Harga Ethereum Turun 4%, ETH Terancam Jebol Support US$2.400

Harga Ethereum Turun 4%, ETH Terancam Jebol Support US$2.400

Harga Ethereum (ETH) kembali melemah dalam 24 jam terakhir. ETH turun hampir 4% dan bergerak di sekitar US$2.420, mendekati level support penting US$2.400.

Sebelumnya, Ethereum sempat mencapai level tertinggi harian US$2.512 pada 10 September 2026. Namun, tekanan jual meningkat dan membuat harga ETH berbalik turun.

Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan di pasar global. Harga minyak dunia melonjak, sementara imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) juga bergerak naik. Kondisi tersebut membuat investor mengurangi aset berisiko, termasuk cryptocurrency.

Harga Minyak Naik, Tekanan ke Ethereum Meningkat

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang membebani pasar kripto. Harga minyak Brent menembus US$105 per barel, sedangkan WTI melewati US$100 per barel.

Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.

Di saat yang sama, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bergerak mendekati 4,9%.

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi. Jika inflasi bertahan tinggi, pasar dapat memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat. Situasi seperti ini biasanya memberikan tekanan terhadap aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto.

Data Inflasi AS Ikut Menekan Harga ETH

Sentimen pasar juga mendapat tekanan dari data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat.

PPI untuk permintaan akhir naik 0,4% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi PPI meningkat menjadi 5,4%, dari 4,8% pada periode sebelumnya.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan tersebut, dengan komponen energi tercatat naik 4,2%.

Data ini membuat investor semakin memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang pertemuan kebijakan moneter berikutnya.

Ethereum Masih Bergerak di Area Konsolidasi

Analis pasar Ted Pillows mengatakan melalui X bahwa Ethereum telah bergerak dalam pola konsolidasi di kisaran US$2.450 hingga US$2.550 selama beberapa pekan.

Menurut analisis tersebut, Ethereum membutuhkan penutupan harga mingguan di atas US$2.550 untuk membuka peluang kenaikan berikutnya.

Artinya, level US$2.550 menjadi salah satu area penting yang perlu diperhatikan investor. Jika ETH mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, momentum bullish berpotensi kembali menguat.

Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support US$2.400 dapat meningkatkan risiko koreksi lebih dalam.

ETF Ethereum Masih Mencatat Arus Dana Positif

Meski harga Ethereum melemah, permintaan terhadap produk ETF Ethereum spot di AS masih menunjukkan kondisi yang cukup positif.

ETF Ethereum spot mencatat net inflow US$34,75 juta pada Rabu.

Produk staking-enabled Ethereum milik BlackRock, ETHB, mencatat arus dana masuk terbesar sebesar US$22,94 juta. Sementara itu, ETHA menambahkan inflow sebesar US$9,71 juta.

Arus dana tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor institusional masih mempertahankan minat terhadap Ethereum meskipun harga ETH sedang terkoreksi.

Namun, akumulasi mingguan mulai melambat. Total inflow mingguan tercatat sekitar US$218,4 juta, turun dari rekor tahunan US$824 juta pada pekan sebelumnya.

Investor Ritel Lepas 307.000 ETH

Tekanan jual juga terlihat dari aktivitas investor ritel.

Dalam sepekan terakhir, investor ritel tercatat melepas sekitar 307.000 ETH. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan akumulasi yang dilakukan alamat whale, yang hanya mencapai sekitar 82.000 ETH.

Tekanan semakin kuat akibat aksi likuidasi di pasar derivatif.

Ethereum mengalami forced liquidation sekitar US$88 juta dalam 24 jam. Dari jumlah tersebut, sekitar US$73,2 juta berasal dari posisi long.

Besarnya likuidasi posisi long menunjukkan bahwa banyak trader yang bertaruh terhadap kenaikan harga ETH harus keluar dari posisi mereka ketika harga bergerak turun.

Support Ethereum di US$2.400 Jadi Level Penting

Dari sisi teknikal, Ethereum masih berada di atas exponential moving average (EMA) 20 hari, 50 hari, 100 hari, dan 200 hari.

EMA 20 hari berada di sekitar US$2.404. Karena itu, area US$2.400 hingga US$2.405 menjadi support utama yang sedang diperhatikan pasar.

Jika Ethereum mampu bertahan di atas area tersebut, peluang pemulihan masih terbuka.

Namun, apabila ETH mencatat penutupan harian di bawah US$2.400, harga berpotensi bergerak menuju area US$2.350 hingga US$2.360.

Jika tekanan jual berlanjut, Ethereum dapat menguji level US$2.300. Penurunan lebih jauh bahkan berpotensi membawa ETH menuju EMA 50 hari yang berada di sekitar US$2.222.

Level Resistance Ethereum yang Perlu Diperhatikan

Di sisi atas, Ethereum menghadapi resistance awal di sekitar US$2.545.

Jika level tersebut berhasil ditembus, target berikutnya berada di US$2.626. Setelah itu, ETH berpotensi menguji area US$2.787.

Ethereum sebelumnya mencatat kenaikan sekitar 37% dalam periode 10 hari sebelum memasuki fase koreksi. Dalam reli tersebut, ETH mencapai level tertinggi siklus di sekitar US$2.564.

Indeks Relative Strength Index (RSI) saat ini berada di sekitar 59. Angka tersebut masih menunjukkan bias yang cenderung bullish, meski momentum kenaikan mulai melambat.

Sementara itu, Chaikin Oscillator telah bergerak di bawah garis nol. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan akumulasi mulai berkurang setelah reli Ethereum pada Agustus.

Prospek Harga Ethereum

Pergerakan Ethereum selanjutnya akan sangat bergantung pada kemampuan ETH mempertahankan support US$2.400.

Jika support tersebut bertahan dan Ethereum kembali menembus US$2.545 hingga US$2.550, peluang untuk melanjutkan tren kenaikan masih terbuka.

Sebaliknya, penutupan harian di bawah US$2.400 dapat menjadi sinyal meningkatnya risiko koreksi menuju US$2.350, US$2.300, hingga US$2.222.

Dengan kondisi pasar global yang masih dipengaruhi harga minyak, inflasi AS, kenaikan imbal hasil obligasi, serta ekspektasi kebijakan The Fed, volatilitas harga Ethereum masih berpotensi tinggi dalam waktu dekat.