BRI Bantu Desa Tompobulu Kembangkan Potensi Lokal untuk Perkuat Ekonomi
Berawal dari desa berbasis pertanian yang berada di kawasan perbukitan Sulawesi Selatan, Desa Tompobulu di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, kini bertransformasi menjadi salah satu desa wisata yang adaptif, produktif, dan berdaya saing. Perubahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan penguatan potensi lokal, kolaborasi masyarakat, serta pemanfaatan peluang ekonomi berbasis pariwisata dan digitalisasi.
Transformasi Desa Tompobulu menunjukkan bagaimana desa-desa di Indonesia semakin mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism). Dengan memaksimalkan potensi alam, budaya, dan kearifan lokal, desa ini berhasil menjadikan sumber daya yang sebelumnya bersifat tradisional menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi masyarakat.
Kuliner Tradisional dan Identitas Ekonomi Lokal
Salah satu kekuatan utama Desa Tompobulu terletak pada kekayaan kuliner tradisionalnya. Produk lokal seperti saraba daun kelor—minuman berbahan dasar jahe yang dipadukan dengan daun kelor—menjadi identitas khas yang tidak hanya mencerminkan budaya lokal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang terus berkembang.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren produk herbal dan minuman tradisional berbasis tanaman lokal seperti kelor memang mengalami peningkatan permintaan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini membuka peluang bagi masyarakat desa untuk memperluas pasar, tidak hanya secara lokal tetapi juga ke luar daerah melalui pemasaran digital dan jaringan distribusi UMKM.
Prestasi Desa dan Pengakuan Nasional
Perkembangan Desa Tompobulu juga tercermin dari berbagai capaian dan penghargaan yang diraih di tingkat nasional maupun daerah. Desa ini pernah meraih pengakuan dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), mengikuti berbagai kompetisi desa wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga masuk dalam nominasi program pengembangan desa unggulan seperti Desa BRILiaN.
Program Desa BRILiaN yang diinisiasi oleh Bank Rakyat Indonesia sendiri merupakan inisiatif pemberdayaan desa yang berfokus pada penguatan ekonomi berbasis komunitas, digitalisasi layanan keuangan, serta pengembangan inovasi lokal.
Kepala Desa Tompobulu, Abdul Kadir Hakim, menegaskan bahwa berbagai pencapaian tersebut menjadi dorongan moral sekaligus motivasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan dan tidak berhenti pada prestasi semata.
Pariwisata Alam sebagai Penggerak Ekonomi Baru
Seiring meningkatnya perhatian terhadap desa wisata di Indonesia, sektor pariwisata di Tompobulu berkembang menjadi salah satu pilar ekonomi utama. Desa ini memiliki sejumlah destinasi wisata alam yang tersebar di kawasan sekitar Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, salah satu kawasan konservasi penting di Sulawesi Selatan.
Salah satu destinasi unggulan adalah Puncak Pendagang Bulu Sarang di Dusun Bulu-Bulu yang berada di ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini menawarkan panorama perbukitan, udara sejuk, serta daya tarik ekowisata yang semakin diminati wisatawan domestik, terutama di tengah tren wisata alam dan healing tourism yang meningkat di Indonesia pascapandemi.
Pertumbuhan sektor wisata ini juga memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi lokal, khususnya dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
UMKM, Kearifan Lokal, dan Ekonomi Gotong Royong
Perkembangan pariwisata turut mendorong tumbuhnya UMKM berbasis kearifan lokal. Produk seperti saraba daun kelor kini tidak hanya dipasarkan secara tradisional, tetapi juga mulai menjangkau pasar yang lebih luas melalui promosi digital, media sosial, dan platform e-commerce.
Selain itu, usaha gula aren di Desa Tompobulu masih mempertahankan proses produksi tradisional berbasis gotong royong. Sistem ini tidak hanya menjaga kualitas produksi, tetapi juga memperkuat nilai sosial dan solidaritas antarwarga desa. Model ekonomi berbasis komunitas seperti ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan ekonomi desa.
Peran BUMDes dalam Penguatan Ekonomi Desa
Peran kelembagaan desa juga menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih terstruktur. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Tompobulu terus mengembangkan berbagai unit usaha yang mendukung kebutuhan masyarakat, seperti layanan internet desa, depot air minum isi ulang, hingga usaha produktif lainnya yang berbasis kebutuhan lokal.
BUMDes berperan sebagai jembatan antara potensi desa dan pasar, sekaligus menjadi instrumen penting dalam meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes). Dalam konteks nasional, penguatan BUMDes juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa sebagai fondasi ekonomi nasional.
Dukungan Digitalisasi dan Layanan Keuangan Inklusif
Dukungan sektor perbankan menjadi salah satu faktor kunci dalam mempercepat transformasi ekonomi desa. Melalui berbagai layanan inklusif, Bank Rakyat Indonesia hadir dalam mendukung akses pembiayaan, digitalisasi transaksi, dan penguatan ekosistem usaha mikro.
Program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi salah satu instrumen penting dalam memberikan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM desa dengan bunga rendah dan skema yang lebih mudah dijangkau. Di sisi lain, pemanfaatan BRImo dan sistem pembayaran digital berbasis QRIS semakin mempercepat inklusi keuangan di tingkat desa, memungkinkan transaksi non-tunai yang lebih efisien dan transparan.
Selain itu, keberadaan Agen AgenBRILink yang terhubung langsung dengan BUMDes juga memperluas akses layanan keuangan hingga ke pelosok desa, sehingga masyarakat tidak perlu lagi bergantung pada kantor cabang bank di perkotaan.
Desa BRILiaN dan Arah Pembangunan Berkelanjutan
Direktur Mikro Bank Rakyat Indonesia, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa program Desa BRILiaN merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan.
Program ini dirancang berdasarkan empat pilar utama, yaitu penguatan kelembagaan desa seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi layanan keuangan, pengembangan ekonomi berkelanjutan, serta inovasi desa berbasis potensi lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, program seperti ini sejalan dengan tren nasional dan global yang menekankan pentingnya pembangunan berbasis desa, penguatan ekonomi hijau, serta transformasi digital untuk meningkatkan daya saing wilayah pedesaan.
Penutup
Transformasi Desa Tompobulu menunjukkan bahwa desa bukan lagi sekadar wilayah agraris tradisional, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu bersaing melalui inovasi, digitalisasi, dan penguatan potensi lokal. Dengan dukungan masyarakat, kelembagaan desa, serta kolaborasi dengan sektor perbankan, desa ini menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan berbasis komunitas dapat menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
0 Comments