Bitcoin Berisiko Melanjutkan Penurunan karena Momentum Melemah di Bawah Level Support Utama

Bitcoin Berisiko Melanjutkan Penurunan karena Momentum Melemah di Bawah Level Support Utama

Bitcoin Masih Rentan Meski Mulai Stabil

Harga Bitcoin mulai stabil setelah mengalami tekanan jual besar, namun para analis memperingatkan bahwa momentum masih melemah dan pasar kripto tetap rentan terhadap penurunan lanjutan.

Firma perdagangan kripto QCP Capital menyebut Bitcoin saat ini bertahan di atas US$74.500, tetapi pergerakan harganya masih rapuh dan arah momentum masih cenderung turun. Kenaikan harga juga dinilai terbatas karena adanya area resistance terdekat, sehingga pasar kripto secara keseluruhan masih berisiko mengalami likuidasi lanjutan.

QCP menilai beberapa sesi perdagangan ke depan akan sangat krusial. Jika Bitcoin turun dan bertahan di bawah US$74.000, potensi koreksi yang lebih dalam di pasar kripto bisa terjadi. Sebaliknya, jika harga mampu kembali menembus US$80.000, pasar bisa mendapatkan sedikit dorongan pemulihan dalam jangka pendek.

Para trader juga memantau kemungkinan adanya pembelian dari investor institusi di area US$76.000, meredanya ketegangan geopolitik, serta sinyal kebijakan yang lebih longgar (dovish) dari bank sentral AS, The Federal Reserve.

Sebelumnya, Bitcoin sempat turun hingga US$73.100 saat sesi perdagangan AS, sebelum memangkas sebagian kerugian. Berdasarkan data CoinGecko, Bitcoin masih turun sekitar 1,7% dan diperdagangkan di kisaran US$76.400.

Kekhawatiran juga datang dari luar pasar kripto. Michael Burry, investor yang dikenal lewat film The Big Short, memperingatkan bahwa likuiditas global yang semakin ketat membuat aset berisiko, termasuk kripto, berada dalam kondisi rapuh.

Menurut Burry, jika Bitcoin turun di bawah US$70.000, institusi yang memiliki Bitcoin berpotensi mengalami kerugian besar dan akses pendanaan bagi perusahaan seperti Strategy bisa semakin terbatas. Penurunan lebih dalam menuju US$60.000 dapat memicu tekanan serius bagi perusahaan milik Michael Saylor tersebut. Bahkan, jika harga anjlok ke US$50.000, penambang Bitcoin berisiko bangkrut dan terpaksa menjual cadangan mereka.

Ia juga memperingatkan bahwa kejatuhan Bitcoin yang ekstrem dapat berdampak ke pasar logam, baik logam bertoken (tokenized metals) maupun logam fisik.

Pandangan ini sejalan dengan pelaku industri kripto lainnya. Trantor, pimpinan bursa terdesentralisasi Etherex, mengatakan bursa terpusat (CEX) masih menjadi pemegang dominan, sementara penggunaan leverage yang tinggi terus memperbesar volatilitas harga dalam jangka pendek.

Selama leverage belum benar-benar “dibersihkan” dari sistem dan pembeli spot belum kembali mengendalikan pasar, Bitcoin diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan tingkat ketidakpastian dan risiko penurunan yang tinggi.

Meski demikian, Trantor menilai perbaikan kondisi likuiditas, suku bunga yang lebih rendah, serta situasi global yang lebih stabil berpotensi mengubah sentimen pasar secara signifikan.

Dari sisi makroekonomi, risiko global masih menjadi faktor utama. Peneliti Four Pillars, Siwon Huh, menyoroti ketidakpastian terkait penunjukan Kevin Warsh, ketegangan geopolitik dengan Iran, penurunan harga logam mulia, serta tingginya risiko pada saham-saham berbasis AI sebagai faktor yang menekan pasar.

Secara teknikal, area US$74.000 dianggap sebagai level support psikologis yang sangat penting. Level ini merupakan titik terendah siklus tahun 2025 sekaligus mendekati harga rata-rata pembelian Strategy. Jika level ini jebol, potensi penurunan tajam disertai arus keluar dana institusi dinilai semakin besar.

Sinyal dari prediction market juga menunjukkan risiko penurunan masih kuat. Pasar ini memperkirakan peluang Bitcoin diperdagangkan di bawah US$55.000 pada 2026 hampir 50%, serta peluang sekitar 78% untuk turun ke kisaran US$65.000.

Di Myriad Markets, mayoritas trader kini bersikap bearish. Sekitar 74% pengguna memperkirakan Bitcoin akan turun ke US$69.000, bukan naik ke US$100.000, naik tajam dari 30% pada akhir Januari.

Secara keseluruhan, analis menilai stabilisasi pasar kripto baru akan terjadi setelah tekanan jual paksa mereda dan investor kembali berani menempatkan modal baru. Hingga saat itu, risiko penurunan harga masih terbuka lebar.