Bitcoin Anjlok di Bawah USD 92.500 Akibat Memanasnya Ketegangan Tarif AS–UE

Bitcoin Anjlok di Bawah USD 92.500 Akibat Memanasnya Ketegangan Tarif AS–UE

Bitcoin, Ethereum, dan pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan tajam hari ini. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE), yang semakin menekan sentimen pasar kripto yang sudah rapuh.

Berdasarkan data dari The Block, harga Bitcoin turun sekitar 3% hanya dalam beberapa jam, dari USD 95.500 pada Minggu sore menjadi USD 92.474 pada Minggu malam waktu AS. Penurunan ini diikuti oleh aset kripto utama lainnya seperti Ethereum, XRP, dan Solana.

Akibat penurunan mendadak tersebut, lebih dari USD 750 juta posisi long terlikuidasi dalam waktu empat jam terakhir, menurut data Coinglass. Para analis menilai aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh kekhawatiran meningkatnya tensi perang tarif antara AS dan UE.

Peneliti Presto Research, Min Jung, mengatakan pasar kripto saat ini terlihat lebih lemah dibandingkan kelas aset berisiko lainnya. Meski isu perang dagang AS–UE berdampak besar pada sentimen, aset berisiko lain seperti indeks saham Korea Selatan (KOSPI) justru bergerak stabil atau menguat. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan kripto bersifat spesifik, dengan investor lebih memilih aset berisiko lain.

Ketegangan Dagang AS–UE Meningkat

Kekhawatiran pasar meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara Eropa. Tarif tersebut akan dimulai dari 10% pada 1 Februari dan bisa naik hingga 25% pada Juni, kecuali Denmark bersedia menjual Greenland kepada Amerika Serikat. Negara-negara yang terdampak termasuk Denmark, Prancis, Jerman, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya.

Para pemimpin Eropa mengecam keras langkah tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk “pemerasan”. Mereka juga memperingatkan potensi memburuknya hubungan antara AS dan Eropa. Mengutip laporan Reuters, pejabat Uni Eropa kini tengah menyiapkan langkah balasan, termasuk pembatasan layanan perusahaan AS di Eropa, pengenaan pajak baru terhadap perusahaan Amerika, hingga pembatasan investasi.

Analis kripto BTC Markets, Rachael Lucas, mengatakan bahwa isu perang dagang terbaru ini menambah volatilitas di pasar yang sudah tidak stabil. Namun, ia menegaskan bahwa faktor geopolitik bukan penyebab utama koreksi pasar kripto saat ini.

Menurut Lucas, sentimen pasar kripto telah melemah sejak pembahasan RUU struktur pasar kripto di AS tertunda. Kondisi ini diperburuk setelah Coinbase menarik dukungannya, sehingga Komite Perbankan Senat AS menunda jadwal pembahasan lanjutan.

Selain itu, Bitcoin telah bergerak konsolidasi selama beberapa bulan setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 126.000 pada Oktober 2025. Banyak trader mulai melakukan aksi ambil untung. Penembusan harga di bawah rata-rata pergerakan 50 minggu memicu aksi jual otomatis, sementara ETF Bitcoin spot mencatat arus keluar dana sebesar USD 4,4 miliar pada November dan Desember. Minat perdagangan di pasar derivatif juga menurun tajam.

Jika tekanan makroekonomi ini berlanjut, Lucas memperkirakan harga Bitcoin berpotensi turun ke kisaran USD 67.000–74.000. Meski demikian, ia menegaskan kondisi ini tidak bisa disamakan dengan “crypto winter” sebelumnya, karena industri kripto kini lebih matang dan mendapat sinyal regulasi yang lebih positif.