Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS, Data Inflasi Jadi Pendorong Utama

Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS, Data Inflasi Jadi Pendorong Utama

Rupiah Menguat Terbatas ke Rp18.070 per Dolar AS, Pasar Nantikan Keputusan BI usai Inflasi AS Melandai

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Penguatan mata uang Garuda masih terbatas karena pelaku pasar terus mencermati perkembangan ekonomi global, terutama data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Mengutip Antara, rupiah menguat 21 poin atau 0,12% menjadi Rp18.070 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.091 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pergerakan rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.105 per dolar AS. Menurutnya, sentimen utama berasal dari melandainya inflasi AS yang mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat pada kisaran Rp18 ribu-Rp18.105 per dolar AS, dipengaruhi faktor global melandainya inflasi AS dan menurunnya yield obligasi pemerintah AS,” ujar Rully dikutip Antara.

Mengutip Anadolu, inflasi konsumen tahunan AS turun menjadi 3,5% pada Juni 2026 dari 4,2% pada Mei. Penurunan tersebut lebih baik dari ekspektasi pasar dan menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2020 karena harga energi mengalami koreksi tajam.

Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (CPI) AS turun 0,4% setelah sebelumnya naik 0,5% pada Mei. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat stagnan secara bulanan, sedangkan secara tahunan melambat menjadi 2,6% dari sebelumnya 2,9%.

Menurut Rully, melandainya inflasi AS dipicu oleh penurunan harga minyak dunia setelah tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran pada Juni lalu. Kondisi tersebut turut mengurangi tekanan inflasi dan meningkatkan optimisme bahwa The Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.

Turunnya inflasi juga mendorong pelemahan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Ketika yield Treasury turun, aset-aset negara berkembang seperti Indonesia cenderung menjadi lebih menarik bagi investor asing sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Selain itu, indeks dolar AS (DXY) juga bergerak lebih stabil setelah rilis data inflasi. Pelemahan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia ikut mengurangi tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

Meski demikian, pelaku pasar masih berhati-hati mengingat sejumlah pejabat The Fed masih menekankan pentingnya melihat perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja sebelum memutuskan perubahan kebijakan moneter. Oleh karena itu, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed diperkirakan tetap bergantung pada data ekonomi AS beberapa bulan ke depan.

Pasar Menunggu Keputusan Bank Indonesia

Dari dalam negeri, perhatian investor kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan menentukan arah suku bunga acuan.

Rully memperkirakan BI masih akan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi domestik tetap berada dalam sasaran.

Keputusan mempertahankan suku bunga juga dinilai sejalan dengan upaya BI menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar keuangan dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Selain suku bunga, pelaku pasar juga akan mencermati pernyataan Gubernur BI mengenai prospek inflasi, arus modal asing, serta langkah-langkah stabilisasi nilai tukar yang akan ditempuh bank sentral pada paruh kedua 2026.

Analis menilai, apabila BI memberikan sinyal optimistis terhadap stabilitas ekonomi domestik dan aliran modal asing kembali meningkat ke pasar obligasi maupun saham Indonesia, rupiah berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.

S&P Global Masih Jadi Sentimen Positif

Sehari sebelumnya, Selasa (14/7/2026), rupiah juga ditutup menguat. Mengutip Antara, mata uang Garuda naik 18 poin atau 0,10% menjadi Rp18.091 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.109 per dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia turut menguat menjadi Rp18.099 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.131 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan rupiah didorong respons positif pasar terhadap laporan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.

S&P memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 5% per tahun dalam tiga tahun mendatang. Menurut lembaga pemeringkat tersebut, prospek pertumbuhan didukung oleh kebijakan fiskal, reformasi ekonomi, serta program hilirisasi yang dinilai mampu meningkatkan nilai tambah ekspor dan penerimaan negara.

Selain itu, S&P menilai fundamental Indonesia tetap kuat karena memiliki rasio utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat kredit serupa.

Tantangan Ekonomi Masih Membayangi

Meski prospek ekonomi dinilai positif, S&P tetap mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia memang tumbuh sekitar 5,6%. Namun, pertumbuhan tersebut dibarengi gejolak di pasar keuangan. Selama semester I 2026, pasar saham kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar, sementara rupiah sempat melemah sekitar 7% terhadap dolar AS.

Untuk keseluruhan tahun 2026, S&P memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1%, didukung konsumsi domestik dan investasi. Namun, lembaga tersebut memperkirakan laju pertumbuhan akan sedikit melambat pada kuartal-kuartal berikutnya akibat ketidakpastian global dan masih tingginya suku bunga.

Dari sisi eksternal, pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran setelah meningkatnya ketegangan dengan Teheran. Washington juga berencana mengenakan biaya sebesar 20% terhadap kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kebijakan keamanan maritim.

Analis menilai, setiap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia. Jika harga energi kembali meningkat, tekanan inflasi global bisa naik lagi dan memengaruhi arah kebijakan bank-bank sentral dunia, termasuk The Fed. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan, meski untuk saat ini sentimen dari inflasi AS yang melandai masih menjadi faktor utama yang menopang pergerakan mata uang Indonesia.