lanjutan.

Jika proses negosiasi berjalan lancar dan harga energi global tetap stabil, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan dalam beberapa sesi perdagangan ke depan. Namun, apabila muncul kembali ketegangan geopolitik atau perubahan sikap dari Federal Reserve, volatilitas di pasar keuangan diperkirakan masih akan tetap tinggi.