Pendapatan ABMM Turun Jadi USD 1,03 Miliar di 2025

Pendapatan ABMM Turun Jadi USD 1,03 Miliar di 2025

Kinerja PT ABM Investama Tbk (ABMM) Melemah di 2025, Pendapatan dan Laba Turun Signifikan

PT ABM Investama Tbk (ABMM) mencatat penurunan kinerja keuangan sepanjang tahun buku 2025. Penurunan ini terlihat dari turunnya pendapatan hingga laba bersih perseroan, seiring dengan tekanan di sektor energi dan jasa pertambangan yang menjadi lini bisnis utama perusahaan.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (20/3/2026), ABMM membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar USD 1,03 miliar pada 2025. Angka ini turun 13,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 1,20 miliar.

Penurunan pendapatan ini mencerminkan adanya perlambatan aktivitas bisnis, yang kemungkinan dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas energi global, khususnya batu bara, serta penyesuaian volume produksi dan permintaan dari pasar internasional.

Di sisi lain, beban pokok pendapatan juga mengalami penurunan sebesar 12,57% menjadi USD 934,49 juta pada 2025, dari sebelumnya USD 1,06 miliar pada 2024. Meski demikian, penurunan beban ini belum mampu menahan penurunan kinerja secara keseluruhan.

Akibatnya, laba bruto ABMM turun cukup dalam sebesar 20,97% menjadi USD 103,67 juta pada 2025, dibandingkan USD 131,19 juta pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan margin keuntungan perusahaan ikut tertekan.

Dari sisi operasional, beban penjualan dan distribusi berhasil ditekan menjadi USD 2,18 juta, turun dari USD 3,81 juta pada 2024. Namun, beban umum dan administrasi justru meningkat menjadi USD 58,37 juta dari sebelumnya USD 53,07 juta. Sementara itu, pendapatan lainnya juga menurun signifikan menjadi USD 20,23 juta dari USD 33,55 juta.

Kombinasi dari faktor-faktor tersebut membuat laba usaha perseroan anjlok 41,26% menjadi USD 63,53 juta pada 2025, dibandingkan USD 107,85 juta pada tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu, kontribusi dari entitas asosiasi juga mengalami penurunan tajam. Laba dari entitas asosiasi tercatat turun 44,06% menjadi USD 84,67 juta dari USD 151,37 juta pada 2024. Pendapatan dividen bahkan merosot drastis menjadi hanya USD 650, dibandingkan USD 831.453 pada tahun sebelumnya.

Pendapatan keuangan juga sedikit turun menjadi USD 4,38 juta dari USD 4,55 juta. Meski demikian, perusahaan berhasil menekan biaya keuangan secara signifikan menjadi USD 76,55 juta, turun dari USD 109,80 juta pada 2024, yang membantu mengurangi tekanan lebih lanjut terhadap laba bersih.

Secara keseluruhan, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD 70,61 juta pada 2025. Angka ini turun tajam dari USD 139,36 juta pada 2024, atau hampir setengahnya. Penurunan ini juga tercermin pada laba per saham dasar yang turun menjadi USD 0,02565 dari sebelumnya USD 0,05062.

Dari sisi neraca, ekuitas perseroan masih mencatat kenaikan tipis sebesar 3,9% menjadi USD 880,42 juta pada 2025. Sementara itu, liabilitas turun 5,8% menjadi USD 1,17 miliar, dan total aset juga sedikit menyusut 1,9% menjadi USD 2,05 miliar.

Tekanan Industri dan Tantangan Global

Penurunan kinerja ABMM tidak lepas dari dinamika industri energi global. Sepanjang 2025, harga batu bara mengalami volatilitas akibat perubahan kebijakan energi di berbagai negara, transisi menuju energi terbarukan, serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar.

Selain itu, tekanan biaya operasional dan kebutuhan investasi untuk transformasi energi juga menjadi tantangan bagi perusahaan berbasis sumber daya alam seperti ABMM.

Komitmen Keberlanjutan dan Transisi Energi

Di tengah tekanan kinerja keuangan, ABMM tetap menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan dan transisi energi bersih. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui anak usahanya, CKB Logistics.

Perusahaan tersebut memulai pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap gudang Fasilitas Hub Logistik Samarinda. Proyek ini dikerjakan bekerja sama dengan PT Infiniti Energi Indonesia (Infien).

Inisiatif ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi karbon hingga 61,4 ton CO2 per tahun, sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi operasional perusahaan.

Direktur Utama CKB Logistics, Iman Sjafei, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendukung target pemerintah Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060.

“Pemasangan PLTS ini merupakan bagian dari inisiatif efisiensi energi dan upaya dekarbonisasi operasional logistik, sekaligus mendukung target ABMM untuk menurunkan emisi karbon sebesar 16% pada 2060,” ujarnya.

PLTS yang digunakan memiliki sistem On-Grid dengan kapasitas 48 kWp dan terhubung langsung ke jaringan listrik PLN. Sistem ini dirancang berdasarkan optimalisasi luas atap gudang dengan mempertimbangkan desain bangunan, termasuk keberadaan skylight.

Dengan kapasitas tersebut, PLTS diperkirakan mampu menghasilkan listrik sebesar 72.260 kWh per tahun, yang setara dengan penghematan sekitar 30% dari total konsumsi listrik tahunan fasilitas logistik di Samarinda.

Prospek ke Depan

Ke depan, kinerja ABMM diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas energi global serta keberhasilan perusahaan dalam melakukan efisiensi dan diversifikasi bisnis.

Langkah-langkah menuju energi bersih dan efisiensi operasional dinilai menjadi strategi penting bagi ABMM untuk menjaga daya saing sekaligus menjawab tuntutan transisi energi yang semakin kuat di tingkat global.