Surplus Neraca Dagang Februari 2026 Meningkat, BI: Perkuat Ekonomi

Surplus Neraca Dagang Februari 2026 Meningkat, BI: Perkuat Ekonomi

Surplus Neraca Dagang Berlanjut, Sinyal Ketahanan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di 2026

Bank Indonesia menyambut positif kinerja neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus pada Februari 2026. Capaian ini memperkuat optimisme bahwa sektor eksternal Indonesia masih mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar USD 1,27 miliar. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD 0,95 miliar, sekaligus melanjutkan tren positif yang telah berlangsung sejak pertengahan 2020.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menilai tren surplus ini menjadi indikator penting bagi stabilitas ekonomi nasional.

“Surplus yang terus berlanjut menunjukkan kondisi sektor eksternal Indonesia tetap solid di tengah dinamika global,” ujarnya.

Tren Surplus Panjang: 70 Bulan Berturut-turut

Capaian Februari 2026 ini juga memperpanjang tren surplus neraca dagang Indonesia menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Ini merupakan salah satu periode surplus terpanjang dalam sejarah perdagangan Indonesia, mencerminkan daya tahan ekspor nasional.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–Februari 2026 mencatat surplus sebesar USD 2,23 miliar. Surplus ini terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatat keunggulan signifikan dibandingkan sektor migas yang masih mengalami defisit.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa struktur perdagangan Indonesia masih sangat bergantung pada kinerja ekspor komoditas nonmigas.

“Hingga Februari 2026, surplus ditopang oleh nonmigas sebesar USD 5,42 miliar, sementara migas masih defisit USD 3,19 miliar,” jelasnya.

Sektor Nonmigas Jadi Tulang Punggung

Surplus pada Februari 2026 sebagian besar berasal dari sektor nonmigas yang mencatat surplus sebesar USD 2,19 miliar, dengan total ekspor mencapai USD 21,09 miliar.

Kinerja ekspor ini didorong oleh kombinasi komoditas berbasis sumber daya alam dan produk manufaktur, di antaranya:

  • Lemak dan minyak hewani/nabati (termasuk kelapa sawit)

  • Bahan bakar mineral

  • Besi dan baja

  • Nikel dan turunannya

  • Produk kimia dan manufaktur

  • Kendaraan dan komponen otomotif

Selain itu, sektor industri pengolahan menunjukkan performa yang semakin kuat. Pada periode Januari–Februari 2026, nilai ekspor industri pengolahan mencapai USD 37,06 miliar atau tumbuh 6,69% secara tahunan (year-on-year). Hal ini menunjukkan adanya peningkatan nilai tambah ekspor Indonesia, tidak hanya bergantung pada bahan mentah.

China, AS, dan India Masih Dominan

Dari sisi negara tujuan ekspor, tiga negara utama masih menjadi penyumbang terbesar, yaitu:

  • China

  • Amerika Serikat

  • India

Ketiga negara tersebut berkontribusi sekitar 43,85% terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.

China tetap menjadi pasar utama dengan nilai ekspor mencapai USD 10,46 miliar (24,69%). Komoditas utama yang diekspor ke China meliputi besi dan baja, nikel, serta bahan bakar mineral.

Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh produk manufaktur seperti mesin listrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesoris. Adapun ekspor ke India banyak didorong oleh komoditas energi dan bahan baku industri.

Defisit Migas Menyempit

Di sisi lain, sektor migas masih mencatat defisit, namun menunjukkan perbaikan. Pada Februari 2026, defisit migas turun menjadi USD 0,92 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya impor energi, sejalan dengan stabilisasi harga minyak global dan kebijakan efisiensi energi domestik.

Langkah pemerintah dalam mendorong penggunaan energi alternatif serta peningkatan produksi domestik juga mulai memberikan dampak terhadap pengurangan ketergantungan impor migas.

Impor Meningkat, Sinyal Aktivitas Ekonomi Menguat

Secara kumulatif, nilai impor Indonesia hingga Februari 2026 mencapai USD 42,09 miliar, meningkat 14,44% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan impor ini justru menjadi sinyal positif karena didorong oleh:

  • Impor barang modal (naik 34,44% menjadi USD 9,10 miliar)

  • Impor bahan baku/penolong (naik 9,27% menjadi USD 29,40 miliar)

Peningkatan ini mencerminkan aktivitas industri dan investasi yang mulai meningkat, yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.

Dari sisi negara asal impor, China masih menjadi pemasok utama dengan kontribusi 42,46%, diikuti oleh Australia dan Singapura.

Tantangan Global Masih Membayangi

Meski kinerja neraca dagang tetap positif, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan global, seperti:

  • Perlambatan ekonomi di beberapa negara mitra dagang utama

  • Fluktuasi harga komoditas global

  • Ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok

  • Kebijakan proteksionisme di sejumlah negara

Namun demikian, diversifikasi pasar ekspor dan hilirisasi industri yang terus didorong pemerintah menjadi strategi penting untuk menjaga ketahanan ekonomi.

Prospek ke Depan

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dengan tren surplus yang berlanjut, penguatan sektor industri, serta perbaikan struktur ekspor, sektor eksternal Indonesia diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang utama stabilitas ekonomi nasional sepanjang 2026.