Bahlil: Investor Siap Bangun Fasilitas Penyimpanan Minyak Mentah di RI, Targetkan Cadangan Energi 90 Hari

Bahlil: Investor Siap Bangun Fasilitas Penyimpanan Minyak Mentah di RI, Targetkan Cadangan Energi 90 Hari

Pemerintah memastikan proyek pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) di Indonesia telah mengantongi komitmen investasi. Infrastruktur strategis ini dipersiapkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya melalui peningkatan kapasitas cadangan minyak dan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri yang selama ini masih terbatas.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa investor yang terlibat dalam proyek tersebut berasal dari kombinasi investor domestik dan investor asing. Namun, ia menegaskan bahwa keterlibatan investor luar negeri tersebut tidak berasal dari Amerika Serikat.

“Investasinya sudah ada, investornya sudah ada,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (4/3/2026).

Menurut Bahlil, proyek pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah ini akan sepenuhnya digarap oleh pihak swasta. Pemerintah berperan sebagai regulator sekaligus fasilitator untuk memastikan proyek berjalan sesuai dengan kepentingan nasional, baik dari sisi keamanan energi, efisiensi logistik, maupun kepastian pasokan BBM.

“Investasinya dicampur dari dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan AS. Yang membangun (storage) swasta,” tegasnya.

Upaya Strategis Perkuat Ketahanan Energi

Pembangunan crude oil storage menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global, fluktuasi harga minyak dunia, serta potensi gangguan rantai pasok energi internasional.

Saat ini, kapasitas penyimpanan minyak Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak negara lain, terutama negara-negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi. Kondisi tersebut membuat Indonesia relatif rentan terhadap gejolak pasokan maupun lonjakan harga minyak global.

Melalui pembangunan fasilitas penyimpanan baru, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan kapasitas cadangan minyak nasional dalam beberapa tahun ke depan. Infrastruktur ini juga diharapkan dapat mendukung efisiensi distribusi BBM, mengurangi risiko kelangkaan, serta memberikan ruang fiskal yang lebih fleksibel bagi pemerintah dalam mengelola impor minyak.

Target Cadangan Energi Nasional 90 Hari

Bahlil menjelaskan bahwa proyek pembangunan storage minyak mentah ini secara khusus ditujukan untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional hingga mencapai standar internasional.

Saat ini, kemampuan penyimpanan minyak Indonesia hanya berada pada kisaran 25 hingga 26 hari. Dengan tambahan fasilitas baru, pemerintah menargetkan kapasitas cadangan minyak nasional dapat meningkat hingga 90 hari atau setara dengan sekitar tiga bulan kebutuhan nasional.

“Bapak Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar segera membangun storage. Kita butuh survival. Kalau tidak, nanti kita akan terus bergantung,” ujar Bahlil.

Ia menambahkan bahwa keterbatasan kapasitas penyimpanan selama ini menjadi penghambat utama dalam memperbesar cadangan BBM nasional. Secara historis, daya tampung BBM Indonesia memang hanya berada di kisaran maksimal 25 hari, sehingga standar cadangan nasional selama ini berkisar antara 20 hingga 23 hari.

“Saya sampaikan bahwa kemampuan daya tampung BBM kita sejak lama memang maksimal 25 hari. Karena itu, cadangan nasional kita hanya berada di level minimal 20 sampai 23 hari,” jelasnya.

Bukan Pasokan, Tapi Masalah Tempat Penyimpanan

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa keterbatasan cadangan BBM nasional bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan minyak, melainkan karena belum memadainya fasilitas penyimpanan yang tersedia saat ini.

“Bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak, tapi sekarang mau taruh di mana? Storage kita belum memadai,” katanya.

Kondisi ini membuat pemerintah harus bergerak cepat membangun infrastruktur pendukung agar Indonesia memiliki bantalan energi yang cukup kuat, terutama dalam menghadapi krisis global, konflik geopolitik, atau gangguan distribusi internasional.

Dengan adanya tambahan fasilitas penyimpanan minyak mentah dan BBM, pemerintah menargetkan cadangan energi nasional ke depan dapat ditingkatkan hingga mencapai tiga bulan. Capaian ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor, memperkuat stabilitas ekonomi, serta menjaga keberlanjutan pasokan energi bagi industri dan masyarakat.

Lokasi dan Kajian Proyek

Terkait lokasi pembangunan, Bahlil mengungkapkan bahwa salah satu wilayah yang pernah dikaji sebagai lokasi potensial berada di Pulau Sumatera. Wilayah tersebut dinilai strategis karena dekat dengan jalur distribusi energi, memiliki akses pelabuhan, serta berdekatan dengan pusat konsumsi dan industri.

Pemerintah saat ini masih melakukan kajian lanjutan terkait aspek teknis, lingkungan, dan keekonomian proyek sebelum menentukan lokasi final dan kapasitas penyimpanan yang akan dibangun.