Zepto Ajukan IPO Rp 20 Triliun, Persaingan Quick Commerce India Semakin Ketat
Startup Quick Commerce India Zepto Ajukan IPO Rahasia di Tengah Ketatnya Persaingan dan Tekanan Kerugian
Startup perdagangan cepat atau quick commerce asal India, Zepto, resmi mengajukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) melalui jalur rahasia kepada regulator pasar modal India. Langkah ini dilakukan di saat industri pengiriman super cepat menghadapi tantangan besar, mulai dari persaingan yang semakin ketat hingga kekhawatiran pembengkakan kerugian akibat pembakaran dana yang agresif.
Dalam pernyataan publik yang dirilis pada Minggu waktu setempat, Zepto mengonfirmasi telah menyerahkan draf dokumen IPO secara rahasia. Perusahaan berencana menghimpun dana sekitar 110 miliar rupee, setara dengan USD 1,22 miliar atau sekitar Rp 20,01 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.680 per dolar AS). Informasi ini dilaporkan oleh CNBC pada Rabu (31/12/2025).
Pengajuan IPO melalui mekanisme rahasia memungkinkan Zepto untuk menunda pengungkapan detail keuangan dan strategi bisnis hingga proses IPO memasuki tahap lanjutan. Skema ini kerap dipilih perusahaan teknologi besar untuk menjaga fleksibilitas di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Meski telah mengonfirmasi pengajuan tersebut, Zepto belum mengungkap jadwal pasti IPO maupun struktur penawaran saham. Berdasarkan data perusahaan riset Tracxn, Zepto terakhir kali mencatat valuasi sekitar USD 7 miliar atau setara Rp 116,73 triliun dalam putaran pendanaan pada Oktober lalu, menjadikannya salah satu startup teknologi dengan valuasi tertinggi di India.
Pertumbuhan Pesat Quick Commerce di India
Model bisnis quick commerce, yang menjanjikan pengiriman kebutuhan harian seperti makanan, minuman, dan barang rumah tangga dalam waktu 10 hingga 15 menit, mengalami pertumbuhan pesat di India dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan dan meningkatnya penggunaan aplikasi digital mendorong permintaan layanan serba cepat ini.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, industri ini juga dihadapkan pada tingkat persaingan yang sangat tinggi. Perusahaan harus membangun jaringan gudang mikro (dark store) dekat kawasan permukiman padat, yang membutuhkan investasi besar dan biaya operasional tinggi.
Amazon dan Raksasa E-Commerce Ikut Masuk
Persaingan semakin sengit dengan masuknya pemain global. Amazon, raksasa e-commerce asal Amerika Serikat, semakin agresif menggarap pasar quick commerce India. Selain layanan same-day delivery melalui Amazon Fresh, Amazon juga meluncurkan layanan Amazon Now pada Juni lalu dengan target pengiriman hanya 15 menit.
Saat ini, Amazon Now telah beroperasi di tiga kota besar India, yaitu Mumbai, Delhi, dan Bengaluru. Country Manager Amazon India, Samir Kumar, menyatakan bahwa perusahaan menargetkan pembangunan lebih dari 300 pusat pemenuhan mikro di ketiga kota tersebut hingga akhir tahun.
Menurut Wakil Presiden Eksekutif Elara Capital, Karan Taurani, saat ini quick commerce baru menyumbang sekitar 10% dari total pasar e-commerce India. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, kontribusinya diperkirakan bisa melonjak ke kisaran 40% hingga 50%.
“Potensi pertumbuhannya sangat besar, tetapi persaingannya juga ekstrem,” ujar Taurani.
Selain Amazon, Flipkart milik Walmart juga telah meluncurkan layanan serupa sejak 2024. Di sisi lain, pemain lokal seperti Swiggy, Zomato, serta unit quick commerce Blinkit, telah lebih dulu membangun jaringan luas di berbagai kota besar India.
Perang Harga dan Beban Operasional Tinggi
Dalam tiga hingga lima tahun terakhir, banyak perusahaan quick commerce terlibat dalam perang harga demi merebut pangsa pasar. Diskon besar-besaran, ongkos kirim murah, serta ekspansi gudang mikro membuat biaya operasional melonjak tajam.
Meski industri ini masih menarik minat investor, tanda-tanda tekanan mulai terlihat. Awal bulan ini, Swiggy berhasil menghimpun 100 miliar rupee dari investor institusional untuk memperluas jaringan gudangnya di kawasan permukiman padat. Namun, tidak semua pelaku industri optimistis terhadap keberlanjutan model bisnis tersebut.
Kerugian Membengkak dan Kekhawatiran Gelembung
CEO Blinkit, Albinder Dhindsa, sebelumnya memperingatkan potensi terjadinya masalah struktural di sektor quick commerce. Menurutnya, industri ini masih sangat bergantung pada pendanaan berkelanjutan untuk menutup kerugian yang besar.
Data keuangan menunjukkan tekanan yang nyata. Kerugian Zepto pada tahun fiskal 2025 melonjak menjadi 33,67 miliar rupee, naik tajam dari 12,15 miliar rupee pada tahun sebelumnya. Sementara itu, berdasarkan data LSEG, Swiggy mencatat kerugian bersih 31,17 miliar rupee pada tahun fiskal 2025, meningkat dari 23,50 miliar rupee setahun sebelumnya.
Berbeda dengan para pesaingnya, Eternal, perusahaan induk Zomato dan Blinkit, justru berhasil mencatat laba bersih 5,27 miliar rupee pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa profitabilitas masih mungkin dicapai, meski tidak mudah.
“Jika perusahaan tidak segera beralih ke jalur profitabilitas, risiko terjadinya gelembung ekonomi tidak bisa dihindari,” kata Taurani.
IPO Zepto Jadi Ujian Penting
IPO Zepto dinilai sebagai uji pasar penting bagi industri quick commerce di India. Keberhasilannya akan menjadi indikator apakah investor masih percaya pada potensi jangka panjang sektor ini, atau justru mulai bersikap lebih selektif di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait pembakaran dana dan keberlanjutan bisnis.
Bagi industri quick commerce secara keseluruhan, langkah Zepto menuju pasar saham publik dapat menjadi penentu arah masa depan: apakah sektor ini siap memasuki fase yang lebih matang dan berorientasi laba, atau masih harus menghadapi periode konsolidasi yang panjang.
0 Comments