Grafik Teknikal Bitcoin di Mei Mulai Bearish – Apakah BTC Akan Turun Lagi?
Harga Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 11% pada bulan April, melanjutkan penguatan kecil sebesar 1,8% di bulan Maret. Kenaikan ini terjadi setelah tren penurunan tajam sebelumnya, di mana Bitcoin mengalami lima bulan berturut-turut penurunan dari Oktober 2025 hingga Februari 2026, termasuk penurunan signifikan sebesar 17,67% pada November dan 14,94% pada Februari. Meski mulai menunjukkan pemulihan, pergerakan ini kini menghadapi perhatian baru saat memasuki bulan Mei. Dalam sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), analis kripto Merlijn The Trader menyoroti pola berulang yang terjadi setiap empat tahun, khususnya di tahun pemilu paruh waktu di Amerika Serikat. Ia mencatat bahwa pada Mei 2014, 2018, dan 2022, harga Bitcoin mencapai puncak sebelum akhirnya mengalami penurunan besar masing-masing sekitar 61%, 65%, dan 66%. Berdasarkan pola ini, ia memperkirakan potensi pembalikan arah yang dapat membawa harga Bitcoin turun hingga mendekati $30.000. Ia juga menyinggung ungkapan klasik “sell in May and go away” yang menurutnya kerap terjadi di tahun-tahun tersebut.
Data dari Coinglass turut mendukung pandangan bearish ini, di mana dua dari tiga tahun pemilu sebelumnya (2018 dan 2022) mencatat penutupan harga Bitcoin yang negatif di bulan Mei. Bahkan, laporan dari Binance Research menunjukkan bahwa secara rata-rata Bitcoin mengalami penurunan hingga 56% selama tahun pemilu paruh waktu AS. Dari sisi on-chain, analis Crypto Dan menilai bahwa Bitcoin masih berada dalam fase “bear cycle” yang umum terjadi dalam siklus pasar kripto. Ia menyoroti funding rate yang negatif sebagai indikasi bahwa sentimen pasar masih lemah. Sementara itu, data dari Glassnode menunjukkan bahwa harga Bitcoin gagal menembus level penting seperti True Market Mean dan rata-rata biaya holder jangka pendek, yang menandakan adanya resistance kuat dan potensi tren turun dalam jangka menengah. Pola ini sering terjadi dalam bear market, di mana tekanan jual meningkat saat harga mendekati titik impas investor, sehingga membatasi kenaikan lebih lanjut.
Selain itu, rata-rata keuntungan yang direalisasikan oleh holder jangka pendek dalam 24 jam mencapai sekitar $4 juta per jam ketika harga Bitcoin mendekati $80.000. Hal ini menunjukkan adanya aksi distribusi atau jual saat harga naik, yang bisa menghambat kelanjutan reli. Dalam wawancara dengan BeInCrypto, Benjamin Cowen, CEO Into The Cryptoverse sekaligus mantan peneliti NASA, menyebut bahwa skenario dasar (base-case) menunjukkan titik terendah Bitcoin kemungkinan terjadi pada Oktober 2026, yang berarti masih ada potensi penurunan ke depan. Namun demikian, ia juga membuka kemungkinan bahwa harga bisa mencapai titik terendah lebih cepat, bahkan pada bulan Mei, jika terjadi kapitulasi besar di bawah level yang biasanya terlihat pada tahun pemilu.
Di sisi lain, ada beberapa sinyal positif yang mulai muncul. Investor institusional terlihat mulai kembali masuk ke pasar, ditandai dengan meningkatnya open interest di Chicago Mercantile Exchange serta mulai pulihnya aset kelolaan ETF Bitcoin. Selain itu, dominasi posisi short di pasar juga membuka peluang terjadinya short squeeze jika permintaan meningkat, yang dapat mendorong harga naik dengan cepat. Binance Research juga mencatat bahwa dalam 12 bulan setelah tahun pemilu paruh waktu, Bitcoin secara historis mampu mencatat kenaikan rata-rata sekitar 54%, memberikan harapan akan potensi pemulihan setelah fase pelemahan ini berlalu.
0 Comments