Harga Bensin di AS Naik Hampir 75%, Senator Salahkan Donald Trump

Harga Bensin di AS Naik Hampir 75%, Senator Salahkan Donald Trump

Lonjakan Harga Bensin di AS dan Dampaknya: Kritik Schumer, Kebijakan Trump, dan Perkembangan Terbaru Konflik Iran

US Senate Minority Leader atau Pemimpin Minoritas Senat Amerika Serikat (AS), Chuck Schumer, secara terbuka menyalahkan Presiden Donald Trump atas lonjakan tajam harga bensin secara nasional yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Dalam sebuah unggahan di platform X (dahulu Twitter), Schumer menyebut bahwa keputusan Trump terkait konflik militer dengan Iran telah menyebabkan harga bensin di AS melonjak hampir 75% dalam waktu kurang dari sebulan. Menurutnya, “Satu orang yang harus disalahkan: Donald Trump.”

Kenaikan Harga Bensin: Fakta Terbaru

Schumer mencatat bahwa sebulan lalu, harga bensin eceran di AS berada sekitar USD 2,93 per gallon, namun kini telah menembus hampir USD 3,94 per gallon di banyak wilayah negara itu. Kenaikan ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi terus meningkat seiring berlanjutnya gejolak geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global.

Menurut data dari American Automobile Association (AAA), harga rata‑rata bensin nasional telah naik lebih dari 30% sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026, meskipun pemerintah Trump mengklaim sedang berupaya menekan lonjakan harga tersebut.

Para analis energi memperkirakan bahwa harga rata‑rata bahan bakar di SPBU AS bisa mencapai USD 4,10 per gallon atau lebih tinggi jika konflik berkepanjangan dan pasokan minyak tetap terganggu.

Apa yang Menyebabkan Harga Bensin Melonjak?

Lonjakan harga bensin di AS bukan hanya soal harga minyak mentah yang meningkat—itu juga dipicu oleh gangguan besar dalam aliran minyak global akibat konflik yang berlangsung. Penutupan atau gangguan aktivitas di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan sekitar 20% aliran minyak dunia, telah membuat pasar minyak bergerak tidak stabil.

Serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk fasilitas gas dan minyak di South Pars field di Iran, juga memperparah ketidakpastian suplai global. Serangan ini memengaruhi sekitar 12% dari produksi gas Iran dan menghentikan operasi beberapa kilang besar, yang berdampak langsung pada pasar minyak.

Menurut International Energy Agency (IEA), konflik yang menyebabkan kerusakan besar pada lebih dari 40 fasilitas energi utama di Timur Tengah dapat membuat harga minyak tetap tinggi untuk jangka panjang—meskipun ada upaya pelepasan cadangan minyak strategis.

Perang AS‑Iran, Trump, dan Politik Domestik

Schumer, sebagai pemimpin oposisi tertinggi dari Partai Demokrat, mengkritik tidak hanya dampak ekonomi dari perang tersebut tetapi juga biaya miliaran dolar yang dianggap terbuang sia‑sia. Ia menyerukan diakhirinya peperangan ini untuk mengurangi beban konsumen yang sudah terdampak oleh inflasi dan kenaikan biaya hidup.

Kritik ini datang di tengah tekanan politik yang meningkat terhadap Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu (midterms) pada November 2026, yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuasaan di Kongres AS. Masalah harga bahan bakar sering menjadi isu yang dirasakan langsung oleh pemilih, terutama kelas menengah dan pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi.

Trump sebelumnya telah berjanji akan menurunkan harga energi dengan meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri—bagian dari janjinya untuk memastikan “energi murah”. Namun, kebijakan ini terhambat oleh dinamika pasar global dan kondisi geopolitik yang tidak stabil.

Langkah Kebijakan Trump untuk Mengatasi Krisis Energi

Untuk meredam lonjakan harga, pemerintahan Trump mengambil beberapa langkah kebijakan, termasuk:

  • Pengecualian sementara terhadap Jones Act selama 60 hari agar kapal berbendera asing bisa mengangkut bahan bakar dan barang antar pelabuhan AS, yang diyakini bisa membantu pasokan tetapi hanya berdampak marginal.

  • Mencabut aturan bensin musim panas untuk sementara waktu, sehingga bensin standar bisa digunakan lebih luas, yang diperkirakan bisa menurunkan harga sebesar 10–20 sen per gallon di beberapa wilayah.

Namun, para analis memandang bahwa tindakan ini hanya memberikan sedikit perbaikan jangka pendek dan tidak mengatasi penyebab utama kenaikan harga—yaitu gangguan besar pada pasokan minyak global.

Pembicaraan Damai dan Perubahan Dinamika

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Trump telah mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari untuk mendukung negosiasi diplomatik yang bertujuan mengakhiri konflik. Langkah ini sempat menurunkan harga minyak dan menstabilkan pasar keuangan sementara.

Namun, pemerintah Iran membantah adanya negosiasi resmi dan menegaskan bahwa mereka akan melanjutkan syarat mereka, termasuk penghentian serangan dan jaminan non‑agresi dari AS.

Dampak Lebih Luas terhadap Ekonomi dan Kehidupan Sehari‑hari

Dampak lonjakan harga bahan bakar ini tidak hanya dirasakan di AS saja. Konsumen di berbagai negara merasakan tekanan biaya hidup meningkat, terutama di sektor transportasi, distribusi pangan, dan barang‑barang kebutuhan pokok. Di AS, beberapa daerah seperti Colorado, California, dan wilayah pesisir mengalami harga bensin yang jauh lebih tinggi dibanding rata‑rata nasional.

Selain itu, lonjakan harga diesel juga memperparah biaya logistik dan transportasi barang, yang pada akhirnya dapat memasukkan tekanan pada harga konsumen di seluruh sektor perekonomian.


Kesimpulan:
Kenaikan harga bensin di AS lebih dari sekadar masalah domestik—itu merupakan efek dari perang yang lebih luas yang berdampak pada pasar energi global, politik dalam negeri AS, serta kehidupan sehari‑hari konsumen. Sementara kritik terhadap Trump semakin keras, perkembangan diplomatik dan gejolak pasar menunjukkan bahwa solusi atas krisis ini tetap kompleks dan penuh tantangan.