Rupiah Melemah ke Rp17.981 per Dolar AS, Pasar Waspadai Kebijakan The Fed
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis pada penutupan perdagangan Selasa, 29 September 2026. Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Antara, rupiah turun 3 poin atau 0,02% menjadi Rp17.981 per dolar AS, dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.978 per dolar AS.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengalami pelemahan. JISDOR berada di level Rp17.998 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.965 per dolar AS.
Rupiah Tertekan Potensi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Analis Mata Uang Ibrahim Assuabi mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Menurutnya, kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan dari bank sentral AS.
Hal tersebut menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed pada 15-16 September 2026.
Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober mencapai sekitar 70%. Ekspektasi tersebut muncul setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan yang cenderung hawkish.
Jika suku bunga AS kembali meningkat, dolar AS berpotensi mendapat dukungan karena aset berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi investor. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian bagi pergerakan rupiah.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian Pasar
Pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Data Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan terbit pada Rabu, 30 September 2026. Selanjutnya, data ISM Manufacturing PMI akan dirilis pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Sementara itu, laporan Nonfarm Payrolls (NFP) dijadwalkan keluar pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Data-data tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Selain data ekonomi, pernyataan para pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian untuk melihat sinyal kebijakan bank sentral AS.
Perkembangan AS-Iran Turut Memengaruhi Rupiah
Selain kebijakan The Fed, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran juga menjadi perhatian pasar.
Potensi pembicaraan lanjutan antara kedua negara disebut menjadi bagian dari upaya untuk mengakhiri konflik. Pembicaraan tersebut diperkirakan berkaitan dengan proposal tujuh hari yang diajukan Iran pada pekan sebelumnya di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ibrahim menyebut proposal tersebut mencakup penghentian permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Perkembangan geopolitik tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar, terutama melalui pergerakan harga minyak dan aset safe haven.
Dengan demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menghadapi sejumlah tekanan. Pelaku pasar akan mencermati keputusan dan pernyataan The Fed serta data ekonomi AS untuk menentukan arah pergerakan dolar dan rupiah selanjutnya.
0 Comments