Proyek Pusat Data 1,3 GW RI Tarik Minat Investor Asing, Nvidia Siap Berinvestasi

Proyek Pusat Data 1,3 GW RI Tarik Minat Investor Asing, Nvidia Siap Berinvestasi

Proyek Pusat Data RI Makin Diminati, Kapasitas Baru 1,3 GW Dibidik, Nvidia hingga Big Tech Siap Ekspansi

Minat investor global untuk membangun pusat data (data center) di Indonesia terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pemerintah mengungkapkan proyek pusat data baru yang tengah dijajaki memiliki total kapasitas hingga 1,3 gigawatt (GW), jauh lebih besar dibandingkan kapasitas yang telah beroperasi saat ini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kapasitas pusat data yang telah beroperasi di Indonesia saat ini mencapai sekitar 580 megawatt (MW). Dengan tambahan proyek baru sebesar 1,3 GW, kapasitas pusat data nasional berpotensi meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut Airlangga, besarnya proyek tersebut juga akan diikuti oleh investasi bernilai fantastis. Nilai investasi yang tengah masuk dalam tahap perencanaan diperkirakan mencapai sekitar US$15 miliar hingga US$20 miliar.

“Kapasitas yang sudah berjalan saat ini sebesar 580 MW, dengan estimasi nilai investasi sekitar US$1 juta per MW. Ke depan, ada potensi tambahan lagi hingga 1,3 GW. Seperti proyek di Batam saat ini, investasi yang masuk dalam perencanaan (on the pipeline) sudah berkisar antara US$15 miliar sampai US$20 miliar,” ujar Airlangga, dikutip dari Antara, Sabtu (11/7/2026).

Ia menjelaskan, salah satu investor strategis yang berminat mengembangkan pusat data di Indonesia adalah Nvidia. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut disebut akan bekerja sama dengan mitra bisnis dari Australia dalam pengembangan proyek tersebut.

Selain Nvidia, Airlangga mengatakan PT Telkom Indonesia juga terus melakukan investasi di sektor pusat data. Di sisi lain, kawasan Karawang diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri digital karena sejumlah perusahaan teknologi global atau Big Tech berencana memperluas kapasitas data center mereka di wilayah tersebut.

“Selain itu, ada juga investasi langsung dari Telkom. Sementara untuk kawasan Karawang, hampir seluruh perusahaan teknologi besar (Big Tech) berencana melakukan ekspansi pusat data mereka. Saat ini, keberadaan pusat data menjadi instrumen kunci bagi pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang bertumpu pada quantum computing,” jelasnya.

Meningkatnya investasi data center dinilai sejalan dengan lonjakan kebutuhan komputasi AI secara global. Pengembangan model AI generatif membutuhkan infrastruktur komputasi berkapasitas besar yang didukung ribuan chip grafis (GPU), sehingga permintaan terhadap pusat data modern terus meningkat.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu hub pusat data di kawasan Asia Tenggara. Selain didukung oleh jumlah pengguna internet yang besar dan ekonomi digital yang terus berkembang, kebutuhan layanan cloud, komputasi AI, hingga penyimpanan data domestik juga semakin meningkat.

Pemerintah sebelumnya juga mendorong pembangunan pusat data melalui pengembangan kawasan ekonomi digital di sejumlah wilayah seperti Batam dan Karawang. Kedua kawasan tersebut dinilai memiliki infrastruktur yang semakin memadai, mulai dari pasokan listrik, jaringan serat optik, hingga konektivitas internasional melalui kabel bawah laut.

Namun demikian, pengembangan industri pusat data juga memerlukan pasokan energi yang besar dan andal. Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan infrastruktur kelistrikan serta pemanfaatan energi yang lebih efisien guna memenuhi kebutuhan operasional pusat data berskala besar.

Di sisi lain, pemerintah juga menilai kesiapan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pembangunan pusat data, tetapi juga mampu mengembangkan ekosistem teknologi digital secara menyeluruh.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pemerintah menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan desain semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd. Kerja sama ini ditujukan untuk memperkuat sektor hulu industri digital nasional sekaligus meningkatkan kemampuan talenta lokal di bidang desain chip dan komputasi.

Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah menargetkan sedikitnya 15.000 insinyur (engineer) Indonesia dapat bergabung ke dalam ekosistem Arm dan memperoleh akses terhadap pengembangan teknologi semikonduktor.

“Sektor ini sangat memerlukan talenta dan SDM baru. Oleh karena itu, kita telah menyepakati kerja sama dengan Arm chips, yang juga merupakan mitra dari Nvidia. Strategi kita adalah membidik sektor yang paling hulu. Jika pada sektor mineral kita menerapkan kebijakan hilirisasi (downstreaming), maka pada sektor digital kita justru mendaki ke hulu (upstream) terlebih dahulu agar nantinya bisa diturunkan kembali ke hilir. Namun, kunci utama dari seluruh rencana ini tetap berada pada kesiapan SDM,” pungkas Airlangga.

Pemerintah berharap masuknya investasi dari perusahaan-perusahaan teknologi global tidak hanya meningkatkan kapasitas infrastruktur digital nasional, tetapi juga mendorong transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat industri semikonduktor domestik, serta mempercepat transformasi Indonesia menjadi salah satu pusat ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Pasifik.