Ezel, Suami Boiyen, Tetap Jalankan Bisnis Meski Harus Pakai Uang Pribadi untuk Gaji Karyawan

Ezel, Suami Boiyen, Tetap Jalankan Bisnis Meski Harus Pakai Uang Pribadi untuk Gaji Karyawan

Kasus dugaan penipuan yang menyeret nama Rully Anggi Akbar alias Ezel, yang juga dikenal sebagai suami dari selebritas Boiyen, ternyata membawa dampak serius terhadap bisnis kuliner yang ia kelola, Sateman. Pemberitaan yang viral di berbagai platform media sosial dan media daring disebut telah memukul kepercayaan publik, sehingga berujung pada penurunan omzet secara signifikan dan mengancam keberlangsungan usaha tersebut.

Ezel mengakui bahwa sejak kasus ini mencuat ke publik, jumlah konsumen Sateman terus menurun. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada arus kas perusahaan, tetapi juga pada kesejahteraan para karyawan yang menggantungkan hidup dari bisnis tersebut. Meski tengah menghadapi proses hukum dan tekanan publik, Ezel menegaskan bahwa operasional Sateman di Yogyakarta masih berjalan hingga saat ini.

Ia menjelaskan, keberlangsungan gerai Sateman tidak lepas dari komitmen kontrak jangka panjang yang telah ia penuhi jauh sebelum kasus ini mencuat. Menurutnya, dana ratusan juta rupiah yang sebelumnya dipermasalahkan sebagian pihak sejatinya digunakan untuk membayar sewa lahan usaha.

“Sateman masih berjalan sampai hari ini karena kita sudah bayar kontrak dua tahun. Jadi kemarin Rp200 juta dan Rp100 juta itu untuk bayar lahan selama dua tahun sampai Agustus 2026. Jadi Sateman sampai hari ini masih berjalan,” ujar Rully Anggi Akbar kepada awak media di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).

Kondisi Keuangan Bisnis Tertekan

Di tengah badai pemberitaan negatif, Ezel tidak menampik bahwa kondisi keuangan Sateman sedang tidak stabil. Ia mengakui bisnisnya belum mampu memberikan keuntungan sebagaimana yang diharapkan oleh para investor. Namun, hal tersebut disebut telah diatur secara jelas dalam perjanjian kerja sama sejak awal.

Kuasa hukum Ezel, Husor Hutasoit, menegaskan bahwa skema investasi yang disepakati bersifat bagi hasil, bukan jaminan keuntungan tetap.

“Terkait profit, seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, keuntungan bisa dibagikan apabila warung Sateman memang untung. Kalau tidak untung, apa yang mau dibagikan? Karena sejak awal investasi ini ditegaskan untung bersama, rugi bersama,” jelas Husor dalam jumpa pers.

Konsumen Menurun Drastis

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Sateman hanya mampu memberikan profit selama enam bulan pertama sejak awal beroperasi. Setelah itu, tren penjualan mulai melandai, hingga akhirnya mengalami penurunan paling tajam saat isu dugaan penipuan tersebut ramai diperbincangkan publik.

“Jujur sekarang konsumen agak sedikit berkurang. Dampaknya pertama ke saya pribadi, kemudian ke Sateman. Padahal saya masih harus membayar gaji karyawan. Saat ini ada sekitar sembilan karyawan yang bergantung pada Sateman, jadi ini sangat berdampak,” ungkap Ezel.

Penurunan kepercayaan konsumen disebut menjadi tantangan utama, terutama di tengah persaingan ketat bisnis kuliner dan cepatnya opini publik terbentuk melalui media sosial.

Gunakan Keuangan Pribadi Demi Karyawan

Demi memastikan para pegawainya tidak kehilangan pekerjaan, Ezel mengaku terpaksa menggunakan keuangan pribadi untuk menutup biaya operasional harian, termasuk gaji karyawan. Langkah ini diambil agar usaha tetap berjalan dan para pekerja tidak menjadi korban dari polemik yang sedang berlangsung.

“Akhirnya saya pakai keuangan pribadi saya, dari gaji saya sebelumnya, untuk nutupin operasional. Saya mohon teman-teman, tolong beritanya diluruskan. Dampaknya bukan cuma ke saya, tapi ke banyak orang yang hidup dari Sateman,” tuturnya.

Langkah tersebut disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral Ezel sebagai pemilik usaha, sekaligus upaya menjaga stabilitas internal di tengah tekanan eksternal.

Tetap Bertahan dan Kooperatif

Meski situasi bisnis sedang sulit dan proses hukum masih berjalan, Ezel menegaskan tidak akan menyerah. Ia menyatakan komitmennya untuk tetap menjalankan usaha sesuai perjanjian yang berlaku dan bersikap kooperatif terhadap seluruh pihak terkait, termasuk investor.

“Saya enggak mungkin tiba-tiba harus mengeluarkan karyawan cuma karena profit lagi turun. Investornya ada dua, satu masih berjalan, yang satu sudah beres urusannya. Saya tetap ikuti kontrak sampai 2028,” tutup Ezel.

Ke depan, Ezel berharap pemberitaan yang berimbang dapat membantu memulihkan kepercayaan publik, sehingga Sateman bisa kembali bangkit dan bertahan di tengah tantangan yang ada.