Harga BBM Subsidi Dipastikan Tidak Naik Meski Harga Minyak Dunia Tembus US$107
Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan naik meski harga minyak dunia terus mengalami lonjakan. Pemerintah memilih menambah alokasi subsidi energi untuk menjaga daya beli masyarakat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan dampaknya terhadap anggaran negara. Ia juga mengaku rutin berkoordinasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kami selalu mengikuti secara saksama berbagai dinamika perkembangan global, khususnya yang menyangkut harga minyak dunia yang tidak menentu,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Harga BBM Subsidi Tetap
Bahlil menegaskan pemerintah masih mempertahankan harga BBM subsidi pada level saat ini. Harga Biosolar subsidi tetap Rp6.800 per liter, sementara harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter.
Keputusan tersebut membuat kebutuhan anggaran subsidi energi meningkat. Namun, pemerintah menilai menjaga harga BBM tetap terjangkau lebih penting untuk melindungi masyarakat dari tekanan kenaikan harga minyak dunia.
“Pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak naik. Memang ini sesuatu yang tidak ringan, ini sesuatu yang berat karena pasti penambahan subsidinya bertambah,” kata Bahlil.
Menurutnya, Presiden Prabowo memilih menambah anggaran subsidi dibandingkan menaikkan harga BBM yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
“Bapak Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat menengah ke bawah itu jauh lebih penting. Menambah anggaran subsidi saya pikir itu bagian dari langkah yang kita lakukan,” tegasnya.
Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel
Keputusan pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dilakukan ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam.
Pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, harga minyak Brent melonjak 6,3 persen hingga mencapai US$107,63 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 6,7 persen dan ditutup di level US$102,48 per barel.
Kenaikan tersebut membuat harga minyak dunia kembali berada di atas US$100 per barel. Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah karena harga minyak merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kebutuhan subsidi energi.
Lonjakan harga minyak juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar mengantisipasi risiko konflik berkepanjangan yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Rata-Rata ICP Indonesia Masih di Bawah US$100
Meski harga minyak dunia saat ini sudah menembus US$100 per barel, Bahlil mengatakan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sepanjang Januari hingga September 2026 masih berada pada level yang relatif aman.
Menurut Bahlil, rata-rata ICP selama periode tersebut masih berada di kisaran US$85 hingga US$90 per barel.
“Sekarang rata-rata ICP, sekalipun saat ini sudah menjadi US$106 sampai US$108 per barel, tetapi rata-rata ICP dari Januari sampai September kurang lebih di angka US$85 sampai US$90. Jadi secara keseluruhan masih aman,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam mempertahankan harga BBM subsidi. Namun, apabila harga minyak dunia bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap anggaran subsidi energi tetap berpotensi meningkat.
Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak Naik
Harga minyak dunia sepanjang September 2026 telah mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan tersebut dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak dilaporkan telah naik lebih dari 18 persen sepanjang September. Pelaku pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak jika konflik di kawasan Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Perkembangan konflik tersebut juga menjadi perhatian negara-negara konsumen energi, termasuk Indonesia. Pasalnya, kenaikan harga minyak global dapat meningkatkan biaya energi dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap anggaran pemerintah.
Untuk saat ini, pemerintah memilih mempertahankan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat meski harga minyak dunia masih berada pada level tinggi.
Dengan harga Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter, pemerintah menanggung tambahan beban subsidi agar kenaikan harga minyak global tidak langsung dibebankan kepada masyarakat.
0 Comments