Cathie Wood: AI Akan Dorong Lonjakan Investasi Besar Jangka Panjang
Cathie Wood melalui ARK Investment Management menilai dunia sedang memasuki fase awal ledakan belanja modal (CapEx) jangka panjang yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI), bukan lagi oleh infrastruktur konvensional seperti jalan atau pabrik.
Dalam laporan terbarunya, ARK menyoroti tiga tren besar yang saling berkaitan. Pertama, model AI berkembang semakin cepat dan makin canggih. Kedua, banyak produsen otomotif lama mulai mundur dari ekspansi kendaraan listrik (EV). Ketiga, terjadi konvergensi besar antara AI, robotika, dan biologi, yang membuka peluang terobosan baru.
Pandangan ini juga diamini oleh pelaku besar Wall Street. Goldman Sachs, misalnya, menaikkan proyeksi belanja AI global pada 2026 menjadi US$527 miliar, karena belanja perusahaan cloud raksasa tumbuh jauh lebih cepat dari perkiraan. Perusahaan ini dikenal sebagai hyperscaler, seperti Google Cloud, Amazon Web Services (AWS), dan Microsoft Azure, yang menyediakan infrastruktur komputasi berskala besar untuk AI dan teknologi kripto.
ARK menilai belanja besar yang dilakukan Amazon dan Google bukan ancaman bagi laba jangka pendek. Sebaliknya, investasi ini dipandang sebagai fondasi lonjakan produktivitas yang berpotensi mengubah berbagai sektor industri, termasuk blockchain dan kripto.
Pandangan serupa juga disampaikan BlackRock dalam Global Outlook 2026. Lembaga ini menyebut neraca keuangan raksasa teknologi kini cukup besar untuk memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional dan likuiditas pasar global.
Menurut analis ARK, pengembangan AI skala besar membutuhkan investasi infrastruktur yang sangat besar. Mereka mencatat proyeksi belanja modal terbaru dari Google dan Amazon jauh melampaui ekspektasi pasar.
Meski demikian, ada risiko yang perlu diperhatikan. Ryan Yoon dari Tiger Research mengatakan lonjakan investasi juga berarti perusahaan menarik ekspektasi masa depan ke saat ini melalui peningkatan utang. Tantangan utamanya adalah apakah AI agent dan sistem otonom benar-benar mampu mengubah belanja besar tersebut menjadi pendapatan nyata—isu yang juga relevan bagi proyek AI dan kripto.
Perkembangan terbaru menunjukkan betapa cepatnya perubahan ini. OpenAI merilis GPT-5.3-Codex, yang diklaim mampu membantu melatih dirinya sendiri, serta meluncurkan platform enterprise bernama Frontier. Di sisi lain, Anthropic merilis plugin open-source untuk agen AI Claude Cowork.
ARK mencatat biaya pengembangan software kini semakin murah berkat AI. Dampaknya, nilai pasar saham software AS turun sekitar US$300 miliar, karena investor khawatir “benteng bisnis” (moat) software tradisional mulai runtuh. Fenomena ini juga relevan bagi proyek Web3 dan startup kripto yang semakin mudah membangun produk dengan biaya rendah.
Analis menyebut kondisi ini sebagai “SaaS-pocalypse”, di mana dominasi software enterprise lama tergerus oleh tools AI-native yang bisa membangun dan mengembangkan aplikasi dengan biaya hampir nol.
Sementara belanja AI terus melonjak, ARK melihat tren sebaliknya di sektor otomotif. Beberapa produsen besar seperti Stellantis, Volkswagen, General Motors, dan Ford mencatat penurunan nilai aset EV hingga US$59 miliar.
Tekanan ini muncul di tengah kondisi global “higher for longer”, di mana suku bunga tinggi bertahan lebih lama, ditambah ketidakpastian makro dan geopolitik. Faktor risikonya meliputi krisis obligasi Jepang, pelemahan dolar AS selama 12 bulan terakhir, perang Rusia–Ukraina, ketegangan China–Taiwan, hingga aksi militer AS di Venezuela.
Analisis JP Morgan untuk 2026 menyebut perusahaan lama cenderung memangkas biaya demi menjaga dividen. Sebaliknya, perusahaan yang sudah mengintegrasikan AI memanfaatkan kondisi ini untuk memperlebar keunggulan kompetitif mereka—mirip dengan proyek kripto yang terus membangun saat pasar sedang lesu.
ARK juga menilai konvergensi paling futuristik terjadi di sektor bioteknologi. Mereka menyoroti kolaborasi OpenAI dan Ginkgo Bioworks untuk membangun laboratorium robotik otonom dalam penemuan obat.
Sistem ini menggunakan AI untuk merancang eksperimen, robot untuk menjalankannya, lalu data hasilnya dikembalikan ke AI. Proses ini berjalan dalam loop tertutup tanpa campur tangan manusia, konsep yang sejalan dengan otomatisasi dalam smart contract dan DAO di dunia kripto.
Secara keseluruhan, laporan Big Ideas 2026 ARK menegaskan bahwa ratusan miliar dolar investasi AI saat ini berpotensi menghasilkan imbal hasil jangka panjang yang signifikan, berkat lonjakan produktivitas di hampir semua industri.
ARK menegaskan, belanja AI saat ini bukan sekadar biaya, melainkan uang muka menuju masa depan ekonomi digital—termasuk ekosistem kripto—yang jauh lebih terotomatisasi dan efisien.
0 Comments