Banjir Thailand Rendam Bangkok, Ekonomi Terancam Kehilangan Rp5,8 Triliun

Banjir Thailand Rendam Bangkok, Ekonomi Terancam Kehilangan Rp5,8 Triliun

Banjir besar melanda sejumlah wilayah Thailand, termasuk ibu kota Bangkok, setelah hujan lebat mengguyur pada akhir pekan lalu. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke pusat-pusat evakuasi karena permukiman mereka masih terendam air.

Banjir Thailand tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap perekonomian. Kerugian ekonomi akibat bencana ini diperkirakan mencapai sedikitnya 11 miliar baht atau sekitar Rp5,8 triliun.

Curah hujan di sejumlah wilayah mencapai sekitar 320 milimeter dalam dua hingga tiga hari. Jumlah tersebut hampir setara dengan curah hujan yang biasanya diterima Thailand sepanjang September.

Banjir Thailand Bisa Tekan Pertumbuhan Ekonomi

Banjir diperkirakan turut mengurangi pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026.

Ekonom dari Departemen Ekonomi Universitas Rangsit, Aat Pisanwanich, memperkirakan banjir dapat memangkas 0,3 poin persentase pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Thailand tahun ini.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Thailand diperkirakan turun menjadi sekitar 2,1%. Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 juga diperkirakan mencapai 0,5 poin persentase, sehingga pertumbuhannya menjadi sekitar 1,7%.

Aat mengatakan dampak terbesar diperkirakan terjadi pada aktivitas perdagangan, terutama sektor grosir dan ritel di Bangkok serta wilayah timur Thailand. Sementara itu, sektor industri dan pertanian juga berpotensi mengalami gangguan di sejumlah wilayah lainnya.

Kondisi tersebut dapat membuat proses pemulihan ekonomi Thailand berjalan lebih lambat.

Lebih dari 80.000 Warga Terdampak Banjir

Sekretaris Tetap Kementerian Dalam Negeri Thailand Unsit Sampuntharat mengatakan lebih dari 80.000 warga yang tinggal di wilayah terdampak banjir belum dapat meninggalkan rumah mereka.

Pemerintah mengerahkan dapur umum keliling dan perahu untuk membantu masyarakat yang masih terisolasi akibat banjir.

Bangkok menjadi salah satu dari 41 provinsi di Thailand yang dilanda banjir sejak 16 September 2026. Bencana tersebut telah menyebabkan sedikitnya delapan orang meninggal dunia dan berdampak terhadap lebih dari 580.000 rumah.

Di Bangkok sendiri, sedikitnya 5.901 warga telah dipindahkan ke 234 pusat evakuasi.

Aktivitas Warga Bangkok Terganggu

Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup parah adalah Bang Kapi. Warga harus menerobos genangan air setinggi pinggang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Sejumlah pedagang bahkan tetap berusaha berjualan dengan menggunakan kotak plastik dan drum yang mengapung di atas air.

Kondisi geografis Bangkok turut membuat kota tersebut rentan terhadap banjir. Ibu kota Thailand itu berada di atas delta sungai dengan tanah lunak dan hanya sekitar 1,5 meter di atas permukaan laut.

Selain itu, Bangkok mengalami penurunan permukaan tanah beberapa milimeter setiap tahun. Kondisi tersebut membuat risiko banjir semakin besar ketika hujan deras terjadi dalam waktu singkat.

Waduk di Rayong Meluap

Dampak banjir juga terasa di wilayah timur Thailand. Provinsi pesisir Rayong menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian karena berbatasan dengan kawasan industri besar.

Pada 28 September 2026, otoritas setempat memerintahkan evakuasi warga setelah air banjir menyebabkan dua waduk melampaui kapasitasnya.

Wilayah Bangkok dan Thailand bagian timur diperkirakan menghadapi dampak ekonomi yang cukup besar, terutama terhadap kegiatan perdagangan dan distribusi barang.

Jika banjir berlangsung lebih lama, gangguan terhadap aktivitas bisnis, industri, pertanian, dan distribusi berpotensi meningkatkan kerugian ekonomi.

Ekonomi Thailand Sudah Mengalami Perlambatan

Banjir terjadi ketika pertumbuhan ekonomi Thailand masih menghadapi tekanan.

Ekonomi Thailand tumbuh 1,9% secara tahunan pada kuartal II 2026, turun dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 2,8%.

Thailand juga telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara sejak pandemi Covid-19.

Dengan adanya banjir yang meluas, aktivitas produksi, perdagangan, pertanian, serta konsumsi masyarakat berpotensi kembali terganggu.

Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai sedikitnya 11 miliar baht atau sekitar Rp5,8 triliun, tetapi angka tersebut masih dapat meningkat apabila kondisi banjir belum segera membaik.

Banjir Thailand Pernah Menelan Korban Besar

Thailand sebelumnya juga menghadapi banjir besar pada 2025. Banjir di wilayah selatan negara tersebut menewaskan sedikitnya 145 orang dan merendam lebih dari 33.000 rumah.

Bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas penting, termasuk sekolah, rumah sakit, dan jalan raya.

Situasi banjir terbaru menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih menjadi salah satu risiko yang dapat memengaruhi aktivitas sosial dan ekonomi Thailand.