Harga Beras Turun, Bantu Tekan Deflasi — Pemerintah Klaim Stabilisasi Berhasil
Harga Beras Turun, Bantu Tekan Deflasi – Pemerintah Klaim Stabilisasi Berhasil
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa program stabilisasi harga pangan berhasil menekan gejolak harga beras. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada September 2025 harga beras justru mengalami deflasi 0,13 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).
“Padahal cabai dan bawang masih memberi tekanan inflasi, tetapi beras justru berkontribusi pada deflasi. Ini bukti bahwa stabilisasi harga mulai menunjukkan hasil,” ujar Arief dalam keterangan resmi, Jumat (3/10/2025).
Program SPHP dan Bantuan Pangan Jadi Penopang
Menurut Arief, penyaluran beras melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar tradisional, ritel modern, hingga berbagai jalur distribusi lain telah menjaga ketersediaan beras di masyarakat. Dengan stok yang terjaga, harga bisa lebih stabil dan tidak melonjak tinggi seperti di awal tahun.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras selama dua bulan terakhir kepada 18,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Program ini bukan hanya membantu masyarakat kecil, tetapi juga ikut menahan laju permintaan di pasar terbuka sehingga harga lebih terkendali.
Harga Beras Mulai Turun
Berdasarkan data Panel Harga Pangan Bapanas per 1 Oktober 2025:
- Harga beras premium rata-rata nasional turun 0,08 persen, dari Rp16.011/kg menjadi Rp15.982/kg.
- Harga beras medium turun 0,15 persen, dari Rp13.887/kg menjadi Rp13.856/kg.
Penurunan ini meski tipis, dianggap penting karena beras adalah komoditas pangan utama masyarakat Indonesia, sehingga setiap kenaikan atau penurunan harga berdampak langsung terhadap inflasi nasional.
Realisasi Penyaluran Beras
- Penjualan beras SPHP sudah mencapai 424.520 ton atau 28,17 persen dari target nasional tahun 2025 sebesar 1,5 juta ton.
- Penyaluran bantuan pangan beras untuk periode Juni–Juli 2025 tercatat 363.959 ton, atau hampir 100 persen (99,57 persen) dari target 365.541 ton.
Tantangan ke Depan
Meski harga beras mulai turun, pemerintah tetap menghadapi sejumlah tantangan:
- Fenomena iklim El Nino–La Nina yang memengaruhi produksi beras di sejumlah daerah.
- Ketergantungan pada impor beras untuk menjaga stok, terutama menjelang akhir tahun.
- Fluktuasi harga pangan lain seperti cabai, bawang, dan daging yang masih menjadi penyumbang inflasi.
Arief menegaskan pemerintah akan terus memperkuat kerja sama dengan Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk memastikan pasokan beras aman hingga akhir 2025. “Kami akan terus dorong operasi pasar, distribusi SPHP, dan percepatan penyaluran bantuan agar masyarakat merasakan langsung dampaknya,” katanya.
Dampak ke Masyarakat
Turunnya harga beras memberikan angin segar bagi rumah tangga, terutama kelompok menengah ke bawah yang menjadikan beras sebagai kebutuhan pokok harian. Dengan deflasi beras, beban pengeluaran sedikit berkurang, meskipun harga pangan lain masih bergejolak.
Jika tren penurunan beras bisa bertahan hingga akhir tahun, pemerintah optimistis inflasi pangan akan tetap terkendali sesuai target nasional di kisaran 2,5 ± 1 persen.
0 Comments