Indonesia Diam-Diam Amankan 150 Juta Barel Minyak, Ini Strateginya di Tengah Krisis Global

Indonesia Diam-Diam Amankan 150 Juta Barel Minyak, Ini Strateginya di Tengah Krisis Global

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menilai ketahanan energi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi relatif kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Tekanan tersebut terutama dipicu oleh konflik geopolitik, fluktuasi harga minyak dunia, serta gangguan rantai pasok energi yang masih terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

Menurut Hashim, stabilitas ini tidak terlepas dari pendekatan diplomasi aktif yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah negara mitra strategis. Ia menekankan bahwa strategi energi Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada produksi domestik, tetapi juga pada kerja sama internasional yang mampu menjamin pasokan dalam jangka menengah hingga panjang.

Hashim mengungkapkan, cadangan minyak Indonesia saat ini berada di kisaran 23 hari. Angka tersebut memang masih di bawah standar ideal negara maju yang umumnya memiliki cadangan hingga 90 hari. Namun, dalam konteks kawasan berkembang, level ini dinilai masih cukup aman untuk menjaga kebutuhan energi jangka pendek.

Meski demikian, pemerintah tidak tinggal diam. Ia menyebut bahwa sejumlah langkah antisipatif telah disiapkan, termasuk peningkatan kapasitas penyimpanan energi, diversifikasi sumber energi, serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT).

“Presiden melihat ke depan. Kalau konflik berkepanjangan, tentu posisi kita bisa terpengaruh. Karena itu langkah antisipasi sudah disiapkan,” ujar Hashim dalam acara Economic Briefing di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan global memang kembali meningkat, yang berdampak langsung pada volatilitas harga minyak mentah dunia. Harga acuan seperti Brent dan WTI sempat mengalami lonjakan akibat kekhawatiran gangguan pasokan, terutama dari kawasan Timur Tengah dan Rusia.

Hashim membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara lain yang mengalami lonjakan harga energi yang cukup tajam. Di beberapa negara Asia Tenggara hingga Eropa, harga bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan naik signifikan, bahkan membebani masyarakat dan industri.

“Di Filipina kenaikannya sangat tinggi, bahkan mencapai sekitar 80% lebih. Negara lain seperti Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia juga mengalami kenaikan 50–60%,” katanya.

Sebaliknya, Indonesia dinilai masih mampu menjaga stabilitas harga energi domestik. Hal ini tidak lepas dari kebijakan subsidi energi, pengendalian distribusi, serta intervensi pemerintah melalui badan usaha milik negara di sektor energi.

“Di dalam negeri, kenaikan bisa ditekan. Ini menunjukkan daya tahan kita cukup kuat,” lanjutnya.

Namun demikian, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa ketahanan ini tetap memiliki batas. Beban subsidi energi yang terlalu besar dapat menekan anggaran negara, sehingga diperlukan strategi jangka panjang yang lebih berkelanjutan, termasuk efisiensi konsumsi energi dan percepatan penggunaan energi alternatif seperti panas bumi, tenaga surya, dan bioenergi.

Skema Harga Khusus dan Diplomasi Energi

Lebih lanjut, Hashim mengungkapkan hasil kunjungan Presiden Prabowo ke Moscow yang menghasilkan komitmen kerja sama energi strategis dengan Presiden Vladimir Putin.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia disebut memperoleh komitmen pasokan minyak mentah dalam jumlah besar dari Russia dengan skema harga khusus. Skema ini dinilai menguntungkan karena memungkinkan Indonesia mendapatkan harga di bawah pasar internasional, sehingga dapat membantu menjaga stabilitas harga BBM di dalam negeri.

Komitmen awal yang disepakati mencapai sekitar 100 juta barel, dengan tambahan potensi hingga 57 juta barel. Secara keseluruhan, Indonesia disebut berhasil mengamankan sekitar 150 juta barel minyak untuk memperkuat cadangan energi nasional.

“Ini hasil diplomasi tingkat tinggi. Presiden sudah beberapa kali bertemu Presiden Putin, dan dari hubungan itu kita mendapatkan komitmen yang konkret,” ujar Hashim.

Selain Rusia, Indonesia juga tengah memperluas kerja sama energi dengan negara-negara lain di Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan dan meningkatkan ketahanan energi nasional secara keseluruhan.

Ke depan, pemerintah juga menargetkan peningkatan lifting minyak dan gas domestik, optimalisasi kilang, serta pembangunan cadangan penyangga energi nasional (strategic petroleum reserve). Upaya ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi gejolak energi global yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.