IMF: Investasi AI Jaga Pertumbuhan Ekonomi Global 3%, tetapi Ancam 40% Pekerjaan Dunia
Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut investasi besar-besaran pada infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan bertahan di kisaran 3%. Namun, perkembangan teknologi ini juga berpotensi mengubah hingga 40% pekerjaan di seluruh dunia.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan bahwa lonjakan investasi AI menciptakan peningkatan permintaan dan aktivitas investasi, terutama di kawasan Asia. Kondisi tersebut membantu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan akibat gangguan pasokan energi.
Mengutip Bangkok Post, Senin (12/10/2026), Georgieva menyampaikan pandangan tersebut dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand.
Menurutnya, investasi AI memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia. Ekonomi Asia maju berpotensi memperoleh tambahan pertumbuhan sebesar 0,5 hingga 1 poin persentase, sedangkan ekonomi Asia berkembang mendapatkan tambahan sekitar 0,2 hingga 0,8 poin persentase.
Thailand menjadi salah satu negara yang berpeluang mendapatkan manfaat dari perkembangan tersebut karena berperan sebagai pemasok perangkat keras untuk mendukung infrastruktur AI.
Investasi AI Dorong Pertumbuhan Ekonomi Global
Pembangunan infrastruktur AI membutuhkan investasi besar, mulai dari pusat data, perangkat keras, hingga sistem komputasi. Aktivitas ini mendorong permintaan di berbagai sektor ekonomi dan membuka peluang pertumbuhan baru.
Georgieva menilai percepatan investasi tersebut membantu menjaga pertumbuhan ekonomi dunia di sekitar 3%, meskipun perekonomian global menghadapi tekanan dari sisi pasokan energi.
Meski demikian, dampak positif investasi AI tidak serta-merta dirasakan secara merata oleh semua negara dan kelompok pekerja. Kemampuan suatu negara dalam menyediakan infrastruktur, keterampilan tenaga kerja, dan akses terhadap teknologi akan memengaruhi besarnya manfaat yang diperoleh.
IMF Peringatkan 40% Pekerjaan Dunia Terdampak AI
Di balik peluang ekonominya, IMF memperingatkan bahwa AI berpotensi membawa perubahan besar terhadap pasar tenaga kerja global.
Georgieva menggambarkan perkembangan AI sebagai gelombang besar yang bergerak perlahan, tetapi berpotensi mengubah struktur industri dan cara manusia bekerja.
Menurut perkiraan IMF, sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak perkembangan AI. Dampaknya dapat berupa peningkatan produktivitas melalui penggunaan teknologi, perubahan kebutuhan keterampilan, hingga hilangnya sejumlah pekerjaan yang dapat diotomatisasi.
Georgieva juga menyebut studi awal IMF menunjukkan bahwa sekitar 10% lowongan kerja di Amerika Serikat kini mensyaratkan kemampuan menggunakan AI bagi pelamar.
Pekerjaan dengan tugas berulang menjadi salah satu bidang yang menghadapi tekanan akibat otomatisasi. Sebaliknya, pembangunan infrastruktur AI turut menciptakan peluang kerja baru, khususnya di sektor konstruksi dan pengembangan pusat data.
“Ini adalah teknologi yang membawa perubahan besar. Teknologi ini mengubah cara kita bekerja dan menjalani hidup secara menyeluruh,” ujar Georgieva.
Bank Dunia Dorong Penggunaan Small AI di Negara Berkembang
Sementara itu, Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyoroti pentingnya penggunaan AI yang lebih terjangkau bagi masyarakat di negara berkembang.
Bank Dunia berfokus pada pemanfaatan small AI, yakni pendekatan AI yang lebih sederhana dan dirancang untuk kebutuhan tertentu. Teknologi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas petani, tenaga medis, dan pendidik tanpa selalu membutuhkan sistem komputasi berskala besar.
Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi negara berkembang yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur digital, biaya teknologi, dan akses terhadap sumber daya komputasi.
Dengan penerapan yang tepat, small AI dapat membantu masyarakat memperoleh manfaat teknologi sekaligus mengurangi hambatan biaya dalam proses adopsinya.
AI Ancam Peluang Kerja bagi Lulusan Baru
Tantangan lain datang dari berkurangnya peluang kerja tingkat pemula atau entry-level yang selama ini menjadi pintu masuk bagi lulusan baru ke dunia profesional.
Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam memperingatkan bahwa perkembangan AI dapat menekan permintaan terhadap tenaga kerja yang baru memasuki pasar kerja.
“Ada masalah khusus yang harus segera kita tangani, yaitu menurunnya permintaan tenaga kerja untuk lulusan baru,” ujar Tharman.
Perusahaan yang mengadopsi AI untuk mengerjakan tugas administratif, pengolahan data, dan pekerjaan rutin berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap sebagian posisi awal. Kondisi ini dapat menyulitkan lulusan baru mendapatkan pengalaman kerja yang dibutuhkan untuk membangun karier.
Karena itu, perubahan kebutuhan tenaga kerja menuntut dunia pendidikan, pemerintah, dan perusahaan untuk menyesuaikan program pelatihan serta pengembangan keterampilan.
Kesenjangan Teknologi Jadi Tantangan Negara Berkembang
Tharman juga memperingatkan bahwa AI berpotensi memperlebar kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang apabila tidak diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.
Negara yang memiliki infrastruktur digital kuat, investasi besar, dan tenaga kerja terampil cenderung lebih siap memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, negara dengan keterbatasan akses teknologi berisiko tertinggal.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah perlu memperkuat pendidikan, pelatihan keterampilan digital, dan program peningkatan kemampuan tenaga kerja. Perusahaan juga perlu mempersiapkan karyawan agar mampu bekerja berdampingan dengan sistem AI.
Tharman menekankan pentingnya memanfaatkan AI untuk menciptakan pekerjaan berkualitas yang memungkinkan manusia terus berkembang dan membangun karier.
Dengan demikian, investasi AI menghadirkan dua sisi bagi perekonomian global. Di satu sisi, teknologi ini mendukung pertumbuhan ekonomi dan menciptakan peluang bisnis baru. Di sisi lain, otomatisasi dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja dan mempersempit peluang bagi kelompok tertentu.
Keberhasilan negara dalam memanfaatkan AI tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi teknologi, tetapi juga oleh kemampuan memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat dan tenaga kerja secara luas.
0 Comments