Robinhood Luncurkan Testnet Publik untuk Jaringan Layer-2 Ethereum
Alasan Robinhood Membangun Blockchain Sendiri
Robinhood meluncurkan testnet publik untuk blockchain miliknya sendiri. Melalui testnet ini, developer bisa mengakses dokumentasi teknis, titik masuk jaringan, serta menggunakan tools standar Ethereum. Sejumlah mitra ekosistem seperti Alchemy dan LayerZero sudah mulai membangun di atas jaringan tersebut.
Peluncuran ini terjadi di tengah kondisi yang menantang. Pada kuartal IV, Robinhood mencatat pendapatan US$1,28 miliar, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar US$1,35 miliar. Pendapatan dari transaksi kripto turun menjadi US$221 juta, dari sebelumnya US$268 juta, seiring harga Bitcoin yang anjlok sekitar 23% dalam periode tersebut. Saham Robinhood juga terkoreksi dari level tertinggi sepanjang masa di Oktober, sejalan dengan pelemahan pasar kripto secara global.
Beralih dari Arbitrum ke Blockchain Sendiri
Robinhood pertama kali menghadirkan token saham AS untuk pengguna di Uni Eropa pada Juli 2025 melalui kerja sama dengan Arbitrum. Produk ini menawarkan perdagangan tanpa komisi untuk token yang merepresentasikan saham dan ETF AS. Kini, layanan tersebut telah mencakup lebih dari 1.000 token saham di wilayah Uni Eropa dan EEA.
Namun sejak awal, Robinhood memang berencana untuk berpindah ke blockchain miliknya sendiri. Menurut Robinhood, Arbitrum hanyalah langkah awal sebelum migrasi ke jaringan proprietary.
Alasan utamanya adalah fleksibilitas dan kontrol. Sebagian besar jaringan Layer 2 mengatur kepatuhan melalui smart contract, sementara Robinhood Chain menanamkan aspek regulasi langsung di level blockchain. Hal ini sangat penting untuk aset sekuritas yang ditokenisasi, karena aturan minting dan burning token saham berbeda di tiap negara.
Meski blockchain ini bersifat permissionless (siapa pun bisa membangun di atasnya), produk yang dikembangkan Robinhood tetap dirancang khusus untuk layanan keuangan yang teregulasi.
Dari Token Saham ke Aset Dunia Nyata (RWA)
Tokenisasi saham publik menjadi langkah awal, namun ambisi Robinhood jauh lebih luas. Ke depannya, Robinhood ingin mendukung tokenisasi aset dunia nyata (Real-World Assets/RWA) seperti private equity, properti, hingga karya seni.
Salah satu nilai tambah utama adalah perluasan jam perdagangan. Saat ini, token saham Robinhood bisa diperdagangkan 24 jam, 5 hari seminggu. Dengan migrasi ke Robinhood Chain, perusahaan menargetkan perdagangan 24/7, tanpa bergantung pada jam pasar tradisional.
Fitur lain yang sedang disiapkan meliputi penyelesaian instan (instant settlement), self-custody, serta integrasi dengan likuiditas DeFi dan protokol lending.
Fokus pada Developer dan Ekosistem DeFi
Dalam jangka pendek, Robinhood ingin menarik developer untuk membangun DEX, platform perpetual, dan protokol lending di Robinhood Chain. Produk-produk ini dinilai sejalan dengan bisnis broker dan kripto Robinhood saat ini.
Untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem, Robinhood akan menggelar hackathon di berbagai negara dengan total hadiah US$1 juta, dengan fokus utama pada aplikasi finansial berbasis blockchain.
Ekspansi Asia-Pasifik
Peluncuran testnet di Hong Kong bertepatan dengan ekspansi agresif Robinhood di kawasan Asia-Pasifik. Pada Juni 2025, Robinhood mengakuisisi Bitstamp senilai US$200 juta, yang memberikan akses ke lebih dari 50 lisensi global serta layanan crypto-as-a-service untuk institusi.
Melalui akuisisi ini, Robinhood kini memiliki lisensi di Singapura dan Indonesia, serta mengakuisisi dua perusahaan lokal untuk memperkuat kehadirannya di Indonesia. Dengan sekitar 13 juta pengguna kripto, Indonesia menjadi pasar prioritas.
Robinhood menyebut diskusi awal dengan regulator Indonesia berjalan positif, dengan fokus pada kepatuhan AML dan disclosure risiko, bukan penolakan terhadap ekspansi perusahaan.
Diversifikasi Sumber Pendapatan
Kinerja kuartal IV menegaskan tantangan utama Robinhood: ketergantungan besar pada pendapatan berbasis transaksi, khususnya dari perdagangan kripto. Untuk mengatasinya, perusahaan melakukan diversifikasi di berbagai lini.
- Staking kripto, yang diluncurkan di AS pada 2025, kini mengelola sekitar US$1 miliar aset.
- Robinhood Chain diharapkan membuka sumber pendapatan baru dari sisi infrastruktur.
- Robinhood meningkatkan fitur trading untuk menarik trader volume besar, dengan biaya serendah 0,03%.
- Kanal institusi melalui Bitstamp terus tumbuh, terutama karena institusi cenderung masuk pasar saat kondisi sedang lesu.
Di sisi lain, prediction market menjadi lini bisnis yang menonjol. CEO Robinhood, Vlad Tenev, menyebut produk ini sebagai sumber pendapatan dengan pertumbuhan tercepat, dengan 11 miliar kontrak diperdagangkan oleh lebih dari 1 juta pengguna.
Langkah Selanjutnya
Peluncuran testnet publik merupakan tahap awal dari roadmap Robinhood Chain. Perusahaan berencana memigrasikan produk token saham yang ada sebelum akhirnya meluncurkan mainnet, meski belum ada jadwal resmi.
“Visi kami tidak berubah: kami sedang membangun financial super app,” ujar Vlad Tenev dalam laporan kinerja kuartal IV Robinhood.
0 Comments