Ethereum Terancam Turun ke $1.500, Peluang Kehilangan “Mahkota” Meningkat
Ethereum baru saja mengalami salah satu kuartal terburuknya dalam beberapa tahun terakhir. Kripto terbesar kedua ini turun lebih dari 30% pada tiga bulan pertama 2026, dipicu oleh perang tarif yang dipelopori oleh Donald Trump serta meningkatnya ketegangan geopolitik yang turut menekan pasar kripto dan saham.
Saat ini, ETH diperdagangkan di sekitar $2.113, turun jauh dari puncaknya yang hampir menyentuh $5.000 pada Agustus 2025—penurunan sekitar 57%. Kondisi ini membuat sebagian pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah Ethereum masih mampu mempertahankan posisinya sebagai kripto nomor dua.
Di platform prediksi Polymarket, peluang Ethereum kehilangan posisi #2 dari Tether kini mencapai hampir 60%. Angka ini melonjak drastis dari hanya 17% di awal tahun, menurut media kripto Coin Bureau. Untuk hal ini terjadi, hanya dibutuhkan penurunan lanjutan, sementara suplai USDT terus meningkat seiring tingginya permintaan dolar, terutama di negara berkembang.
Secara perhitungan, jika kapitalisasi pasar Ethereum turun sekitar 27% lagi, maka USDT bisa mengambil alih posisi #2. Dalam kondisi pasar saat ini, skenario tersebut tidak lagi terdengar mustahil. Trader kripto TedPillows menyebut bahwa meskipun ETH sempat kembali ke level $2.000 dan berpotensi naik ke kisaran $2.100–$2.150, tren besarnya masih cenderung turun.
Namun, pandangan jangka panjang dari institusi besar masih cukup optimistis. Standard Chartered mempertahankan target harga Ethereum di $7.500 pada akhir 2026. Sementara itu, Citigroup menurunkan target 12 bulannya menjadi $3.175, tetapi tetap melihat potensi kenaikan sekitar 50% dari harga saat ini. Untuk mencapai target tinggi tersebut, dibutuhkan perubahan sentimen pasar yang signifikan.
Salah satu potensi katalis adalah upgrade jaringan “Glamsterdam” yang dijadwalkan pada bulan Juni. Analis kripto Marietemar menyebut bahwa secara historis Ethereum bisa naik 25–40% dalam 6–8 minggu sebelum upgrade besar, dengan target harga di kisaran $2.600–$2.800. Trader lain, MerlijnTrader, juga melihat sinyal teknikal positif dan memperkirakan potensi kenaikan hingga $3.350.
Penurunan Ethereum kali ini terjadi bersamaan dengan gejolak pasar global akibat kebijakan tarif AS terhadap China. Total kapitalisasi pasar kripto turun, dan sentimen investor memburuk. Meski begitu, ada faktor baru dalam siklus ini, yaitu meningkatnya akses institusi besar ke kripto. BlackRock telah meluncurkan ETF Ethereum dengan fitur staking (ETHB), sementara Charles Schwab mulai membuka akses perdagangan kripto untuk basis nasabahnya yang besar.
Di sisi lain, investor ritel masih diliputi ketakutan. Indeks Fear & Greed berada di zona “extreme fear” selama lebih dari 46 hari, kondisi yang jarang terjadi sejak kejatuhan pasar pada 2022.
Ke depan, roadmap pengembangan Ethereum tetap berjalan. Upgrade Glamsterdam diharapkan meningkatkan kecepatan transaksi dan menurunkan biaya (gas fee), sementara upgrade Hegota di akhir 2026 akan menghadirkan teknologi Verkle Trees untuk meningkatkan skalabilitas. Namun, pergerakan harga tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan juga oleh arus dana dan kondisi makroekonomi.
Risiko seperti perang tarif yang berlanjut, suku bunga tinggi dari The Fed, serta sikap investor institusi akan menjadi penentu utama. Dalam beberapa bulan ke depan, Ethereum bisa saja naik ke $3.350 atau justru turun ke $1.500. Arah pergerakannya kemungkinan besar akan lebih dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, terutama kebijakan di Amerika Serikat.
0 Comments