IHSG Ditutup Turun ke Level 6.185, Sebanyak 317 Saham Berakhir di Zona Merah

IHSG Ditutup Turun ke Level 6.185, Sebanyak 317 Saham Berakhir di Zona Merah

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada perdagangan saham Senin pagi (27/7/2026). Koreksi IHSG terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi sebagian besar saham berkapitalisasi besar, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di kisaran Rp17.955 per dolar AS.

Mengutip data RTI, IHSG dibuka melemah 0,17% ke level 6.185. Hingga pukul 09.05 WIB, indeks kembali turun 0,22% ke posisi 6.183. Sementara itu, indeks LQ45 ikut terkoreksi 0,14% ke level 613, mencerminkan pelemahan pada saham-saham unggulan.

Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.204 dan terendah 6.154,59. Sebanyak 317 saham berada di zona merah, 193 saham menguat, dan 205 saham bergerak stagnan. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 201.074 kali dengan volume perdagangan sekitar 3,3 miliar saham dan nilai transaksi Rp1,7 triliun. Posisi dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran Rp17.953.

Meski IHSG masih terkoreksi, aktivitas perdagangan menunjukkan investor tetap aktif melakukan transaksi. Nilai transaksi yang telah mencapai Rp1,7 triliun pada awal sesi mencerminkan pelaku pasar masih melakukan aksi jual dan beli secara selektif di tengah berbagai sentimen global maupun domestik.

Pelaku pasar pada awal pekan juga masih mencermati perkembangan negosiasi dagang antara Amerika Serikat dengan sejumlah mitra dagangnya menjelang tenggat kebijakan tarif yang akan berlaku dalam waktu dekat. Selain itu, investor menunggu sejumlah data ekonomi penting dari AS pada pekan ini, termasuk inflasi dan pasar tenaga kerja, yang diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Prospek suku bunga global yang masih tinggi membuat investor cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Di sisi domestik, perhatian investor juga tertuju pada pergerakan nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS. Rupiah yang belum menunjukkan penguatan signifikan berpotensi memengaruhi sentimen pasar, terutama terhadap emiten yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku maupun utang dalam denominasi dolar AS.

Dari sisi sektoral, pergerakan saham berlangsung bervariasi. Sektor energi naik 0,35%, sektor basic materials menguat 0,61%, sektor industri bertambah 0,80%, sektor consumer siklikal naik 0,36%, dan sektor teknologi menguat 0,60%.

Di sisi lain, tekanan masih terjadi pada sektor infrastruktur yang turun 0,73%, sektor consumer nonsiklikal melemah 0,21%, sektor kesehatan terkoreksi 0,18%, sektor keuangan turun 0,09%, serta sektor properti melemah 0,15%. Selanjutnya sektor transportasi juga turun 0,14%.

Analis menilai penguatan sektor energi dan basic materials masih didukung oleh ekspektasi permintaan komoditas dan pergerakan harga sejumlah komoditas global yang relatif stabil. Sebaliknya, saham sektor keuangan dan infrastruktur masih menghadapi aksi ambil untung setelah mencatatkan penguatan dalam beberapa sesi sebelumnya.

Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar juga masih menjadi penentu arah IHSG. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) bergerak stagnan di level Rp2.630 per saham. Saham ini sempat dibuka naik 40 poin ke Rp2.670 sebelum kembali melemah. Selama perdagangan, TLKM bergerak di kisaran Rp2.610 hingga Rp2.670 dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.534 kali, volume perdagangan 39.102 saham, dan nilai transaksi mencapai Rp10,3 miliar.

Gerak Saham

Saham PT Petrosea Tbk (PTRO) menguat 1,5% menjadi Rp4.730 per saham. Saham PTRO dibuka stagnan di Rp4.660, sempat menyentuh level tertinggi Rp4.760 dan terendah Rp4.560. Frekuensi perdagangan mencapai 3.443 kali dengan volume 88.513 saham dan nilai transaksi sebesar Rp41,4 miliar.

Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) bergerak mendatar di level Rp2.960 per saham. Saham ini sempat dibuka turun 30 poin ke Rp2.930 sebelum kembali menguat. BBRI diperdagangkan pada kisaran Rp2.930 hingga Rp2.980 dengan frekuensi transaksi 6.517 kali, volume 294.641 saham, dan nilai transaksi Rp87,2 miliar.

Adapun saham JELI terkoreksi 3,88% menjadi Rp625 per saham. Saham tersebut dibuka turun 25 poin ke Rp620, sempat bergerak pada rentang Rp605 hingga Rp635. Total frekuensi perdagangan mencapai 1.061 kali dengan volume 48.296 saham dan nilai transaksi sekitar Rp3,2 miliar.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan sentimen global, mulai dari arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi AS, hingga dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal asing. Dari dalam negeri, investor juga menunggu rilis sejumlah laporan keuangan emiten periode semester I-2026 yang diperkirakan menjadi katalis utama bagi pergerakan IHSG dalam beberapa hari mendatang. Apabila kinerja emiten mampu melampaui ekspektasi pasar, bukan tidak mungkin IHSG berpeluang kembali menguat setelah tekanan yang terjadi pada awal perdagangan hari ini.