Update Harga Pangan: Cabai Rawit Merah Dibanderol Rp57.250 per Kg

Update Harga Pangan: Cabai Rawit Merah Dibanderol Rp57.250 per Kg

Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Merah Tembus Rp57.250 per Kg, Telur Ayam Ras Rp28.600 per Kg

Harga sejumlah komoditas pangan strategis masih menunjukkan tren tinggi. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI), harga cabai rawit merah mencapai Rp57.250 per kilogram (kg) pada Senin (13/7/2026) pukul 10.30 WIB. Sementara itu, harga telur ayam ras berada di level Rp28.600 per kg.

Data PIHPS yang dikutip dari Antara juga menunjukkan harga cabai merah besar berada di Rp46.250 per kg, cabai merah keriting sebesar Rp44.850 per kg, serta cabai rawit hijau mencapai Rp50.550 per kg.

Selain cabai, harga bawang merah tercatat Rp44.750 per kg, sedangkan bawang putih berada di Rp43.900 per kg di tingkat pedagang eceran secara nasional.

Untuk komoditas beras, beras kualitas bawah I dibanderol Rp14.700 per kg dan beras kualitas bawah II sebesar Rp14.650 per kg. Sementara itu, beras kualitas medium I dijual Rp16.300 per kg, medium II Rp16.250 per kg, beras kualitas super I Rp17.550 per kg, serta super II Rp17.100 per kg.

Harga protein hewani juga relatif stabil. Daging ayam ras segar dijual Rp36.800 per kg, daging sapi kualitas I mencapai Rp149.550 per kg, sedangkan daging sapi kualitas II berada di Rp142.600 per kg.

Adapun gula pasir premium tercatat Rp20.000 per kg, sementara gula pasir lokal dijual Rp19.050 per kg.

Untuk komoditas minyak goreng, minyak goreng curah dipatok Rp20.550 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I sebesar Rp23.800 per liter, dan kemasan bermerek II berada di Rp23.200 per liter.

Meski harga cabai masih berada di level tinggi, harga telur ayam ras terpantau masih berada di bawah Rp30.000 per kg. Kondisi ini menunjukkan pergerakan harga pangan masih bervariasi antar komoditas, dipengaruhi faktor pasokan, cuaca, hingga biaya distribusi.

Purbaya: Inflasi Juni 2026 Dipicu Harga BBM dan Pangan

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan inflasi mulai mereda dalam beberapa bulan mendatang. Menurutnya, kenaikan harga saat ini lebih banyak dipicu oleh kelompok volatile food atau pangan bergejolak serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), bukan akibat meningkatnya permintaan masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa harga komoditas pangan seperti cabai bersifat musiman sehingga berpotensi kembali turun ketika pasokan membaik. Selain itu, penurunan harga minyak dunia dinilai dapat membuka peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi sehingga tekanan inflasi ikut berkurang.

“Tapi sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga Pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” kata Purbaya.

Purbaya juga menekankan bahwa inflasi inti (core inflation) masih berada di level 2,76 persen, sehingga mencerminkan kondisi permintaan domestik yang tetap terkendali.

“Basically begitu, kita lihat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya masih relatif terkendali,” ujarnya.

Kenaikan Harga Dinilai Bersifat Sementara

Menurut Purbaya, stabilnya inflasi inti menjadi indikator bahwa lonjakan harga yang terjadi saat ini tidak berasal dari sisi permintaan masyarakat, melainkan dipengaruhi faktor-faktor sementara seperti harga energi dan pangan.

“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” katanya.

Berdasarkan data BPS, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar pada Juni 2026 dengan tingkat inflasi 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.

Kenaikan harga bensin menjadi kontributor utama kelompok transportasi dengan andil 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.

Di sisi lain, perkembangan harga pangan akan terus menjadi perhatian pemerintah mengingat komoditas seperti cabai, bawang, beras, dan minyak goreng memiliki kontribusi besar terhadap inflasi kelompok makanan. Pemerintah bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Pusat maupun Daerah (TPIP dan TPID) terus memperkuat langkah stabilisasi pasokan dan distribusi pangan melalui operasi pasar, penguatan cadangan pangan, serta koordinasi antardaerah untuk menjaga ketersediaan komoditas dan mengendalikan gejolak harga. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap inflasi tetap berada dalam kisaran yang terkendali dan daya beli masyarakat dapat terus terjaga.