Kospi Melemah, Reli Saham AI Kehilangan Momentum

Kospi Melemah, Reli Saham AI Kehilangan Momentum

Kospi Masuk Fase Bearish, Euforia Saham AI Mulai Mereda di Tengah Aksi Ambil Untung Investor

Indeks saham acuan Korea Selatan, Kospi, kini memasuki wilayah bearish setelah mengalami tekanan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Koreksi ini menjadi sorotan pasar global karena mencerminkan mulai meredanya optimisme investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sekaligus mengungkap risiko tingginya konsentrasi indeks pada segelintir perusahaan teknologi.

Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), indeks Kospi sempat anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Rabu sebelum akhirnya ditutup menguat tipis pada Kamis di tengah pergerakan pasar yang sangat fluktuatif. Penurunan tersebut mengakhiri reli panjang yang sempat membawa indeks mencetak rekor tertinggi sepanjang tahun.

CEO Emmer Capital, Manishi Raychaudhuri, mengatakan tekanan terhadap pasar saham Korea Selatan dipicu oleh meningkatnya skeptisisme investor global terhadap valuasi saham AI yang dinilai sudah terlalu mahal, ditambah tingginya konsentrasi indeks pada sektor semikonduktor.

“Penurunan harga saham Korea Selatan baru-baru ini didorong oleh meningkatnya skeptisisme terhadap AI dari investor global serta konsentrasi pasar yang sangat tinggi,” ujarnya.

Reli Kospi sepanjang 2026 sebagian besar ditopang oleh optimisme terhadap industri AI yang mendorong permintaan chip memori berkapasitas tinggi (High Bandwidth Memory/HBM), komponen penting untuk pelatihan model AI generatif. Namun, ketika investor mulai mempertanyakan seberapa cepat pertumbuhan industri AI dapat dipertahankan, aksi ambil untung pun tidak terhindarkan.

Data Emmer Capital menunjukkan Samsung Electronics dan SK Hynix sempat menyumbang lebih dari separuh bobot indeks Kospi pada Juni. Kondisi tersebut membuat pergerakan kedua saham tersebut sangat menentukan arah keseluruhan pasar.

Pendiri Fibonacci Asset Management Global, Jung In Yun, menilai koreksi saat ini lebih disebabkan oleh penyesuaian posisi investor dibandingkan memburuknya kondisi fundamental perusahaan.

“Saham Korea telah menjadi salah satu perdagangan AI yang paling ramai secara global setelah reli yang sangat kuat, sehingga hanya diperlukan sedikit sentimen negatif untuk memicu aksi ambil untung,” katanya.

Sentimen Global Masih Membayangi

Selain kekhawatiran terhadap valuasi saham AI, investor juga mulai mengantisipasi perlambatan pertumbuhan laba perusahaan teknologi global. Tingginya suku bunga di berbagai negara maju serta ketidakpastian ekonomi dunia membuat pelaku pasar lebih selektif terhadap aset berisiko.

Ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan juga turut meningkatkan permintaan terhadap aset yang lebih aman, sehingga sebagian dana asing keluar dari pasar saham Asia, termasuk Korea Selatan.

Global Investment Strategist KB Financial Group, Peter Kim, mengatakan pergerakan tajam Kospi juga mencerminkan perubahan karakter pasar modern yang semakin dipengaruhi arus dana jangka pendek.

“Gamifikasi keuangan telah menyebabkan gejolak yang lebih dipengaruhi oleh arus berita dan tren dibandingkan fundamental perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, derasnya arus dana investor ritel, penggunaan ETF leverage, serta tingginya eksposur terhadap saham AI membuat fluktuasi harian sebesar 5% hingga 10% kini semakin sering terjadi.

Bahkan, indeks volatilitas Kospi tercatat telah melonjak lebih dari 200% sejak awal tahun, menunjukkan tingkat ketidakpastian pasar yang meningkat signifikan.

Permintaan AI Dinilai Masih Kuat

Meski saham-saham teknologi terkoreksi, para analis menilai permintaan terhadap chip AI sebenarnya masih relatif solid.

Samsung Electronics sebelumnya melaporkan proyeksi kenaikan laba berkat membaiknya harga chip memori DRAM dan HBM. Namun, pasar justru bereaksi negatif karena investor lebih fokus pada prospek belanja infrastruktur AI oleh perusahaan-perusahaan teknologi global yang diperkirakan mulai melambat dibanding tahun sebelumnya.

“Pasar mempertanyakan kecepatan pertumbuhan laba, bukan keberlanjutan permintaan AI itu sendiri,” kata Jung.

Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini lebih mencerminkan penyesuaian valuasi saham setelah reli yang sangat tinggi, bukan berakhirnya siklus pertumbuhan industri AI.

Pandangan serupa juga disampaikan sejumlah analis yang menilai kebutuhan pusat data (data center), komputasi awan (cloud), hingga pengembangan model AI generatif masih akan menjadi pendorong utama permintaan chip memori dalam beberapa tahun ke depan. Namun, investor kini menuntut pertumbuhan laba yang lebih nyata dibanding sekadar ekspektasi.

Prospek Kospi Masih Positif

Meski mengalami koreksi tajam, Kospi masih membukukan kenaikan lebih dari 70% sepanjang 2026 setelah melonjak sekitar 75% pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa tren jangka menengah pasar saham Korea Selatan masih relatif kuat.

Jung memperkirakan volatilitas kemungkinan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Namun, ia tetap optimistis pasar Korea memiliki peluang pulih ketika sentimen global kembali stabil.

“Setelah sentimen risiko global membaik, investor asing kemungkinan akan kembali masuk ke pasar Korea mengingat peran penting negara tersebut dalam rantai pasok semikonduktor dan AI dunia,” ujarnya.

Investor Menanti Laporan Keuangan Emiten Chip

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada laporan keuangan kuartal II 2026 dari Samsung Electronics dan SK Hynix yang dijadwalkan dirilis pada akhir bulan ini.

Selain kinerja laba, pasar juga akan mencermati proyeksi manajemen mengenai permintaan chip AI, perkembangan pasar HBM, belanja modal perusahaan teknologi global, serta prospek industri semikonduktor pada paruh kedua 2026.

Analis menilai apabila kedua perusahaan memberikan pandangan yang optimistis mengenai permintaan memori AI dan keberlanjutan siklus industri semikonduktor, hal tersebut berpotensi menjadi katalis positif yang mendorong pemulihan saham teknologi sekaligus mengangkat indeks Kospi.

Meski demikian, arah pergerakan pasar dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga bank sentral utama, serta sentimen terhadap sektor AI yang hingga kini tetap menjadi tema dominan di pasar keuangan dunia.