Pabrik Surabaya Tekan Biaya Logistik Minyak Goreng ke Indonesia Timur hingga 40%

Pabrik Surabaya Tekan Biaya Logistik Minyak Goreng ke Indonesia Timur hingga 40%

Pasokan minyak goreng ke kawasan Indonesia Timur diproyeksikan menjadi lebih cepat dan efisien setelah PT Industri Nabati Lestari (INL), anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo dan PTPN III (Persero), mengoperasikan fasilitas pengemasan minyak goreng di kawasan Pelabuhan Kalimas, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan rantai pasok minyak goreng nasional sekaligus upaya mendekatkan produk ke pasar konsumen di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Selama ini, distribusi minyak goreng untuk kawasan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua sebagian besar dilayani langsung dari pabrik pengolahan yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Dengan skema baru, minyak goreng akan dikirim dalam bentuk curah dari Sumatera Utara menuju Surabaya. Selanjutnya, proses pengemasan dilakukan di fasilitas baru yang berada di kawasan Pelabuhan Kalimas sebelum produk didistribusikan ke berbagai daerah tujuan. Model distribusi ini dinilai mampu memangkas waktu pengiriman sekaligus meningkatkan fleksibilitas pasokan sesuai kebutuhan pasar di masing-masing wilayah.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi bisnis perusahaan yang tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga memperkuat jaringan distribusi hingga ke konsumen akhir.

Menurut dia, Surabaya dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat logistik terbesar di Indonesia. Kota tersebut memiliki konektivitas pelabuhan yang kuat dengan berbagai wilayah di Indonesia Timur, sehingga dapat mempercepat arus barang sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.

“Selama ini produk dikirim dalam bentuk kemasan dari Sumatera Utara. Dengan pengemasan dilakukan di Surabaya, distribusi menjadi lebih efisien dan biaya logistik dapat ditekan hingga 40%,” ujar Jatmiko, Senin (8/6/2026).

Penurunan biaya logistik tersebut menjadi faktor penting mengingat biaya distribusi masih menjadi salah satu tantangan utama dalam rantai pasok pangan nasional. Untuk komoditas kebutuhan pokok seperti minyak goreng, tingginya ongkos pengiriman sering kali berdampak pada harga jual di tingkat konsumen, terutama di wilayah kepulauan yang lokasinya jauh dari sentra produksi.

Dengan memangkas biaya logistik, perusahaan berharap harga produk dapat menjadi lebih kompetitif sekaligus membantu menjaga stabilitas pasokan di pasar. Langkah ini juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan efisiensi distribusi komoditas strategis.

Sebagai salah satu pelabuhan terbesar di Indonesia, Tanjung Perak selama ini berperan sebagai simpul utama distribusi barang menuju kawasan timur Nusantara. Posisi geografis Surabaya yang lebih dekat dengan pasar tujuan dibandingkan Sumatera Utara memungkinkan waktu tempuh pengiriman menjadi lebih singkat, sehingga risiko keterlambatan distribusi dapat ditekan.

Selain itu, pengiriman dalam bentuk curah sebelum dikemas dinilai lebih efisien dibandingkan mengangkut produk yang sudah dikemas dari lokasi produksi. Skema tersebut memungkinkan optimalisasi kapasitas angkut dan mengurangi biaya penanganan selama proses distribusi.

Perkuat Hilirisasi Sawit

Bagi PTPN IV PalmCo, operasional fasilitas pengemasan di Surabaya juga merupakan bagian dari agenda hilirisasi industri sawit yang tengah diperkuat perusahaan. Selama ini industri sawit nasional masih didominasi oleh penjualan produk hulu seperti crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah. Melalui pengembangan produk turunan dan penguatan distribusi, perusahaan berupaya meningkatkan nilai tambah yang diperoleh dari komoditas sawit.

Jatmiko menjelaskan bahwa transformasi PalmCo tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas perkebunan dan pabrik pengolahan, tetapi juga memperbesar kontribusi bisnis hilir yang memiliki margin lebih tinggi serta lebih dekat dengan kebutuhan konsumen.

“PTPN mendapat tugas untuk menjadi instrumen negara yang dapat diandalkan dalam menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas industri sawit nasional. Karena itu, kami terus memperkuat hilirisasi dan distribusi agar produk bisa menjangkau masyarakat secara lebih efektif,” katanya.

Langkah hilirisasi tersebut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya konsumsi minyak goreng domestik yang terus tumbuh seiring pertumbuhan jumlah penduduk, ekspansi sektor usaha mikro dan kecil, serta perkembangan industri makanan dan minuman di berbagai daerah.

Bidik Pertumbuhan Pasar Indonesia Timur

Keberadaan fasilitas pengemasan di Surabaya juga diharapkan dapat memperkuat penetrasi pasar minyak goreng PalmCo di luar Pulau Jawa. Kawasan Indonesia Timur dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang besar seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta bertambahnya kebutuhan rumah tangga dan industri pengolahan makanan.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah wilayah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua menunjukkan pertumbuhan konsumsi yang cukup signifikan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi produsen minyak goreng untuk memperluas jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan ketersediaan pasokan secara berkelanjutan.

Melalui fasilitas baru ini, perusahaan berharap dapat merespons permintaan pasar dengan lebih cepat, menjaga kontinuitas pasokan, serta meningkatkan daya saing produk di berbagai wilayah tujuan.

Operasional fasilitas pengemasan di Surabaya dijalankan melalui kerja sama dengan PT Lestari Jaya Indonesia Maju (LJIM). Komisaris PT LJIM Mayjen TNI (Purn) Gamal Haryo Putro mengatakan distribusi awal dari fasilitas tersebut telah berjalan dan mendapatkan respons positif dari pasar.

Menurut dia, kehadiran fasilitas pengemasan yang berada dekat dengan pusat distribusi diharapkan mampu mendukung kelancaran pasokan minyak goreng ke berbagai daerah sekaligus menjadi model pengembangan jaringan logistik yang lebih efisien bagi industri pangan nasional.

Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, PTPN IV PalmCo optimistis dapat memperkuat posisi bisnis hilir perusahaan, memperluas jangkauan pasar di Indonesia Timur, serta mendukung upaya pemerintah menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga minyak goreng bagi masyarakat.