Harga Emas dan Perak Tiba-Tiba Turun, Ini Penyebabnya

Harga Emas dan Perak Tiba-Tiba Turun, Ini Penyebabnya

Harga Emas dan Perak Anjlok Tajam, Pasar Global Dihantui Perang dan Inflasi

Harga emas dan perak mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta), di tengah aksi jual besar-besaran yang melanda pasar global. Kedua logam mulia tersebut masing-masing turun signifikan, dengan harga emas merosot sekitar 5% dan harga perak bahkan sempat anjlok hingga 10%.

Mengutip laporan dari CNBC, Jumat (20/3/2026), harga emas di pasar spot turun lebih dari 3% ke level USD 4.654,29 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman bulan depan juga melemah sekitar 5% ke kisaran USD 4.648,20 per ons.

Di sisi lain, harga perak menunjukkan penurunan yang lebih dalam. Harga spot perak turun lebih dari 3% ke level USD 72,62 per ons. Adapun kontrak berjangka perak terkoreksi lebih tajam, yakni lebih dari 8% dan ditutup di posisi USD 71,25 per ons.

Tekanan dari Geopolitik dan Inflasi

Penurunan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik geopolitik, khususnya ketegangan antara Iran dan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Risiko eskalasi konflik membuat pelaku pasar memilih untuk mengamankan keuntungan setelah reli panjang yang terjadi sebelumnya pada logam mulia.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari kekhawatiran inflasi global yang masih tinggi serta kebijakan suku bunga yang ketat dari bank sentral, termasuk Federal Reserve. Suku bunga yang tinggi cenderung menekan harga emas dan perak karena meningkatkan daya tarik aset berbunga seperti obligasi.

Saham Tambang dan ETF Ikut Terpukul

Aksi jual tidak hanya terjadi pada komoditasnya, tetapi juga merambat ke saham perusahaan tambang serta produk investasi berbasis logam mulia seperti ETF (Exchange-Traded Fund).

Beberapa ETF yang terkait perak mencatat penurunan signifikan. ProShares Ultra Silver anjlok hingga 20% menjelang pembukaan pasar. Sementara iShares Silver Trust turun sekitar 4,4%, dan Aberdeen Physical Silver Shares ETF melemah lebih dari 4%.

Dari sisi saham tambang, tekanan juga terlihat jelas. Teck Resources turun lebih dari 3%, sementara First Majestic Silver dan Coeur Mining masing-masing merosot lebih dari 6% dan 5%.

Dampak Global: Eropa hingga AS Ikut Melemah

Sentimen negatif ini juga menjalar ke pasar Eropa. Indeks sektor sumber daya dasar, Stoxx Europe Basic Resources Index, turun hingga 6% dalam sesi perdagangan.

Saham perusahaan tambang besar turut terpukul, seperti Fresnillo yang anjlok 9,3% dan Antofagasta yang turun 8,2%.

Selain itu, pasar saham global secara keseluruhan juga berada di bawah tekanan. Bursa saham Eropa dibuka melemah tajam, sementara kontrak berjangka menunjukkan bahwa pasar saham Amerika Serikat berpotensi dibuka di zona merah.

Kenapa Logam Mulia Ikut Turun?

Menariknya, emas dan perak yang biasanya dianggap sebagai aset “safe haven” justru ikut terkoreksi. Hal ini terjadi karena investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan harga yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah juga menjadi faktor tambahan yang menekan harga logam mulia. Ketika imbal hasil obligasi naik, investor cenderung beralih dari emas yang tidak memberikan bunga.

Prospek ke Depan

Ke depan, pergerakan harga emas dan perak masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Jika ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat, harga logam mulia berpotensi kembali naik sebagai aset lindung nilai.

Namun, jika inflasi mulai terkendali dan bank sentral melonggarkan kebijakan suku bunga, maka pasar bisa kembali stabil. Investor pun disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi yang saat ini mendominasi pasar komoditas dan keuangan global.