Harga Minyak Dunia Tembus USD 107, Ini Penyebabnya

Harga Minyak Dunia Tembus USD 107, Ini Penyebabnya

Harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam pada perdagangan Minggu setelah proses negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu. Kegagalan pembicaraan ini langsung memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi, terutama dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi minyak utama dunia.

Lonjakan harga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda. Investor merespons cepat setiap perkembangan yang berpotensi mengganggu distribusi minyak global, sehingga premi risiko di pasar energi kembali naik.

Harga Brent Tembus USD 107 per Barel

Mengutip laporan CNBC pada Senin (27/4/2026), harga minyak acuan internasional Brent tercatat melonjak lebih dari 2% dan berada di level USD 107,89 per barel pada pukul 18.27 waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga ikut menguat lebih dari 2% ke level USD 96,63 per barel.

Kenaikan ini menandai meningkatnya volatilitas pasar energi global, di mana sentimen geopolitik kembali menjadi faktor dominan dibandingkan faktor fundamental seperti permintaan dan pasokan.

Ketegangan Selat Hormuz Jadi Sorotan

Selain mandeknya diplomasi AS–Iran, perhatian pasar juga tertuju pada kondisi di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat ini menjadi rute utama bagi sekitar seperlima distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak signifikan pada harga energi dunia.

Laporan menyebutkan bahwa anggota Garda Revolusi Iran menaiki dua kapal kargo di sekitar jalur tersebut, yang semakin memperburuk sentimen pasar. Meski belum ada eskalasi lebih lanjut yang dikonfirmasi, insiden ini cukup untuk meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan logistik energi global.

Negosiasi AS–Iran Kembali Buntu

Ketegangan politik semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan ke Islamabad, Pakistan, yang sebelumnya dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan dengan pihak Iran.

Utusan yang direncanakan dalam pertemuan tersebut adalah Steve Witkoff dan Jared Kushner. Pembatalan ini menandakan bahwa upaya diplomasi belum berhasil menemukan titik temu dalam waktu dekat.

Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump juga melontarkan kritik keras terhadap kondisi internal pemerintahan Iran. Ia menyoroti adanya ketidakpastian kepemimpinan di negara tersebut.

“Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada pertikaian besar dan kebingungan di dalam ‘kepemimpinan’ mereka,” tulis Trump.

Ia juga menambahkan bahwa posisi AS berada dalam kondisi lebih kuat dalam proses negosiasi.

“Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali, termasuk mereka sendiri. Kami memegang semua kartu; mereka tidak punya! Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!” lanjutnya.

Respons Iran dan Situasi Diplomatik

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diketahui melakukan perjalanan ke Islamabad pada akhir pekan. Namun, kunjungan tersebut hanya menghasilkan pertemuan dengan pejabat Pakistan tanpa adanya pertemuan langsung dengan pihak Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, juga menegaskan bahwa tidak ada agenda pertemuan antara Iran dan AS dalam waktu dekat. Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa jalur diplomasi masih mengalami kebuntuan.

Dampak ke Pasar Energi Global

Kondisi ini membuat pasar energi global kembali berada dalam fase “risk-on,” di mana investor cenderung mengantisipasi gangguan pasokan daripada stabilitas jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, harga minyak biasanya sensitif terhadap:

  • ketegangan geopolitik di Timur Tengah

  • gangguan jalur distribusi seperti Selat Hormuz

  • perubahan kebijakan diplomasi negara besar

  • ekspektasi pasokan dari produsen utama seperti OPEC+

Secara historis, setiap eskalasi di kawasan Iran dan sekitarnya kerap memicu kenaikan harga minyak karena kekhawatiran terganggunya suplai global.

Outlook Pasar

Analis pasar energi umumnya menilai bahwa selama ketegangan AS–Iran belum mereda, harga minyak berpotensi tetap berada dalam tekanan naik. Namun, volatilitas juga diperkirakan tinggi karena pasar sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dan kondisi keamanan di jalur distribusi utama.

Dengan kombinasi faktor geopolitik dan ketidakpastian negosiasi, pasar minyak global saat ini berada dalam posisi sensitif, di mana setiap pernyataan politik dapat langsung memicu pergerakan harga signifikan.