Purbaya Sebut Investor Asing Masih Percaya Pondasi Ekonomi Indonesia, Ini Buktinya
Investor Asing Masih Percaya pada Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global
Pemerintah menilai kepercayaan investor asing terhadap perekonomian Indonesia masih tetap terjaga meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. Stabilitas sejumlah indikator pasar keuangan domestik menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai tujuan investasi yang relatif menarik di kawasan.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan kepercayaan tersebut tercermin dari pergerakan indikator keuangan yang relatif stabil, termasuk spread antara surat berharga negara (SBN) Indonesia dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Menurutnya, pergerakan spread yang tidak mengalami perubahan signifikan menunjukkan bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia di mata investor global masih tetap terkendali.
“Spread dari SBN terhadap treasury. Di Januari 2025 sekitar 240 basis point, sekarang sekitar 243 basis point. Kenaikannya sangat terbatas,” kata Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna yang berlangsung di Istana Negara pada Jumat (13/3/2026).
Stabilitas Spread Jadi Sinyal Kepercayaan Investor
Spread antara SBN dan obligasi pemerintah Amerika Serikat sering dijadikan indikator untuk mengukur persepsi risiko investor terhadap suatu negara berkembang. Semakin besar spread tersebut, biasanya mencerminkan risiko yang dinilai lebih tinggi oleh pasar.
Namun dalam kasus Indonesia, perubahan spread yang relatif kecil menunjukkan bahwa investor global masih menilai fundamental ekonomi nasional cukup kuat.
Selain faktor risiko, stabilitas spread juga dipengaruhi oleh kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai disiplin serta koordinasi kebijakan antara otoritas fiskal dan moneter. Pemerintah bersama Bank Indonesia terus menjaga stabilitas makroekonomi melalui pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, dan pengelolaan utang negara yang hati-hati.
Arus Modal Asing Masih Positif
Purbaya juga menyoroti perkembangan arus modal asing yang sempat mengalami fluktuasi sepanjang tahun lalu. Meski demikian, dalam beberapa bulan terakhir aliran modal asing kembali mencatatkan tren positif.
Menurutnya, sejak akhir tahun lalu hingga awal 2026, investor global kembali meningkatkan eksposur mereka ke pasar keuangan Indonesia.
“Capital flow ke negara kita memang sempat naik turun, tetapi sejak November dan Desember sudah kembali positif. Sampai sekarang juga masih positif,” ujar Purbaya.
Masuknya modal asing tersebut mencerminkan bahwa investor masih melihat peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
Aliran Dana Masuk ke Obligasi dan Saham
Selain pasar obligasi, arus modal asing juga tercatat masuk ke pasar saham domestik. Hal ini menunjukkan bahwa investor tidak hanya tertarik pada instrumen pendapatan tetap, tetapi juga pada potensi pertumbuhan perusahaan-perusahaan Indonesia.
Berdasarkan data terbaru, Purbaya menyebutkan bahwa pada Maret 2026 terjadi aliran dana masuk ke beberapa instrumen investasi domestik.
“Kita lihat data bulan Maret terakhir, yang keluar hanya dari SBN sekitar Rp0,7 triliun. Namun pada instrumen SRBI terjadi inflow sekitar Rp2,2 triliun. Di pasar saham juga masih terjadi inflow sekitar Rp2,2 triliun,” jelasnya.
Instrumen SRBI atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia menjadi salah satu instrumen yang menarik minat investor asing karena menawarkan imbal hasil kompetitif sekaligus membantu menjaga stabilitas likuiditas di pasar keuangan.
Fundamental Ekonomi Jadi Faktor Utama
Purbaya menilai keputusan investor global untuk menempatkan dana di Indonesia umumnya didasarkan pada pertimbangan fundamental ekonomi jangka panjang. Faktor seperti stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang konsisten, serta reformasi struktural yang dilakukan pemerintah menjadi pertimbangan penting bagi investor.
Indonesia sendiri diproyeksikan masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun ke depan. Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi domestik yang kuat, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan investasi di sektor industri dan hilirisasi sumber daya alam.
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat sektor manufaktur dan energi melalui berbagai kebijakan hilirisasi, termasuk pengolahan mineral seperti nikel dan bauksit yang semakin menarik perhatian investor global.
Tantangan Global Masih Membayangi
Meski aliran modal asing masih positif, pemerintah tetap mewaspadai berbagai risiko eksternal yang dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Ketidakpastian kebijakan suku bunga global, perlambatan ekonomi di beberapa negara maju, serta tensi geopolitik internasional masih menjadi faktor yang dapat memicu volatilitas pasar.
Namun demikian, otoritas ekonomi Indonesia optimistis bahwa fondasi ekonomi domestik yang relatif kuat dapat membantu meredam dampak dari guncangan eksternal tersebut.
Menurut Purbaya, selama kebijakan ekonomi tetap konsisten dan stabilitas makroekonomi terjaga, Indonesia akan tetap menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di kawasan Asia.
“Selama fundamental ekonomi kita kuat dan kebijakan tetap konsisten, investor global akan tetap melihat Indonesia sebagai tempat yang menarik untuk berinvestasi,” ujarnya.
0 Comments