Harga Pertamax Berpotensi Turun ke Level Rp 15.000 per Liter

Harga Pertamax Berpotensi Turun ke Level Rp 15.000 per Liter

Meredanya Konflik Iran-AS Buka Peluang Harga Pertamax Turun pada Juli 2026, Bisa Sentuh Rp 15.000 per Liter

Meredanya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) diperkirakan membawa dampak positif bagi pasar energi global. Salah satu efek yang mulai terlihat adalah penurunan harga minyak mentah dunia, yang berpotensi menekan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax.

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak global mulai bergerak turun setelah tercapainya kesepakatan deeskalasi antara Washington dan Teheran. Kondisi ini memicu optimisme bahwa biaya impor energi Indonesia dapat berkurang, sehingga memberi ruang bagi penyesuaian harga BBM dalam negeri pada periode Juli 2026.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperkirakan harga Pertamax pada Juli 2026 berpotensi turun ke kisaran Rp 15.750 hingga Rp 16.100 per liter. Estimasi tersebut didasarkan pada perkembangan terbaru harga minyak Brent pascaperdamaian AS-Iran, disertai tren penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Ini estimasi saya berdasarkan harga minyak Brent terbaru pascaperdamaian AS dan Iran dan sedikit penguatan rupiah. Mudah-mudahan pada Juli harga Pertamax bisa berada di Rp 15.891 per liter dengan rentang Rp 15.750-Rp 16.100,” ujar Yayan kepada Liputan6.com, Jumat (19/6/2026).

Saat ini harga Pertamax berada di level Rp 16.250 per liter. Berdasarkan perhitungannya, harga tersebut berpotensi turun sekitar 1 hingga 3 persen apabila kondisi pasar energi global tetap stabil hingga awal Juli mendatang.

Dalam simulasi dasar menggunakan model Structural Vector Autoregression (SVAR), harga Pertamax diproyeksikan berada di level Rp 15.891 per liter. Artinya, terdapat potensi penurunan sekitar 2,2 persen dibandingkan harga yang berlaku saat ini.

Namun, jika mengacu pada formula harga berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penurunan harga bisa lebih signifikan. Dalam skenario tersebut, harga Pertamax bahkan berpotensi turun hingga menyentuh kisaran Rp 15.000 per liter, atau sekitar 7,7 persen lebih rendah dibanding harga sekarang.

Menurut Yayan, faktor utama yang memengaruhi penurunan ini adalah mulai meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi minyak global, terutama di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat perhatian investor energi dunia.

Ia menjelaskan, konflik geopolitik yang sebelumnya meningkat di sekitar kawasan Selat Hormuz sempat memicu lonjakan harga minyak dunia. Jalur laut tersebut merupakan salah satu titik paling vital dalam distribusi minyak global karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan itu setiap hari.

“Ketika risiko gangguan di Selat Hormuz menurun, pasar merespons dengan koreksi harga minyak. Ini berdampak langsung terhadap biaya pengadaan BBM di banyak negara importir, termasuk Indonesia,” jelasnya.

Harga Minyak Dunia Turun Setelah Ketegangan Mereda

Di pasar internasional, harga minyak Brent tercatat mulai mengalami koreksi dalam perdagangan pekan ini. Setelah sempat naik di atas level US$ 82 per barel akibat kekhawatiran konflik Timur Tengah, harga Brent kini bergerak turun mendekati level US$ 76 hingga US$ 78 per barel.

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami penurunan dan diperdagangkan di kisaran US$ 73 per barel.

Selain faktor geopolitik, pasar energi global saat ini juga dipengaruhi oleh proyeksi peningkatan produksi dari negara-negara anggota OPEC+ yang mulai mempertimbangkan normalisasi pasokan pada semester kedua 2026.

Di sisi lain, permintaan energi global juga belum mengalami lonjakan signifikan seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara besar seperti China dan kawasan Eropa. Kombinasi faktor tersebut semakin menekan harga minyak mentah dunia.

Rupiah Menguat Beri Tambahan Ruang Penurunan Harga BBM

Selain penurunan harga minyak global, penguatan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting dalam potensi turunnya harga Pertamax.

Dalam beberapa hari terakhir, rupiah menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS setelah tekanan eksternal mulai mereda. Penguatan kurs memberikan dampak langsung terhadap biaya impor minyak mentah maupun produk BBM yang masih menjadi komponen penting dalam perhitungan harga energi nasional.

Karena transaksi impor energi dilakukan menggunakan dolar AS, pergerakan kurs rupiah menjadi salah satu indikator utama dalam formula penentuan harga BBM nonsubsidi.

Jika tren penguatan rupiah terus berlanjut hingga akhir Juni, ruang penurunan harga Pertamax dinilai akan semakin besar.

Pertamina Tegaskan Harga Pertamax Ikuti Formula Pemerintah

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penetapan harga Pertamax series per 10 Juni 2026 telah mengikuti mekanisme pasar dan formula yang ditetapkan pemerintah.

Meski harga minyak dunia sempat mengalami kenaikan akibat dinamika geopolitik global, pemerintah tetap menjaga agar penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa Pertamax series merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai regulasi yang berlaku.

Menurut dia, mekanisme tersebut berbeda dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang harga jualnya ditetapkan pemerintah sehingga tidak mengalami perubahan secara langsung mengikuti pasar.

“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).

Ia menambahkan, evaluasi harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya dilakukan secara berkala setiap bulan berdasarkan perkembangan indikator keekonomian global.

“Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.

Masyarakat Tunggu Penyesuaian Harga Awal Juli

Dengan tren penurunan harga minyak global dan stabilitas nilai tukar yang mulai membaik, masyarakat kini menantikan keputusan resmi Pertamina terkait evaluasi harga BBM nonsubsidi yang biasanya diumumkan pada awal bulan.

Sejumlah analis menilai, jika kondisi pasar energi internasional tetap stabil dan tidak muncul kembali gejolak geopolitik baru, peluang harga Pertamax turun pada Juli 2026 cukup terbuka.

Meski demikian, keputusan final tetap berada di tangan pemerintah dan Pertamina, yang tidak hanya mempertimbangkan faktor keekonomian global, tetapi juga stabilitas pasokan energi nasional, kondisi fiskal, serta daya beli masyarakat di tengah pemulihan ekonomi domestik.

Apabila skenario optimistis terjadi, harga Pertamax pada Juli mendatang bisa menjadi yang terendah dalam beberapa bulan terakhir dan memberi sedikit ruang napas bagi konsumen di tengah tingginya biaya hidup.