Rugi Rp2 Miliar dari Bisnis Umrah, Boby Tince Terpaksa Lepas Rumah dan Mobil

Rugi Rp2 Miliar dari Bisnis Umrah, Boby Tince Terpaksa Lepas Rumah dan Mobil

Aktor sekaligus komedian Boby Tince membagikan kisah pahit di balik kebangkrutan bisnis travel umrah yang sempat dirintisnya beberapa tahun terakhir. Usaha yang awalnya diharapkan menjadi sumber pendapatan baru di luar dunia hiburan itu justru berujung pada kerugian besar yang mencapai lebih dari Rp2 miliar. Kondisi tersebut memaksanya menjual sejumlah aset berharga demi menyelesaikan kewajiban kepada para jamaah dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.

Dalam sebuah wawancara yang tayang di kanal YouTube TRANS7 dan dikutip detikcom pada Minggu (17/5/2026), Boby mengungkapkan bahwa persoalan keuangan mulai muncul sejak tahun-tahun awal operasional perusahaan. Menurutnya, pemasukan yang diperoleh dari bisnis travel tidak mampu menutupi tingginya biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap bulan.

Sebagai perusahaan yang masih tergolong baru di industri perjalanan umrah dan haji, bisnis tersebut membutuhkan investasi besar untuk membangun kepercayaan publik. Berbagai kebutuhan seperti biaya sewa kantor, promosi, pemasaran, perekrutan sumber daya manusia, hingga penguatan merek menjadi beban yang harus ditanggung perusahaan sejak awal beroperasi.

“Branding, pembiayaan operasional kantor, tidak mencukupi dengan income yang didapat dari hasil travel. Apalagi travel baru kan gitu. Jadi kita nombokin terus nih tiap bulan, tiap bulan sampai akhirnya dua tahun berjalan sudah benar-benar nggak bisa lagi bergerak,” kata Boby.

Situasi yang sudah sulit tersebut semakin memburuk akibat berbagai persoalan eksternal yang terjadi secara beruntun. Boby mengaku menjadi korban penipuan yang melibatkan sejumlah pihak yang bekerja sama dengan perusahaan travel miliknya. Kerugian tidak hanya berasal dari vendor yang gagal memenuhi komitmen kerja sama, tetapi juga dari agen yang membawa kabur dana perusahaan serta sejumlah jamaah yang tidak menyelesaikan kewajiban pembayaran mereka.

Akumulasi berbagai masalah tersebut membuat kondisi keuangan perusahaan semakin terpuruk. Arus kas yang terus mengalami tekanan membuat operasional bisnis sulit dipertahankan. Pada akhirnya, Boby harus menghadapi kenyataan bahwa usaha yang dibangun dengan harapan besar itu tidak lagi mampu bertahan.

“Sempat ditipu juga sama vendor, dibawa kabur sama agen, dibawa kabur jamaah nggak bayar, pokoknya totalnya Rp2 miliar lebih,” ungkapnya.

Meski mengalami kerugian besar, Boby menegaskan dirinya tidak ingin lari dari tanggung jawab. Ia memilih untuk menyelesaikan seluruh kewajiban kepada para jamaah yang telah mempercayakan perjalanan ibadah mereka kepada perusahaannya. Langkah tersebut membuatnya harus menjual hampir seluruh aset yang dimiliki selama berkarier di dunia hiburan.

Dua unit rumah dan dua unit mobil yang sebelumnya menjadi hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun terpaksa dilepas. Hasil penjualan aset tersebut digunakan untuk menutupi berbagai kewajiban finansial yang masih tersisa. Namun demikian, Boby mengaku masih memiliki tanggungan sekitar Rp700 juta yang harus segera diselesaikan.

“Mobil dua, rumah dua. Sudah. Ini mungkin juga kalau misalnya ada yang beli, karena saya masih ada sisa yang harus diselesaikan Rp700 juta,” ujarnya.

Perjuangan Boby untuk melunasi utang dan mempertahankan kepercayaan para jamaah mendapat perhatian publik. Di tengah maraknya kasus gagal berangkat umrah yang beberapa kali terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, keputusan Boby untuk menjual aset pribadi demi memenuhi kewajibannya dinilai sebagai bentuk tanggung jawab yang jarang dilakukan oleh pelaku usaha yang mengalami kebangkrutan.

Akibat penjualan aset tersebut, kehidupan Boby berubah drastis. Ia tidak lagi tinggal di Jakarta seperti sebelumnya dan memilih menetap di kawasan yang lebih sederhana di Bogor. Meski harus meninggalkan kenyamanan hidup di ibu kota, ia mengaku lebih tenang menjalani keseharian bersama ibunda dan kedua anaknya.

Menurut Boby, fase sulit yang tengah dijalaninya menjadi pelajaran berharga tentang dunia bisnis yang penuh risiko. Ia menyadari bahwa popularitas di dunia hiburan tidak selalu menjamin kesuksesan saat terjun ke sektor usaha lain. Pengalaman tersebut mengajarkannya pentingnya pengelolaan keuangan, pengawasan terhadap mitra bisnis, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan yang bisa muncul sewaktu-waktu.

Kini, komedian berusia 41 tahun itu berusaha bangkit dari keterpurukan. Ia masih memiliki sebidang tanah di kampung yang menjadi harapan untuk memulai kembali kehidupannya dari awal. Dengan kondisi yang jauh lebih sederhana dibandingkan sebelumnya, Boby memilih fokus membangun masa depan bersama keluarga sambil perlahan menyelesaikan seluruh kewajiban yang masih tersisa.

“Alhamdulillah masih ada tanah di kampung sebelah. Lebih jauh lagi dari sini, cuma luasnya lebih kecil,” pungkasnya.

Meski harus kehilangan rumah, kendaraan, dan sebagian besar aset yang pernah dimilikinya, Boby mengaku tetap bersyukur karena masih memiliki keluarga yang mendukungnya dalam menghadapi masa-masa sulit. Baginya, menjaga nama baik dan menuntaskan tanggung jawab kepada para jamaah jauh lebih penting daripada mempertahankan kemewahan yang pernah dimiliki. Kisahnya menjadi pengingat bahwa dunia usaha tidak selalu berjalan sesuai rencana, namun tanggung jawab dan integritas tetap menjadi nilai yang harus dijaga dalam situasi apa pun.