Peretasan DeFi Ubah Imbal Hasil Tinggi Menjadi Beban Biaya Likuiditas yang Mahal

Peretasan DeFi Ubah Imbal Hasil Tinggi Menjadi Beban Biaya Likuiditas yang Mahal

Maraknya Peretasan Ubah Cara Investor Menilai Imbal Hasil DeFi

Maraknya peretasan di sektor decentralized finance (DeFi) mulai mengubah cara investor menilai peluang investasi. Kini, pengguna tidak lagi hanya mengejar APY (annual percentage yield), tetapi juga mempertimbangkan risiko keamanan yang melekat pada bridge, dompet, oracle, frontend, hingga smart contract.

Bagi investor dan penyedia likuiditas, pertanyaan utamanya bukan lagi sekadar seberapa besar imbal hasil yang ditawarkan. Mereka juga harus menilai apakah potensi keuntungan tersebut sebanding dengan risiko teknis, operasional, dan tata kelola dalam ekosistem DeFi.

Berdasarkan data DeFiLlama, hingga 30 Juni 2026 terdapat 88 insiden peretasan DeFi sepanjang kuartal II dengan total kerugian yang diketahui mencapai US$780,3 juta.

Sebagian besar kerugian terjadi pada April, yakni sekitar US$644,8 juta. Sementara itu, Mei dan Juni menambah kerugian sekitar US$135,4 juta dari puluhan insiden lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman keamanan DeFi bukan hanya berasal dari satu serangan besar, melainkan rangkaian insiden yang terus berulang.

Secara kumulatif, total kerugian yang tercatat di DeFiLlama hingga akhir Juni mencapai sekitar US$16,65 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$7,85 miliar berasal dari eksploitasi protokol DeFi, sedangkan sekitar US$3,26 miliar berasal dari serangan terhadap bridge.

Khusus pada kuartal II, eksploitasi protokol DeFi menyumbang sekitar US$735,8 juta dari total kerugian US$780,3 juta. Adapun kerugian akibat peretasan bridge mencapai sekitar US$353,4 juta.

Meski sejumlah kategori data dapat saling tumpang tindih dan tidak semua insiden memiliki nilai kerugian yang lengkap, tren yang muncul cukup jelas. Ancaman keamanan kini tidak hanya berasal dari smart contract, tetapi juga dari berbagai komponen pendukung seperti bridge, sistem otorisasi, antarmuka pengguna (frontend), hingga mekanisme verifikasi.

Risiko Keamanan Kini Memengaruhi Imbal Hasil

Sepanjang kuartal II, kerugian terbesar berasal dari infrastruktur seperti bridge, sistem tanda tangan digital, dan jaringan lintas blockchain. Di sisi lain, jumlah insiden terbanyak dipicu oleh kelemahan pada logika smart contract.

Perbedaan ini mengubah cara pelaku pasar mengukur risiko. Jika sebelumnya bug pada smart contract dianggap hanya berdampak pada satu aplikasi, kini gangguan pada infrastruktur dapat memengaruhi banyak protokol sekaligus karena menjadi jalur perpindahan aset antarblockchain.

Akibatnya, investor tidak lagi hanya melihat besarnya imbal hasil sebuah protokol. Mereka juga mulai mempertimbangkan apakah akses menuju imbal hasil tersebut bergantung pada bridge, oracle, atau komponen lain yang berpotensi menjadi titik lemah.

Bagi market maker dan penyedia likuiditas, kondisi ini meningkatkan biaya operasional karena mereka membutuhkan kompensasi yang lebih besar sebelum bersedia memindahkan aset antarjaringan.

Fenomena tersebut memunculkan risk premium, yaitu tambahan imbal hasil yang diminta investor sebagai kompensasi atas risiko keamanan. Dampaknya dapat terlihat dari likuiditas yang menurun, spread perdagangan yang melebar, hingga meningkatnya insentif yang harus diberikan protokol untuk menarik modal.

Bridge Menjadi Sorotan

Bridge menjadi salah satu sumber risiko terbesar di ekosistem DeFi. Selama kuartal II, kerugian akibat eksploitasi bridge mencapai sekitar US$353,4 juta.

Artinya, jalur perpindahan aset kini menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi. Jika aset harus melewati bridge sebelum dapat digunakan di suatu protokol, maka tingkat keamanan bridge tersebut turut menentukan tingkat risiko investasi.

Sejumlah insiden, termasuk eksploitasi pada KelpDAO, LayerZero, serta penghentian sementara layanan THORChain setelah mengalami serangan, memperlihatkan bagaimana gangguan pada infrastruktur dapat langsung mengikis kepercayaan pengguna.

Ke depan, investor diperkirakan akan lebih memilih protokol dengan jalur transaksi yang lebih sederhana, paparan terhadap bridge yang lebih rendah, atau likuiditas yang lebih dalam sehingga tidak terlalu bergantung pada infrastruktur yang rentan.

Keamanan Menjadi Faktor Daya Saing

Meningkatnya risiko membuat investasi pada aspek keamanan menjadi semakin penting bagi protokol DeFi. Audit kode, program bug bounty, pemantauan transaksi secara real-time, perlindungan asuransi, hingga peningkatan keamanan frontend kini bukan lagi sekadar biaya operasional, melainkan bagian dari strategi untuk menarik dan mempertahankan likuiditas.

Perusahaan keamanan blockchain seperti TRM Labs, CertiK, dan Chainalysis juga mencatat bahwa pencurian aset kripto kini semakin sering melibatkan pencurian private key, kelemahan bridge, sistem kustodian, serta rekayasa sosial, bukan hanya eksploitasi smart contract.

Karena itu, pengguna kini menuntut transparansi yang lebih besar mengenai cara dana mereka dipindahkan, bridge yang digunakan, perlindungan yang tersedia, hingga prosedur yang akan dijalankan apabila terjadi insiden keamanan.

Tantangan Jangka Panjang bagi DeFi

Peretasan DeFi kini bukan lagi sekadar persoalan teknis. Risiko keamanan mulai memengaruhi struktur pasar dengan meningkatkan biaya perpindahan modal serta mengurangi efisiensi likuiditas.

Apabila tren ini terus berlanjut, protokol yang mampu menunjukkan standar keamanan yang kuat, transparansi yang lebih baik, serta manajemen risiko yang jelas diperkirakan akan lebih mudah menarik modal dibandingkan platform yang gagal memberikan jaminan serupa.

Dengan demikian, keamanan kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing protokol DeFi, sejajar dengan besarnya imbal hasil yang ditawarkan.