Harga Emas Dunia Melemah, Pasar Dibayangi Kebijakan The Fed dan Konflik Timur Tengah
Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Lonjakan Harga Minyak, Pasar Waspadai Sikap Hawkish The Fed
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Jumat (10/7/2026) atau Sabtu pagi WIB dan menutup pekan di zona merah. Pelemahan terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Mengutip CNBC, Sabtu (11/7/2026), harga emas di pasar spot turun hampir 1% menjadi US$4.071,09 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka (futures) emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,74% ke level US$4.113 per ounce.
Penurunan harga emas terjadi meski logam mulia tersebut selama ini dikenal sebagai aset safe haven. Kali ini, pasar lebih fokus pada dampak lanjutan dari kenaikan harga energi terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar.
“Faktor utamanya adalah ketegangan yang kembali pecah antara AS dan Iran. Saat ini, para investor cenderung menghindari aset emas dan perak, sehingga harganya bergerak turun menuju level US$4.100,” ujarnya.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa eskalasi konflik AS-Iran berpotensi mengganggu proyeksi surplus pasokan minyak global pada tahun depan. Kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah telah mendorong harga minyak mencatat kenaikan sepanjang pekan.
Harga Minyak Tinggi Tingkatkan Risiko Inflasi
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama investor karena dapat mendorong inflasi kembali meningkat. Biaya energi yang lebih tinggi biasanya akan meningkatkan ongkos produksi dan distribusi, yang kemudian berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa.
Apabila inflasi kembali menguat, bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas. Berbeda dengan obligasi atau deposito, emas tidak memberikan imbal hasil (yield), sehingga menjadi kurang menarik ketika suku bunga berada pada level tinggi.
“Pasar jelas sedang khawatir dengan inflasi, terutama karena harga minyak rebound dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini akan membuat bank sentral, khususnya The Fed, bertindak lebih agresif,” tambah Melek.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar AS juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaan cenderung menurun.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Besar
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 62% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Ekspektasi tersebut diperkuat oleh risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juni yang menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed masih menilai inflasi belum sepenuhnya terkendali. Sikap hawkish tersebut mengindikasikan bank sentral AS belum terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya.
Sejumlah ekonom juga menilai perkembangan harga energi dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi salah satu faktor penting yang dipantau The Fed. Jika harga minyak terus bertahan tinggi, tekanan inflasi dikhawatirkan kembali meningkat sehingga ruang untuk memangkas suku bunga menjadi semakin terbatas.
Investor Menunggu Data Inflasi AS
Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat pekan depan yang diperkirakan menjadi penentu arah pergerakan aset keuangan global, termasuk emas.
Investor juga akan mencermati pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, guna memperoleh petunjuk terbaru mengenai prospek kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan. Setiap sinyal terkait inflasi, suku bunga, maupun kondisi ekonomi AS diperkirakan akan memengaruhi pergerakan harga emas secara signifikan.
Analis menilai apabila data inflasi kembali lebih tinggi dari perkiraan pasar, peluang kenaikan suku bunga akan semakin besar sehingga dapat menekan harga emas dalam jangka pendek. Sebaliknya, jika inflasi mulai melandai, emas berpeluang kembali diminati sebagai aset lindung nilai.
Permintaan Fisik Emas Beragam
Dari pasar fisik, permintaan emas di India masih relatif lemah. Pedagang menawarkan diskon yang cukup besar untuk menarik minat pembeli di tengah harga yang masih tinggi.
Sebaliknya, permintaan emas di China tetap kuat. Bank sentral China kembali menambah cadangan emasnya pada Juni, mencatatkan peningkatan bulanan terbesar dalam sekitar dua setengah tahun terakhir. Langkah tersebut dinilai mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Pembelian emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara juga masih menjadi salah satu faktor yang menopang prospek harga emas dalam jangka panjang, meski tekanan dari kebijakan suku bunga tinggi masih mendominasi pergerakan pasar saat ini.
Logam Mulia Lain Bergerak Beragam
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya cenderung bervariasi. Harga perak di pasar spot turun 0,4% menjadi US$59,73 per ounce. Platinum justru menguat tipis 0,4% ke level US$1.617 per ounce, sedangkan paladium mencatat kenaikan terbesar dengan melonjak 2,2% menjadi US$1.274,94 per ounce.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas tinggi pada pekan depan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga minyak, serta penantian terhadap data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan The Fed selanjutnya.
0 Comments