Bikin Dompet Menjerit, Cabai Rawit Kini Dibanderol Rp 75.750 per Kg

Bikin Dompet Menjerit, Cabai Rawit Kini Dibanderol Rp 75.750 per Kg

Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp75.750 per Kg, Telur Ayam Rp30.350 per Kg pada 16 Juni 2026

Harga sejumlah komoditas pangan nasional kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah yang menembus angka Rp75.750 per kilogram (kg), sementara harga telur ayam ras berada di level Rp30.350 per kg.

Data tersebut berdasarkan laporan terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia, sebagaimana dikutip dari Antara pada Selasa pagi pukul 07.00 WIB.

Lonjakan harga cabai kembali menjadi perhatian masyarakat karena komoditas ini termasuk bahan pangan utama yang hampir selalu digunakan dalam konsumsi rumah tangga maupun industri kuliner di Indonesia.

Selain cabai rawit merah, harga beberapa jenis cabai lainnya juga masih menunjukkan tren kenaikan. Harga cabai merah besar tercatat mencapai Rp59.100 per kg, sedangkan cabai merah keriting berada di angka Rp55.400 per kg. Untuk cabai rawit hijau, harga tercatat menembus Rp54.650 per kg.

Kenaikan harga cabai ini disebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari berkurangnya pasokan akibat perubahan cuaca ekstrem di sejumlah daerah sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Barat, hingga meningkatnya biaya distribusi logistik.

Harga Bawang Masih Tinggi

Tidak hanya cabai, komoditas bumbu dapur lainnya juga masih bertahan di level tinggi. Harga bawang merah secara nasional tercatat mencapai Rp55.000 per kg, sementara bawang putih berada di angka Rp42.650 per kg.

Sejumlah pedagang pasar tradisional mengaku harga bawang dan cabai belum menunjukkan tanda-tanda penurunan dalam dua pekan terakhir. Tingginya harga ini mulai memengaruhi daya beli masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil seperti warung makan dan pedagang kaki lima.

Harga Beras Beragam Berdasarkan Kualitas

Untuk komoditas beras, PIHPS mencatat harga masih relatif stabil meskipun beberapa jenis premium mulai mengalami kenaikan tipis.

Harga beras kualitas bawah I berada di level Rp14.650 per kg, sedangkan beras kualitas bawah II dijual sekitar Rp14.500 per kg.

Sementara itu, beras kualitas medium I tercatat sebesar Rp16.250 per kg dan beras medium II berada di angka Rp16.100 per kg.

Untuk kategori premium, harga beras kualitas super I mencapai Rp17.550 per kg, sedangkan beras kualitas super II berada di angka Rp17.050 per kg.

Kenaikan harga beras premium ini mulai menjadi perhatian pemerintah karena dapat berdampak langsung terhadap inflasi pangan nasional.

Harga Daging dan Protein Hewani

Pada komoditas protein hewani, harga daging ayam ras segar tercatat sebesar Rp37.050 per kg.

Sementara harga telur ayam ras berada di angka Rp30.350 per kg, naik dibanding rata-rata harga bulan sebelumnya yang berada di kisaran Rp28.000-Rp29.000 per kilogram.

Untuk daging sapi, harga daging sapi kualitas I tercatat sebesar Rp149.100 per kg, sedangkan daging sapi kualitas II berada di level Rp140.100 per kg.

Pengamat ekonomi menilai kenaikan harga protein hewani dipicu meningkatnya harga pakan ternak global, terutama jagung dan kedelai impor yang menjadi bahan utama industri peternakan nasional.

Harga Minyak Goreng Masih Bertahan Tinggi

Di sektor minyak goreng, harga minyak goreng curah tercatat berada di level Rp20.600 per liter.

Sedangkan minyak goreng kemasan bermerek I mencapai Rp24.150 per liter, dan minyak goreng kemasan bermerek II menyentuh harga Rp23.300 per liter.

Meski pasokan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) global relatif stabil, harga minyak goreng di tingkat konsumen masih dipengaruhi biaya distribusi dan fluktuasi pasar ekspor.

Bulog Usulkan Program Beraskita Premium

Di tengah kenaikan harga pangan, Perum Bulog mengusulkan program baru bernama Beraskita Premium sebagai upaya menjaga stabilitas harga beras premium di pasaran.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan pihaknya telah mengajukan usulan tersebut kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

Program ini diharapkan mampu meniru keberhasilan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang selama ini berfokus pada beras medium.

“Kami hanya mengusulkan malah untuk membuat Beraskita premium. Jadi beras premium lagi agak naik, supaya menstabilisasi beras premium, Beraskita premium harus ada,” kata Rizal di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Menurut Rizal, saat ini pemerintah masih melakukan kajian sebelum memberikan persetujuan final terhadap pelaksanaan program tersebut.

Harga Beraskita Premium Diusulkan Sesuai HET

Dalam skema awal yang diusulkan Bulog, Beraskita Premium akan dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp14.900 per kilogram.

Angka tersebut lebih tinggi dibanding harga beras SPHP yang saat ini dipasarkan dengan harga Rp12.500 per kilogram.

“Tadi saya memberikan saran di rapat dibuatkan program beras kita premium, seperti beras SPHP. SPHP yang sekarang beras medium tuh,” ujar Rizal.

Ia berharap program tersebut dapat segera disetujui agar membantu menekan gejolak harga pangan nasional.

“Ini saya baru ngajukan saran, belum di-approve. Harapannya bisa di-approve sehingga untuk menstabilkan harga-harga semua. As soon as possible bisa terlaksana, biar masyarakat tenang,” tambahnya.

Inflasi Pangan Jadi Perhatian Pemerintah

Bank Indonesia sebelumnya menyampaikan bahwa kelompok volatile food atau pangan bergejolak masih menjadi salah satu penyumbang utama tekanan inflasi sepanjang semester pertama 2026.

Komoditas seperti cabai, beras, telur ayam, bawang, dan minyak goreng tercatat mengalami fluktuasi harga cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama pemerintah daerah juga terus memperluas program operasi pasar murah di berbagai wilayah guna menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Ekonom memperkirakan jika tren kenaikan harga pangan terus berlanjut hingga kuartal ketiga 2026, maka daya beli rumah tangga berpotensi tertekan, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Masyarakat Mulai Kurangi Konsumsi Beberapa Komoditas

Kenaikan harga sejumlah bahan pokok membuat sebagian masyarakat mulai menyesuaikan pola belanja harian.

Pedagang warung makan di Jakarta, Surabaya, dan Bandung mengaku mulai mengurangi penggunaan cabai dan menyesuaikan ukuran porsi makanan demi menjaga harga jual tetap terjangkau.

Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat mempercepat langkah stabilisasi melalui peningkatan distribusi pangan, penguatan stok nasional, serta pengawasan distribusi agar kenaikan harga tidak semakin memberatkan masyarakat.

Analis memperkirakan harga pangan masih akan bergerak fluktuatif hingga memasuki musim panen berikutnya pada akhir kuartal ketiga 2026.